Hadani Had
Dahulu, ketika bumi baru ku pijak
Awan-awan berarak dilangit
Jukung-jukung hanyut di arus sungai payau
Haruan, papuyu bergemuruh menanti umpan
Dari paunjunan yang mencari nafkah.
Dahulu, sebelum aku dewasa
Aku melihat anak-anak kecil
Berkecipak dengan tanah
Mandi bercebur, berenang beramai-ramai
Sambil menyuarakan keluguannya
Tentang hidup, tentang hati
Seiring berjalannya waktu, sekarang
Tak terlihat lagi awan berarak cerah
Hanya mendung menyelimuti
Hanya hujan yang mau menuruni bumi
Hanya air mata yang bergelantungan di langit
Sekarang, tak ada lagi jukung-jukung berlarutan
Yang mengisi aliran sungai menjadi indah
Kelotok dengan suara bisingnya
Yang terjadi sekarang hanya sampah-sampah berarakan
Mengotori sungai kenangan kecilku
Sekarang, anak-anak lebih senang
Memamerkan harta orang tuanya
Memakai kendaran-kendaraan besi
Tak mengenal jukung
Tak lagi berenang
Bermain tanah
Bertelanjang dada
Sekarang?...
Sekarang
Semuanya hanya tinggal kenangan
Hanya tinggal harapan...
Bati-Bati, 21 05 2019
MENYELAM DI KEDALAMAN RINDU
Hadani Had
Tengah malam ketika bulan belah semangka
Tuhan mengetuk pintu hati hamba yang hambar
Malas sebenarnya hamba membukakan pintu
Setengah terpaksa diangkatnya telepon dan kemudian berbicara
Segala niat yang terpatri dielusnya menjadi seolah perempuan
Masuk semakin intim dan memuji yang maha dipuji
Yang maha pengasih
Yang maha merajai
Yang maha dari segala maha
Katakan padamu saja kami sembah dan pertolongan
Jalan lurus itu seperti apa, seperti pendahulu kah
Sedangkan cerita dahulu masih banyak simpang siur
Tentang celaka
Tentang selamat
Tentang semua yang berlanjut dari segala yang minta pertanggungjawaban
Hamba bersimpuh lutut menyenarai rindu
Kemudian khusyuk do'a dalam kedamaian
Keheningan
Kelembutan
Keramahan
Keseruan dzauq yang mulai merasa ke dalam segala rasa
Ke dalam rindu serindu laksa mentari pagi
Ke dalam kalbu menyelaras rasa dengan tingkahan seruling rasa
Dengan sempurna sebaris syair Bahar Kamil
Menyeruak dengan huruf indah
Alif lam lam ha
Hu ah
Hu ah
Hu ah
Kun maka menjadi
Tuhan yang maha dari segala dzat
Sempurnakan dengan sesempurna rasa
Dengan mengatakan rindu
Seberkas cahaya
Aku merindu
Di kedalaman rindu
Tangerang, 03-11-2023
BUMI LAMBUNG MANGKURAT SUDAH MENJADI TANAH DARUSSALAM
: RUMAH SELAMAT UNTUK
Hadani Had
Syahdan seorang Patih Lambung Mangkurat bertapa menghunjamkan rindu kepada ratu yang adil dan bertuah
Putri Junjung Buih yang terlahir dari ulakan sungai di Negara Dipa
Tersebutlah kerajaan Banjar dipimpin
Kemudian Empu Mandastana kehilangan nyawa
Direnggut dalam lunta
Menjelma pangeran mempersunting Junjung Buih
Hasil tapa Lambung Mangkurat
Berjalan masa
Berlalu waktu
Berperangai Pangeran Suryanata merindu mendulang Sukma
Keselamatan kepercayaan dari negara Dipa ke Banjar
Dari agama nenek moyang ke Islam
Menjelajahi rahmatan Lil Alamin
Menjadi bumi As-Salam
Di bumi penuh intan
1914 terpancanglah tiang keilmuan
Darussalam dari syekh Kasyful Anwar
Berlanjut mencetak penyampai lisan Ahmad
Pewaris harta utama
Sebagaimana yang dikatakan Abu Hurairah
Maukah kalian harta warisan Muhammad
Banyak yang meninggalkannya
Berteriak di tengah keramaian hiruk-pikuk pasar
Dimana
Datanglah ke Mesjid Nabawi
Berbondonglah penduduk berkumpul
Menunggu harta warisan
Dan bertanya
Berdiam
Dan akhirnya mereka merasa hilang tulang belakang
Bumi Lambung Mangkurat
Sudah menjadi Babussalam
Dipancangkan
Ditanyakan
Dipatrikan
Dan menyeruak : Keselamatan
Bati-Bati, 4-11-2023

Tidak ada komentar:
Posting Komentar