Minggu, 22 Desember 2024

NGAJI IHYA #2 KEDUDUKAN ORANG YANG BERILMU

#2 NGAJI IHYA
Kedudukan Orang Yang Berilmu
وقال تعالى يرفع الله الذين أمنوا منكم والذين اوتوا العلم درجات. وقال ابن عباس رضي الله عنهما للعلماء درجات فوق المؤمنين بسبعمائة درجة. بين الدرجتين مسيرة خمسمائة عام. وقال عز وجل قل هل يستوى الذين يعلمون والذين لا يعلمون. وقال تعالى انما يخشى الله من عباده العلماء. وقال تعالى قل كفى بالله شهيدا بيني وبينكم ومن عنده علم الكتاب.

Allah SWT berfirman: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Para ulama memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan orang-orang beriman biasa, dengan selisih 700 derajat. Jarak antara dua derajat tersebut adalah perjalanan 500 tahun.”

Allah SWT juga berfirman: “Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9).

Dan Allah SWT berfirman lagi: “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fathir: 28).

Serta Allah SWT berfirman: “Katakanlah, cukuplah Allah sebagai saksi antara aku dan kamu, serta orang yang memiliki ilmu tentang kitab.” (QS. Ar-Ra'd 43)
 
Ayat-ayat diatas menyampaikan pesan mendalam tentang keutamaan ilmu dalam pandangan Islam. Penjelasannyadalah sebagai berikut :

1. Kedudukan Tinggi bagi Orang Berilmu
Allah SWT dalam firman-Nya di QS. Al-Mujadilah: 11 menegaskan bahwa orang beriman yang memiliki ilmu akan diangkat derajatnya. Ini menunjukkan bahwa keimanan dan ilmu adalah dua hal yang saling melengkapi. Ilmu yang dimaksud bukan hanya pengetahuan duniawi, tetapi ilmu yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah.

2. Keistimewaan Ulama
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menggambarkan betapa tingginya kedudukan ulama, yakni selisih 700 derajat dibandingkan orang beriman biasa, dengan jarak yang sangat jauh antar setiap derajat. Ini bukan hanya soal jumlah, tetapi menunjukkan penghargaan Allah terhadap perjuangan ulama yang menjaga dan menyebarkan ilmu untuk kemaslahatan umat.

3. Perbandingan Orang Berilmu dan Tidak
QS. Az-Zumar: 9 menantang kita dengan sebuah pertanyaan retoris: "Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui?" Jawabannya jelas tidak. Orang berilmu mampu melihat dunia dengan hikmah, memahami kebenaran, dan menjalankan kehidupannya dengan arah yang jelas.

4. Takut kepada Allah sebagai Buah Ilmu
Dalam QS. Fathir: 28, Allah menyebut bahwa yang paling takut kepada-Nya adalah ulama. Ini karena ilmu membawa pemahaman mendalam tentang kebesaran Allah, yang pada gilirannya menumbuhkan rasa takut dan cinta kepada-Nya. Takut di sini bukan dalam arti negatif, melainkan rasa hormat dan kesadaran akan keagungan-Nya.

5. Ilmu sebagai Kesaksian Kebenaran
QS. Ar-Ra’d: 43 menunjukkan bahwa ilmu juga menjadi dasar kesaksian atas kebenaran. Orang yang berilmu bukan hanya memahami kebenaran, tetapi juga menjadi saksi yang memperkuat bukti-bukti keesaan Allah dan kebenaran ajaran-Nya.

Kesimpulannya, ilmu dalam Islam bukan sekadar alat untuk mengenal dunia, tetapi juga jalan untuk mengenal Allah. Orang-orang yang berilmu memiliki tanggung jawab besar, karena ilmu mereka adalah cahaya yang harus menerangi umat. Maka, menjadi pencari ilmu bukan hanya kewajiban, tetapi juga kehormatan dan jalan menuju derajat yang tinggi di sisi Allah.

Tidak ada komentar:

ADIBINTANG

SYAIR : HIDUP NYAMAN BARARAKATAN

SYAIR : HIDUP NYAMAN BARARAKATAN Hadani Had Biar haja kita ngini babida-bida Suku, agama wan bahasa babida Tagal kita harus rukun nang ada K...

POPULER