Hadani Had
Seorang roh prajurit masa lampau bernama Kusuma bangkit dari kuburnya, terperangkap antara dunia manusia dan alam yang telah hancur.
Dia menyaksikan kerusakan hutan yang dulunya ia bela dengan jiwa dan raga. Kini, Kusuma berusaha menyelamatkan hutan dan alam yang ia cintai, berjuang melawan para penghancur bumi yang tidak mengenal batas.
Di tengah perasaannya yang penuh luka dan amarah, ia mempertanyakan apakah masih ada harapan bagi bumi yang tercemar oleh keserakahan manusia.
(Panggung gelap. Suara angin menderu terdengar keras. Perlahan, sorotan lampu menyoroti seorang pria tua berpakaian kusut, dengan wajah penuh luka dan debu. Dia memegang tanah di tangannya, memerhatikan dengan mata yang kosong. Ia adalah Kusuma, roh masa lampau yang bangkit dari kuburnya.)
Kusuma:
(pelan, penuh perenungan)
Aku... hidup kembali. Tetapi apa ini? Apakah ini dunia yang aku kenal? Di mana pepohonan yang dulu memelukku dengan rindangnya? Di mana gemericik sungai yang mengalir tanpa henti, memberi kehidupan pada setiap makhluk yang menyusurinya? Di mana cuitan burung-burung yang bebas menari di langit?
(berdiri, menatap jauh ke depan)
Aku lahir untuk menjaga hutan ini. Aku berjuang, kutumpahkan darahku di tanah ini. Dan sekarang... semuanya hilang. Hutan ini—(tersedak)—telah dibantai! Pohon-pohon tercabut, tanah digali, sungai diracun. Angkara murka manusia. Mereka... mereka telah menghancurkannya.
(Kusuma berjalan perlahan, tangannya meraba tanah yang kering dan retak, wajahnya penuh dengan rasa kehilangan.)
Kusuma:
(lebih lantang, penuh amarah)
Siapa yang memberi mereka hak?! Siapa yang memberi mereka wewenang untuk merusak alam yang indah ini?! Dulu aku mati demi melindungi bumi ini, demi anak-anak yang akan datang setelahku. Demi generasi yang akan hidup dengan damai, seimbang dengan alam. Namun yang mereka tinggalkan adalah kehancuran. Angkara keserakahan yang tak terbendung!
(mendekati penonton, dengan sorot mata tajam)
Apakah mereka berpikir hutan ini tidak akan melawan? Alam ini tidak akan menuntut balas? Apakah mereka lupa bahwa bumi ini hidup, bernapas, dan merasakan?
(tertawa getir)
Oh, manusia yang bodoh... mereka tak paham. Tanah ini bukan hanya sekadar tanah. Ia hidup. Dan aku, aku adalah suara dari tanah ini. Aku adalah dendamnya, amarahnya, cemburunya. Aku... adalah pelindungnya yang tak akan membiarkan kehancuran ini berlangsung lebih lama.
(Kusuma mengambil segumpal tanah dari bawah kakinya, menatapnya dengan intens.)
Kusuma:
Tanah ini, yang dulunya lembut dan hangat... sekarang beracun. Hutan ini, yang dulunya hijau dan rimbun... sekarang gersang. Mereka menggali perut bumi, menghisap jantungnya, merampok nyawanya. Mereka mengambil apa yang bukan miliknya. Dan untuk apa? Emas? Uang? Kekuasaan? Semua itu akan membawa mereka pada kehancuran!
(teriak keras)
Angkara bumi ini tidak akan diam lagi! Aku akan membawa mereka pada keadilan! Mereka akan merasakan apa yang telah mereka lakukan. Mereka akan... (menunduk, perlahan, menahan tangis) ... mereka akan merasakan penderitaan yang aku rasakan.
(Kusuma terduduk, wajahnya tenggelam dalam tangannya. Keheningan panjang, hanya suara angin terdengar samar.)
Kusuma:
(pelan, penuh luka)
Tapi apakah... apakah ada harapan? Mungkinkah bumi ini masih bisa diselamatkan? Atau... sudah terlalu terlambat? Apakah... aku sendiri dalam pertarungan ini?
(berdiri dengan susah payah, berjalan ke arah sebatang pohon yang hampir mati)
Mungkin... mungkin masih ada yang peduli. Mungkin masih ada manusia yang bisa melihat, yang bisa mendengar jeritan bumi ini. Namun, apakah mereka cukup? Apakah mereka bisa melawan arus keserakahan? Atau aku akan berjuang sendirian hingga akhir?
(Dia menatap ke langit, tangannya terangkat seolah meminta pertolongan dari alam.)
Kusuma:
Bumi, bisakah kau bicara kepadaku? Bisakah kau memberi tahu aku... apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus menghancurkan mereka, seperti mereka menghancurkanmu? Ataukah... aku harus merangkul harapan terakhir yang tersisa?
(menundukkan kepala, berbicara pelan)
Angkara ini... tak seharusnya ada. Aku ingin mereka mendengarmu, Bumi. Aku ingin mereka memahami bahwa alam ini bukan musuh, tapi sahabat yang telah mereka lupakan.
(berjalan ke tepi panggung, menatap penonton dengan tatapan tajam)
Dengar kalian, manusia yang masih hidup! Dengar suara bumi ini, sebelum semuanya terlambat. Aku Kusuma, roh masa lampau, akan tetap menjaga tanah ini, sampai napas terakhir. Tetapi kalian, yang hidup di zaman ini... apa yang akan kalian lakukan? Apakah kalian akan terus diam, melihat bumi ini sekarat? Atau kalian akan melawan, berdiri, dan menyelamatkan apa yang tersisa?
(Kusuma terdiam sejenak, kemudian dengan suara pelan namun penuh kekuatan.)
Kusuma:
Waktu kalian tak banyak lagi. Dengarkan bumi ini. Sebelum angkara yang sebenarnya bangkit... dan tak ada yang bisa menyelamatkan.
(Panggung perlahan kembali gelap, hanya suara angin yang kembali terdengar kencang. Lampu padam sepenuhnya.)
Bati-bati, dalam sunyi sepi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar