DARI LOK GABANG UNTUK NUSANTARA
Hadani Had
Lok Gabang menyimpan rahasia ilahi, Abdullah Al-Hindi
Dari tanah India berlayar ke bumi kerajaan Banjar
Mematri nama, merapal berbait-bait do’a
Di tengah malam, bersama bidadari calon penghuni surganya
Dilontarkannya puisi berupa syair kerinduan
Lailatul Qadar berbisik malaikat
“Malam ini do’amu ke pintu langit pasti mustajab
Tak kan tertolak, pintalah hai Hamba Allah, Abdullah”
Abdullah merapal do’a sesempurna bahar kamil
Menyatu dengan dengusan nafas, bersama tingkahan suara jangkrik
“berilah aku zurriyat yang bermanfaat untuk ummat”
Tujuh petala langit dan bumi, mengaminkan do’anya
Arsyi kecil, dengan tangisan menggema menyeruak rasa bahagia
Lok Gabang, menjadi saksi kelahiran
Perjalanan malam, panjang berliku penuh cahaya
Arsyi, melukis pualam menghentikan langkah ceritanya
Memukau
Merupa
Merapal
Melanjutkan jalan datunya
32 tahun waktu yang lama, mengembara mencari dzauq
Fan-Fan ilmu semua di kuasainya
Batin, zahir, alat, akhlak adab semuanya
Belanda segan, karena wibawanya
Sabilal Muhtadin, melanglang buasa ke seantero nusantara
Mengajarkan fikih, ibadah
Hidup diantara cucu-cucunya
Buyut-buyutnya, menjadi pemuka segala pemuka
Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari kata orang mendapatkan tanah hidupnya
Dipagarinya, dalam Pagar namanya
Kelampayan tubuhnya dibaringkan
Anak-cucunya semuanya sempurna
Akal
Akhlak
Ilmu
Amal
Datu….. hu.ah. hu.ah. hu.ah
Merapal, bernasyid, berayun, melebur diri menjadi satu
Menggetarkan jiwa, menghunjam hati,
Merasuk, menusuk
Menuai cinta
Menjadi aku, menjadi manusia kamil, sesempurna bait-bait syairmu
Ajarkan kami jalan Sammanmu.
Bati-Bati, 5 Desember 2022

Tidak ada komentar:
Posting Komentar