Senin, 20 Mei 2013

NASKAH MONOLOG " SANG NASIONALIS " HADANI HAD




SANG NASIONALIS
Hadani Had

PANGGUNG TERASA SANGAT NASIONALIS DIBANGUN OLEH ALUNAN LAGU INDONESIA RAYA YAG SEDIKIT DEMI SEDIKIT MEMBAHANA.
SETTING PANGGUNG BERUPA SEBUAH LAPANGAN TEMPAT BIASA ORANG SANTAI, ENTAH TAMAN ATAU LAPANGAN UMUM. DICENTRAL ADA SEBUAH TIHANG YANG BERDIRI AGAK MIRING DAN DIUJUNGNYA BERKIBAR BENDERA MERAH PUTIH. DIKIRI BAWAH ADA KURSI BAGUS NAMUN TIMPANG.
UNTUK KOSTUM TOKOH BEBAS, TIDAK DITENTUKAN SUKU, BANGSA DAN WARGA NEGARA MANA.
=====================================================================
Pade In :
Lampu remang-remang menyala, diiringi lagu Indonesia Raya yang membahana. Tu’uh sudah berdiri didepan tihang bendera dengan posisi hormat. Kemudian lampu sedikit demi sedikit bertambah terang dan mencapai puncak terang. Lalu lagu Indonesia Raya pelan namun pasti juga ikut menghilang.

Tegap grak (kemudian tuuh duduk dikursi seolah-olah orang yang sangat gembira). Hari ini kita sudah merdeka, kalau tidak salah sudah 75 tahun. Rasanya sudah melebihi umur kakek dari sepupu kakek ayahku. Pertanyaannya, apakah kita sudah merasa merdeka? Baik itu merdeka hidup, merdeka mati, lahir dan batin.

Kalau boleh saya menebak, merdeka yang kita banggakan selama ini adalah merdeka lahir batin, hidup dan mati. Diri yang tak tergadaikan dan disana sini tidak punya hutang. Anda setuju?? Atau tidak setuju?? Silahkan selama anda memiliki tujuan hidup dan argument yang kuat. Karena apa saya bilang begitu, sebab tanpa adanya tujuan hidup dan argumen yang kuat, hidup kita tidak akan dihargai orang. Sekali lagi saya camkan tidak dihargai orang. Kalau hidup kita tidak ada harganya dimata orang, apakah kita bisa dibilang merdeka.

Tuuh bertepuk tangan sendiri seolah-olah ia baru saja menyampaikan ceramah yang panjang dengan rasa nasionalisme yang tinggi.

Saya berani jamin, dan berkata disini, saudara-saudara sekalian belum mencapai kemerdekaan yang hakiki. Dan belum mendapatkan kemerdekaan yang selama ini kita banggakan bersama. Sebab apa?? Sebab saudara-saudara sekalian tidak memiliki argument yang kuat dan tujuan hidup yang tidak jelas. Kalau boleh saya bilang tujuan hidup kita semua adalah ini (Menunjukkan dengan jari-jarinya menggambarkan uang). Ya ini …. Ada yang gak setuju?? Kalau tidak setuju apa ragumen anda, ada yang tidak setuju?? (menunjuk kearah seorang penonton) Anda tidak setuju?? Apa argument anda? Kalau anda tidak paham  argument, baiklah akan saya sederhanakan bahasa saya. Apa alasan anda?? (Tertawa) Anda diam berarti anda setuju, jadi kenapa anda angkat tangan?? Nah saudara-saudara sekalian inilah salah satu contoh orang yang tidak memiliki tujuan hidup. (tertawa karena merasa menang).

Tuuh berjalan lalu kemudian seperti orang yang baru sadar dari lamunannya. Oooowwwhhh iya. Saya hampir lupa, kalau saya belum memperkenalkan diri. Biasa, bisa lupa saya, kalau sudah keasyikan menyampaikan ceramah tentang rasa nasionalis seperti tadi. Karena kebiasaan hati saya selalu bergolak bila membicarakan tentang rasa cinta kita kepada tanah air ini. Mungkin sama juga dengan para teroris yang mendoktrin pengikutnya penuh semangat seperti itupun juga saya. Hmmmmmmmmmm.

Perkanalkan nama saya Tu’uh T-U-‘-U-H. Ya Tu’uh. Mungkin anda baru mngenal nama itu, atau baru mendengar dan merasa asing dengan nama itu. Mungkin karena anda kuper atau hidu dihutan. Nama saya ini sudah dikenal dikalangan pejabat tinggi Negara. Baiklah. Itu tidak terlalu dipikirkan, tersebab apalah arti sebuah nama kalau tanpa sebuah karya. Ya sebuah karya, sebelum saya mengenalkan karya saya. Saya mau bilang, walau nama saya itu jelek dan agak kampungan, itu kata istri saya. Saya bangga dengan nama tersebut, soalnya orang tua saya sudah balampah untuk mendapat nama itu disebuah gunung didaerah Martapura, namanya gunung Pamaton. Pada malam jum’at tanpa makan dan tanpa minum dan tidak tidur. Nama saya tersebut dituliskan oleh datu-datu yang ada disana yaitu TUUH. Entah apa yang membuat orang tua saya tersebut mempercayai hal demikian. Tapi terlepas dari itu semua, saya bangga dengan nama tersebut. Sebab dengan nama ini saya bisa mengenalkan diri kepada anda-anda dan anda. Dan sebagian riwayat hidup saya. Sekaligus karya saya dijagat raya ini.

TERDENGAR SUARA TEMBAKAN DAN BUNYI BISING, TUUH BERSEMBUNYI DEBELAKANG KURSI KETAKUTAN.

Kalian dengar itu, itulah suara yang saya takutkan selama ini, walaupun saya juga memiliki barang yang sama dengan yang dimiliki oleh mereka. Sebab saya sangat takut.
“ampun pak, jangan tangkap saya dan jangan bunuh saya, istri saya ada empat pak. Anak-sanak saya lebih sepuluh, kalau bapak menangkap saya maka apa mereka nanti, mereka bergantung hidupnya kepada saya pak. Ampuni saya. Saya masih banyak yang belum dicapai, prestasi, kedudukan pagkat dan wibawa pak. Tolong ya pak ya. Dan tolong jangan turunkan saya dari jabatan saya ini selaku advokat. Saya tidak mau menganggur pak ya pak ya. Kalau bapak setuju nanti lihatlah direkening bapak uang bapak akan bertambah”.

SUARA TEMBAKA ITU HILANG DAN TUUH PUN KEMBALI DUDUK DIKURSI, PERASAANNYA SEPERTI DUDUK DI KURSI SIDANG.

Baik-baik baik. Saya akan jelaskan kenapa saya begitu takut terhadap suara tembakan dan geraman pak polisi. Saya akan mengakui, dan menjelaskannya. Sebenarnya saya adalah konglomerat bukan orang melarat yang sekarat karena terjerat oleh tipu muslihat. Tapi konglomerat kaya. Saya adalah the win, the great atau the number one. Dan asal kalian tahu harta saya banyak diposito melimpah, presiden pun kalah dengan saya, lebih kaya saya, saya adalah orang terkaya dinegeri ini. Negeri pertiwi tercinta.
Anda mungkin bingung dari mana saya mendapatkannya, tidak usah bingung tadi sudah saya katakan kepada anda. Kalau saya ini seorang advokat, kerjanya advokat adalah menyelesaikan masalah, dengan menyelesaikan masalah saya dapat mendapatkan uang, kerena mendapatkan uang, saya kaya. Kaya. Kaaaaayaaaaa.
Saya mempunyai banyak klien, mulai dari urusan sekolah, kuliah, masuk kantor, mau jadi pambakal, lurah, bupati dan gubernur. Sayalah ahlinya. Mulai urusan ekonomi politik dan rumah tangga saya paling hebat. Dan anda harus yakin semua pasti beres asal ada ini. Asal dengan saya semua urusan akan tuntung pandang ruhui rahayu dan beres. ADUL, Ada Duit Urusa Lacar (tertawa bangga).

MENEKANKAN KEPADA PENONTON DAN BERBICARA DENGAN SEDIKIT BERBISIK.

Tapi anda harus ingat, ketika anda meminta bantuan dari saya. Anda harus tutup mulut dan cukup saya yang menyelesaikannya. Anda harus bisa berkerja sama dan menjaga rahasia. Supaya kita sama-sama aman. Sama-sama nyaman.

(Bercerita) Pernah suatu hari, seorang klien datang kepada saya membawa sebuah masalah, masalahnya sih tidak terlalu besar namun rumit. Dan masalah itu hampir memecahkah kepala saya, ingat baru hampir belum pecah. Saya kalang kabut mencari jalan keluar, sudah saya putar otak saya tujuh keliling saya berpikir, siang malam terus saya berpikir namun jalan keluarnya tidak dapat. Bagaimana mau dapat. kalau saya ambil jalan kiri saya yang mati, saya ambil jalan kanan klien saya kena hukuan, kalau jalan pintas wah bisa-bisa reputasi saya jadi rusak.

Aneh padahal selama ini masalah sebesar apapun dapa saya pecahkan, tapi tidak dengan ini. Beberapa hari kemudina klien itu menelpon saya dan tetap memaksa saya untuk membantunya, padahal sudah saya katakan cari advokat yang lain saja. Saya tak sanggup. Namun dia tetap bersikeras. Ibaratkan sidang kali itu mnemui deadlock atau jalan buntu.

Saya tak bisa berpikir lagi, saya menyerah dan akhirnya orang itu pun menyerah. Namun ditengah keputus asaan itu. Saya, saya merasa sangat takut begitu takut, saya sangat takut kepada penyakit yang selama ini sudah menjadi wabah dimasyarakat kita yaitu demam KORUPSI. saya takut dibilang menjadi nyamuk koruptor. Nanti salah-salah saya terseret kepada kasus yang diselidiki oleh KPK. Saya takut.
Saya berpikir sendiri, lebih keras lagi dan lebih dalam lagi, rasanya KPK tidak begitu menyeramkan. Saya kembali teringat kepda kasus-kasus yang dialamai oleh kawan-kawan saya dan para mantan klien saya. Yang sampai diseret dan disorot kemedia masa dan didemo oleh masyarakat mahasiswa dan siapa saja.

Waduh bisa gawat ini, aduhhh tolong saya. Bagaimnana ini. Saya takut kepada KPK tapi saya lebih takut kepada yang namanya mahasiswa. Sebab mereka itu adalah musuh yang tak diperhitungkan sama sekali. Musuh yang kecil, supel dan sangat tidak tau aturan. Tak terlihat, Tapi saya akui mereka itu hebat dan luar biasa. Tolong saya. Tolong.

Ampuni saya, jangan saya diturunkan, tolong…(terdengar suara gemuruh demo dan mahasiswa) nah suara apakah itu.
Ahhhh itukah suara mahasiswa itu.  Aku takut lebih baik aku menyelamatkan diri dan keluar segera dari tempat ini. Ya labih baik aku keluar saja. Nah saudara-saudara sebelum saya terlambat saya hanya berpesan jaga diri kalian baik-baik. Saya tidak akan terlibat dan saya akan pergi. Tapi nanti bila saatnya tiba saya akan kembali lagi. Selamat Tinggal saya tidak akan terlibat . Tidak akan.

TUUH KELUAR DARI PANGGUNG, TIHANG BENDERA ITU TERJATUH DAN LAGU SUMPAH MASISWA MEMBAHANA.

Pade Out.
Lampu padam

(Ditulis untuk mengenang gerakan kalian, dalam diriku, terus bergerak dan kuatkan barisan kalian).

Martapura-Tanjung 15 Oktober 2012

Tidak ada komentar:

ADIBINTANG

SYAIR : HIDUP NYAMAN BARARAKATAN

SYAIR : HIDUP NYAMAN BARARAKATAN Hadani Had Biar haja kita ngini babida-bida Suku, agama wan bahasa babida Tagal kita harus rukun nang ada K...

POPULER