PUISI DARI BALIK SUNGAI JELAGA
Hadani Had
Coba dengarkan bunyi riak air yang bergemuruh di tepi-tepi sungai
Merdu semerdu suara keroncong perut tetangga yang lapar
Selapar singa di padang pasir yang melihat fatamorgana
Kemudian mengkerut perutnya
Berdarah bibirnya
Bergelayutan di matanya harapan demi harapan
Yang tertindas
Yang terlupa
Yang layu
Karena suara parau yang semakin bersolek dengan lipstik pink
Bernada minor lembut dan tajam
Coba resapi alunan syair-syair jangkrik di tengah malam
Buta menengok ke ujung batu
Yang mengeras dengan peluh membasahi bumi
Berita terkini gempa sedang menggeliat di dalam arwah
Pada sungai-sungai puisi mulai bergeliat
Menuju samudra yang tak terbatas
Dengan amarah
Dengan jelaga
Dengan manisnya bisnis sungai
Tanah liat mulai menggeliat
Kemudian puisi mulai meletup
Dan puisikan dengan merdeka
Dingin sedingin sikapmu
Kepada lelaki yang selalu menyuguhkan kopi
Pahit hitam dan berwarna merah
Semerah lipstik bibirmu
Yang hilir mudik mencari pelanggan
Dengan segala kerendahan
Dengan segala hormat
Dengan segala hal
Yang berlaku pada puisi
Puisikan cinta dengan puisi-puisi dusta
Dari balik sungai puisi selalu terbaca
Dengan derai luka yang menonjol
Dengan irama yang menangkis luka
Dan dengan seirama dan melukai
Mulai sudah penari striptis mencuri pandang
Kepada lelaki dan rembulan
Merapal mantra-mantra
Agar semua alam merestui
Dari sebalik sungai-sungai ilalang
Berjelaga segala atap rumah
Karena api yang menghitam
Menggebu
Menusuk
Menukik
Dan : Puisi masih merdeka
Sebagaimana adanya
Alam roh 13, 15 Juni 2024
Tidak ada komentar:
Posting Komentar