I. SURAH AL-‘ALAQ : 1-5
TERJEMAH :
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
PENJELASAN BEBERAPA KOSA KATA
: Merupakan bentuk fi’l ul-amr (perintah), ia berasal dari akar kata qara’a yang pada awalnya mengandung arti menghimpun. Dari akar kata tersebut muncul beberapa makna berikut: menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu – semuanya bermuara pada arti menghimpun.
: Darah yang membeku dan menggantung.
: Kemuliaan
: Berasal dari akar kata qalama yang mengandung arti memotong ujung sesuatu. Hal ini dapat dimengerti, sebab pada awalnya alat menulis (qalam) itu terbuat dari suatu bahan yang dipotong dan diperuncing ujungnya.
PENJELASAN
Sebagaimana tercatat dalam buku Sirah Ibnu Hisyam, Nabi Muhammad melakukan kontemplasi ketika mulai menginjak usia 36 tahun. Nabi mulai melakukan kontemplasi pada saat melihat tatanan masyarakat di sekitarnya yang sudah rusak, manusia terasing dengan kemanusiaannya. Beliau melakukan kontemplasi bukan sekadar mengasingkan diri, tetapi mempunyai tujuan untuk mencari solusi bagaimana mengubah tatanan masyarakat. Di samping itu, beliau melakukan prosesi pencarian kebenaran secara tulus tanpa terbelenggu oleh pembatasan yang kita ciptakan sendiri. Pencarian ini tidak mungkin dilakukan dalam semangat komunal dan sektarian. Ia harus bebas dari setiap kemungkinan pengekangan ruhani (sikap alami manusia yang memihak kepada yang benar dan yang baik, dengan lapang dada, toleran, dan tanpa kefanatikan sebagai kelanjutan fitrahnya yang suci).
Pada saat Muhammad mencari kebenaran, beliau memulainya dengan cara penyucian jiwa. Muhammad menyadari bahwa dengan melakukan upaya penyucian jiwa akan memudahkan dalam menemukan pencerahan batin. Kenyataan tersebut telah menjadikan dirinya siap melakukan komunikasi rahasia dengan malaikat Jibril. Dalam beberapa hadits dikisahkan bahwa nabi sering bermimpi sebelum mendapat wahyu pertama. Hal tersebut merupakan sinyal-sinyal ilahiyah akan turunnya wahyu melalui malaikat Jibril, hingga akhirnya nabi mampu menangkap penampakan Jibril, sebagaimana digambarkan dalam surah an-Najm. Jika Muhammad langsung menerima wahyu, kemungkinan besar beliau tidak mampu menangkap sinyal-sinyal Ilahi secara sempurna. Kenyataan tersebut sekaligus sebagai petunjuk bagi pengikut Nabi Muhammad agar senantiasa melakukan upaya penyucian jiwa, hingga ia mampu menangkap sinyal-sinyal Ilahi dalam bentuk ilham.
Ketika usia Nabi menginjak 40 tahun, seperti biasa beliau melakukan kontemplasi di Gua Hira. Beliau dikagetkan oleh kedatangan Jibril yang tiba-tiba menyuruhnya untuk membaca. Kalau kita merenung sejenak, bukankah Nabi saat itu berada di Gua Hira dan waktu malam? Sudah dapat dipastikan suasananya pastilah gelap—gulita. Tetapi mengapa Jibril menyuruh Nabi membaca? Apakah Jibril membawa bacaan yang tertulis dalam secarik kertas? Dapatkah beliau membaca sesuatu dalam keadaan gelap gulita?
Akhirnya terjadi tarik-ulur antara Jibril dan Muhammad, dan menurut riwayat kejadian tersebut berulang hingga tiga kali. karena Jibril mengerti kondisi Muhammad, perintah dan pelukannya itu sebagai upaya agar Muhammad dapat menenangkan diri dan tidak merasa ragu akan apa yang bakal diterimanya. Sebab kalau ia langsung diajari surah al-‘Alaq, Muhammad akan merasa ragu kalau itu berasal dari Tuhan, atau malah akan menganggap dirinya dalam keadaan tidak sadar atau hanya sebagai mimpi belaka.
Dengan demikian prosesi tarik-ulur itu bertujuan agar Nabi betul-betul menyadari bahwa la sedang berhadapan dengan utusan Tuhan, yang mengabarinya tentang kenabian, la tidak dalam keadaan bermimpi.
Ayat pertama dari wahyu pertama adalah “Bacalah dengan nama Tuhanmu,” tentu akan muncul pertanyaan “apa yang harus dibaca?” Ditinjau dari prespektif kebahasaan, jika satu ungkapan tidak disebutkan obyeknya, maka ia menunjukkan umum, mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut, seperti alam raya dan masyarakat. Dengan demikian, Tuhan menyuruh Nabi agar membaca ayat-ayat Tuhan yang tertulis (qur’aniyyah) ataupun ayat-ayat yang tercipta (qauniyyah). Tetapi yang paling penting dan menjadi titik tekan ayat tersebut adalah pembacaan tersebut haruslah dilandasi atas nama Tuhan, Dengan pembacaan itu menjadikan beliau sadar akan kefakiran diri di hadapan Allah.
Apabila ayat tersebut dihubungkan dengan ayat kedua, tampak bahwa yang harus dibaca Nabi pada khususnya dan manusia pada umumnya adalah diri sendiri: “Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. Secara tersirat, ayat kedua ini menuntut manusia agar membaca dirinya, sehingga muncul kembali pertanyaan abadi yang terkadang sudah dilupakan manusia, yaitu siapakah, dari manakah, hendak ke mana aku? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang jika direnungkan terus-menerus akan melahirkan kesadaran kehambaan seseorang.
Pada ayat selanjutnya, Tuhan menyatakan, “Bacalah, dan Tuhanmu yang Mahamulia”. Menurut Ash-Shabuni, pengulangan kata iqra’ berfungsi untuk memberikan semangat terhadap aktivitas membaca pengetahuan. Senada dengan pendapat tersebut, Wahbah menyebutkan bahwa pengulangan tersebut sebagai penegasan terhadap arti pentingnya membaca. Sementara itu, menurut Quraish Shihab, iqra’ pada ayat ini menunjukkan konsekuensi logis dari iqra’ pada ayat pertama. Artinya, kemuliaan Tuhan akan segera tercurahkan bagi siapa saja yang sudah melakukan pembacaan terhadap dirinya, baik melalui ayat qur’aniyyah dan ayat qauniyyah.
Di samping kata iqra’ yang terulang dua kali, kata insan pun terulang dua kali. Pertama, manusia dalam kontek berhadapan dengan Tuhan, sebagai makhluk yang diciptakan, yakni diciptakan dari segumpal darah. Kedua, manusia sebagai makhluk yang menerima pelajaran, yang memperoleh pengetahuan, dengan perantaraan suatu alat (qalam). Ayat terakhir menyebut satu proses perpindahan dari keadaan tidak tahu menjadi tahu. Dalam hal ini, tampak satu pengingatan kesadaran bahwa manusia bukan hanya sekadar makhluk biologis, tetapi juga makhluk makhluk ruhani (makhluk yang harus mengejewantahkan nama-nama Tuhan dalam pentas kehidupannya).
Adapun kemuliaan yang akan didapat oleh manusia yang melakukan pembacaan tersebut dapat terwujud dalam dua bentuk, yakni Allah akan mengajarkan kepadanya al-qalam yang termaktub pada ayat 4 dan Allah akan mengajarkan kepadanya sesuatu yang tidak diketahui manusia, yang termaktub pada ayat 5.
REFLEKSI
Jika lima ayat pada surah ini dikaitkan dengan pendidikan, maka terdapat beberapa titik temu sebagai berikut:
Pertama, dalam kontek ini, Muhammad berperan sebagai seorang murid, sebab beliau adalah orang yang mencari sesuatu petunjuk dengan jalan kontemplasi dan semangat yang tinggi. Dari sini dapat ditarik satu kesimpulan bahwa seharusnya seorang murid mempunyai semangat mencari ilmu dan mengawalinya dengan upaya penyucian jiwa, sehingga muncul dalam dirinya sikap tawadhu yang akan memudahkan dirinya dalam pembelajaran.
Kedua, malaikat yang dalam kontek surah ini berperan sebagai asisten Allah (guru), tidak serta merta memberikan pengajaran kepada Muhammad, tetapi ia terlebih dahulu memberikan pertanyaan dengan tujuan agar beliau betul-betul menyadari bahwa dirinya dalam keadaan terjaga. Sehingga ketika menerima pengajaran tersebut la akan merasa yakin bahwa apa yang diterimanya merupakan kebenaran. Jika dikaitkan dengan pendidikan, dari sini terlihat bahwa inti dari peristiwa tersebut adalah menuntut agar seorang guru tidak secara langsung memberikan pengajaran kepada murid. Terlebih dahulu guru harus mencairkan suasana sehingga memudahkan murid dalam mencerna pelajaran yang disampaikan seorang guru.
Ketiga, dalam lima ayat dari surah al-‘Alaq terdapat empat hal yang bisa dijadikan pijakan dalam pembelajaran. Keempat hal tersebut adalah:
Pada tahap awal, pelajaran yang harus disampaikan adalah hal-hal yang bersifat indrawi (aladzi khalaq).
Setelah anak didik mengetahui hal-hal yang bersifat indrawi, pembelajarannya harus ditingkatkan kepada masalah-masalah yang bersifat abstrak dan spiritual (khalaq al-insan).
Setelah anak didik mampu menguasai kedua hal tersebut, maka langkah berikutnya adalah proses pembelajaran yang berujung pada kemampuan menuliskan gagasan. Sebab, apa yang dipahami, baik yang kasat mata atau yang tak kasat mata, ia kurang begitu berkaitan kalau tidak dituangkan dalam bentuk tulisan yang akan menjadi khazanah keilmuan (‘allama bil-qalam).
Setelah tiga tahapan terlewati, maka tahap akhir adalah pembelajaran yang berkaitan dengan upaya-upaya yang akan meningkatkan seseorang untuk mendapatkan pengetahuan secara langsung dari Allah (‘allam al-insana ma lam ya’lam).
V. KEWAJIBAN BELAJAR MENGAJAR
1. Surah al-Ankabut: 19-20
أَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ يُبْدِئُ اللَّهُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (19) قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ
فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآَخِرَةَ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (20)
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali)”.
“Sesungguhnya.yang demikian itu mudah bagi Allah. (QS. 29: 99) Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya.Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS 29: 20”).
Dari ayat tersebut di atas (al-Ankabut: 20) memerintahkan untuk:
1. Melakukan perjalanan, dengannya seseorang akan menemukan banyak pelajaran berharga baik melalui ciptaan Allah yang terhampar dan beraneka ragam, maupun dari peninggalan lama yang masih tersisa puing-puingnya.
2. Melakukan pembelajaran, penelitian, dan percobaan (eksperimen) dengan menggunakan akalnya untuk sampai kepada kesimpulan bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini, dan bahwa di balik peristiwa dan ciptaan itu, wujud satu kekuatan dan kekuasaan Yang Maha Besar
2. Surat al-‘Alaq (ayat 1-5)
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3)
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
Kaitan dengan pendidikan:
1. Iqra` bisa berarti membaca atau mengkaji. sebagai aktivitas intelektual dalam arti yang luas, guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi segala pemikirannya itu tidak boleh lepas dari Aqidah Islam, karena iqra` haruslah dengan bismi rabbika
2. Kata al-qalam adalah simbol transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, nilai dan keterampilan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kata ini merupakan simbol abadi sejak manusia mengenal baca-tulis hingga dewasa ini. Proses transfer budaya dan peradaban tidak akan terjadi tanpa peran penting tradisi tulis–menulis yang dilambangkan dengan al-qalam.
Hubungan agama dan iptek? Secara garis besar, berdasarkan tinjauan ideologi yang mendasari hubungan keduanya, terdapat 3 (tiga) jenis paradigma
1. Paradagima sekuler: paradigma yang memandang agama dan iptek adalah terpisah satu sama lain. Sebab, dalam ideologi sekularisme Barat,agama telah dipisahkan dari kehidupan (fashl al-din ‘an al-hayah). Eksistensi agama tidak dinafikan hanya dibatasi perannya.
2. Paradigma sosialis, yaitu paradigma dari ideologi sosialisme yang menafikan eksistensi agama sama sekali. Agama itu tidak ada, dus,tidak ada hubungan dan kaitan apa pun dengan iptek.
3. Paradigma Islam, yaitu paradigma yang memandang bahwa agama adalah dasar dan pengatur kehidupan
1. Surah At-Taubah ayat 122
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا
قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (122)
"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang muKmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapaorang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya".
Syarh dan Tafsir singkat
Ayat ini memberi anjuran tegas (tah}d}>id}) kepada umat Islam agar ada sebagian dari umat Islam untuk memperdalam agama. Dalam S}afwah al-Tafsi>r dikatakan bahwa yang dimaksud kata tafaqquh fi al-di>n adalah menjadi seorang yang mendalam ilmunya dan selalu memiliki tanggung jawab dalam pencarian ilmu Allah.
Dengan demikian menurut tafsir ini dalam sistem pendidikan Islam tidak dikenal dikhotomi pendidikan, karena akan menimbulkan dampak sebagai berikut :
1. Kesenjangan antara sistem pendidikan Islam dan ajaran Islam yang memisahkan antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum (Kuntowijoyo, 1991: 352);
2. Disintregasi sistem pendidikan Islam;
Pertemuan Pertama ini akan membahas tentang ayat-ayat yang berkenaan dengan kewajiban belajar dan mengajar. Ayat-ayat yang akan dibahas berkaitan dengan topik tersebut adalah;
1. QS. Al-Alaq/96: 1-5
بسم الله الرحمن الرحيم
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
2. QS. Al-Ghasyiyah/ 88 :17-20
أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ (20)
3. QS. Ali Imron/3: 190-191
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191)
4. QS. Al-Taubat/9:122
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (122)
5. QS. Al-Ankabut/29:19-20
أَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ يُبْدِئُ اللَّهُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (19) قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآَخِرَةَ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (20)
Penjelasan ayat secara global:
Surat al-Alaq ayat 1-5, menurut Tafsir al-Qathan, ayat ini mengisyaratkan tentang ajakan serta kewajiban bagi umat Islam untuk belajar membaca dalam maknanya yang luas, menulis dan mengkaji tentang ilmu. Dan pada hal-hal tersebutlah terdapat syiar Islam. Dalam penafsiran ayat tersebut juga dijelaskan bahwa manusia yang pada awalnya sangat hina hanya berupa alaq, darah kental yang menggantung pada rahim akan memiliki derajat yang tinggi dengan adanya proses belajar dan megajar. Dengan proses belajar mengajar itulah manusia akan mendapatkan ilmu yang akan merubah manusia dari kedhaliman, menuju cahaya kehidupan. Ilmu yang dimaksud itu bukan terbatas pada ilmu keakhiratan belaka. Beliau al-Qaththan menjelaskan bahwa ilmu yang dijunjung tinggi oleh Islam adalah mencakup seluruh bidang dan cabang-cabangnya. Sehingga dengan ilmu yang semacam itu umat Islam dapat berperan dalam membangun peradaban dunia. Beliau juga mengkritik terhadap kelemahan umat Islam saat ini yang hanya menjadi pengikut yang lemah dari sebuah ilmu. (Tafsir al-Qaththan, Juz-3 hal. 441).
Jadi hanya dengan proses belajar mengajar itulah manusia akan menduduki derajat yang semestinya disandang, yakni derajat yang mulia tidak hanya di hadapan manusia lebih dari itu juga di hadapan Allah. Dari ayat ini pula kita dapat memahami bahwa Allahlah yang pertama kali mengajarkan manusia untuk menulis membaca dan segala ilmu. Dari sini terlihat bagaimana kedudukan ilmu di dalam Islam. Ilmu bersumber dari Yang Maha Mulia. Diajarkan oleh Yang Maha Mulia pula. Dengan demikian ilmu di dalam Islam menempati kedudukan yang sangat tinggi. Dari sini pula terlihat benang merah mengapa guru juga menempati posisi yang sangat mulia, di dalam Islam. Karena ia mengajarkan sesuatu yang sifatnya mulia dan bersumber dari Yang Maha Mulia.
Dengan mengkaji surat al-Alaq dalam konteks historis akan diketahui betapa Islam membuat perombakan besar dalam sejarah kehidupan manusia. Dalam konteks sejarah Arab saat itu, masyarakat dikungkung oleh budaya oral/lisan. Budaya lisan sangat menggantungkan diri pada kemampuan hafalan. Bukan menggantungkan diri pada kemampuan tulis menulis. Akan tetapi al-Qur'an datang dengan semangat untuk merubah kultur lisan dengan kultur tulisan. Yakni melalui budaya membaca dan menulis. Dengan kultur baca dan tulis, peradaban manusia akan terbukukan melalui karya-karya tulis yang bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dalam sejarahnya, masyarakat Arab saat itu, menulis justru dianggap sebagai aib yang perlu disembunyikan. Karena dengan menulis berarti menunjukkan adanya kelemahan hafalan seseorang. Kenyataan sejarah semacam itu semakin menunjukkan bahwa ajaran Islam telah melampaui zaman di mana ia diturunkan saat itu. Yakni menggemakan kultur baca dan tulis.
Dalam ajaran Islam, belajar telah dimulai sejak manusia manusia masih di dalam kandungan, hingga sampai ke liang lahat. Coba kita bandingkan dengan tuntutan formal dalam UU Sisdiknas kita, yang baru mewajibkan manusia Indonesia sejak umur 6 tahun. Dari perbandingan ini tentu kita juga dapat melihat bahwa dala hal ini ajaran Islam telah lebih maju beberapa langkah dari tuntutan UU Sisdiknas kita.
Sementara itu surat Ali Imran 190-191, menurut Imam al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya al-Jami li Ahkam al-Qur'an, mejelaskan tentang kewajiban manusia (muslim) untuk mengadakan pemikiran, perenungan maupun penelaahan kepada ayat-ayat Allah. Ayat di sini dalam arti tidak hanya ayat qauliyah saja akan tetapi juga ayat-ayat kauniyah (alam semesta). Dengan pemikiran, perenungan maupun penelaahan itulah manusia akan sampai pada kesimpulan bahwa semua yang ada tidak lain adalah karena Yang Maha Kuasa, Allah swt. Dengan pemikiran dan penelaahan itulah manusia tidak akan terjebak pada sikap taqlid buta yang merugikan semua pihak. Akan tetapi manusia dapat bertindak berdasar keyakinan yang benar yang disandarkan pada ilmu yang telah diperolehnya (Al-Jami li Ahkam al-Qur'an, Juz 1, h. 1204)
Surat al-Taubah ayat 122, -masih menurut al-Qurthubi (Juz 1, h. 2565)- menjelaskan tentang kewajiban kolektif umat Islam untuk menuntut ilmu yang secara spesifik harus didalami. Tidak seyogyanya seluruh umat Islam berangkat berjihad dalam arti perang. Namun harus ada sebagian mereka yang secara khusus mendalami ilmu. Baik dalam ilmu agama maupun lainnya. Secara mendasar dalam hal ilmu agama seluruh umat Islam wajib menguasai. Artinya untuk syarat minimal untuk menjadi seorang muslim seseorang wajib atau harus menuntut ilmu agama. Akan tetapi yang secara khusus mendalami ilmu agama untuk menjadi ahli agama (ulama) juga harus ada. Demikian pula untuk ilmu umum. Seluruh umat Islam wajib mempelajari khususnya yang berkaitan dengan tuntutan hidup di masyarakat. Seperti membaca, menulis, berhitung sederhana dan sabagainya. Dalam bahasa pendidikan keterampilan dasar, seluruh umat Islam wajib menguasainya. Akan tetapi untuk menjadi seorang yang expert dalam bidang tertentu, kewajibannya tidak bersifat indifidual ('ain) akan tetapi kewajibannya menjadi wajib kifayah. Maka jika tidak ada satupun umat Islam yang mendalami tentang suatu ilmu tertentu yang dibutuhkan oleh umat Islam -berdasar penjelasan ayat itu- seluruh umat Islam menanggung beban dosa. Sanksi atau implikasi dari dosa itu dapat dirasakan saat di dunia ini.
Surat al-Ankabut ayat 19-20, menjelaskan tentang kewajiban yang seharusnya dijalankan umat Islam untuk mengadakan perjalanan, dalam arti penelitian di muka bumi ini. Sehingga umat Islam dapat menemukan suatu kesimpulan dengan cara mengambil I'tibar baik atas penciptaan alam, hingga sejarah perjalanan manusia dan alam di masa lampau. Apa yang diperoleh dari penelaahan itu, kemudian akan dijadikan bahan refleksi dalam meniti kehidupan di dunia yang akan mengantarkannya selamat di kehidupan akhirat.
Hasil penelaahan dan penelitian yang telah dilakukan itu kemudian harus dapat mengantarkan pada pengenalan akan kebesaran Allah, yang dengan sangat mudah membuat segalan sesuatu berjalan sesuai siklusnya masing-masing (al-Qurthubiy, Juz 1, h. 4271). Dari awal kejadian, proses perjalanan hingga akhir dari proses itu sendiri.
Sayangnya yang telah melakukan penelaahan semacam itu justru bukan dari kalangan umat Islam yang sejak lama telah diperintahkan untuk mengkajinya. Sebagai bahan renungan, siapa yang mengkaji tentang awal kejadian atau penciptaan dunia, sehingga memunculkan teori Big Bang? Siapa yang telah mengadakan penelitian arkeologis sehingga dapat merekonstruksi dunia pada masa lampau. Dan masih banyak lagi bahan renungan yang tentu tidak tepat jika dituangkan dalam tulisan ini secara keseluruhan.
Dan sekarang di manakah posisi Anda? Tentu sesuai dengan bidang kajian Anda, Anda harus menjadi orang yang senantiasa bertafaqquh fi al-din. Yakni kelak menjadi orang yang benar-benar ekspert dalam bidang agama. Sehingga jika terjadi masalah keagamaan di masyarakat, Anda adalah jawabannya. Jika tidak demikian, maka Anda telah menyia-nyiakan amanah yang diberikan Allah. Selamat belajar
Ada dua versi yang kami temukan yaitu pada tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab dan tafsir Al-Maraghi Karya Ahmad Musthafa Al-Maraghi.
Yang pertama mari kita lihat penjelasan yang kami dapatkan dari tafsir Al-Misbah.
Ayat itu menuntun kaum muslimin untuk membagi tugas dengan menegaskan bahwa “Tidak sepatutnya bagi orang-orang mu’min yang selama ini dianjurkan agar bergegas menuju medan perang pergi semua ke medan perang sehingga tidak tersisa lagi yang melaksanakan tugas yang lain”. Jika memang ada panggilan yang bersifat mobilisasi umum maka mengapa tidak pergi dari setiap golongan, yakni kelompok besar diantara mereka beberapa orang dari golongan itu untuk bersungguh-sungguh memperdalam pengetahuan tentang agama sehingga mereka dapat memperoleh manfaat untuk diri mereka dan orang lain dan juga untuk memberi peringatan kepada kaum merka yang menjadi anggota yang di tugaskan oleh Rasulullah SAW.
Terbaca di atas bahwa yang dimaksud dengan orang yang memperdalam pengetahuan demikian juga yang memberi peringatan adalah mereka yang tinggal bersama Rasulullah SAW. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.
Ayat ini mengggaris bawahi terlebih dahulu motivasi bertafaqquh/ memperdalam pengetahuan bagi mereka yang dianjurkan keluar sedang motivasi utama mereka yang berperang bukanlah tafaqquh.
Yang kedua kita lihat menurut tafsir Al-Maraghi.
Ayat ini menerangkan kelengkapan dari hukum-hukum yang menyangkut perjuangan yakni hukum mencari ilmu dan mendalami agama. Artinya bahwa pendalaman ilmu agama itu merupakan cara berjuang dengan menggunakan hujjah dan penyampaian bukti-bukti dan juga merupakan rukun terpenting dalam menyeru kepada iman dan menegakan sendi-sendi Islam. Karena perjuangan yang menggunakan pedang itu sendiri tidak di syaratkan kecuali untuk jadi benteng dan pagar dari da’wah tersebut agar jangan dipermainkan oleh tangan-tangan ceroboh dari orang-orang kair dan munafik.
Berdasarkan dua penafsiran bahwa kami dari penulis makalah cenderung kepada tafsir Al-Maraghi bahwa pendalaman ilmu agama itu merupakan cara berjuang dengan menggunakan hujjah dan penyampaian bukti-bukti dan juga merupakan rukun terpenting dalam menyeru kepada iman dan menegakan sendi-sendi Islam. Karena perjuangan yang menggunakan pedang itu sendiri tidak di syaratkan kecuali untuk jadi benteng dan pagar dari da’wah tersebut agar jangan dipermainkan oleh tangan-tangan ceroboh dari orang-orang kafir dan munafik. Karena kebaikan menuntut ilmu dan mengajarkannya sama pahalanya disisi Allah dengan jihad. Barang siapa yang memberi contoh kebaikan , kemudian kebaikan itu dicontoh oleh orang lain, maka dia akan mendapat kebaikan yang sama dengan orang yang melakukan tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang melakukannya, begitu juga sebaliknya. Demikian ungkapan yang sementara dianggap dari Rasulullah SAW.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar