Minggu, 01 Desember 2024

Penerapan Metode Pembelajaran BAKASAT (BelAjar KolAborasi, SyAir, dan Teknologi)


Penerapan Metode Pembelajaran BAKASAT (BelAjar KolAborasi, SyAir, dan Teknologi) dalam Meningkatkan Pemahaman Siswa terhadap Materi Kiamat Sugra dan Kepedulian terhadap Kerusakan Alam melalui Penggunaan Aplikasi Canva Serta Toleransi


NAMA : HADANI, S.Pd.I

SEKOLAH : UPTD SD NEGERI 1 BENTOK DARAT

EMAIL : hadani41@guru.sd.belajar.id


  1. SITUASI

Membuat peserta didik merasa bahagia dalam proses pembelajaran adalah sebuah keniscayaan bagi seorang pendidik yang memiliki integritas yang berkualitas. Maka, sepantasnyalah seorang pendidik harus mampu membangun suasana belajar yang menyenangkan. Salah satu tindakan nyata seorang pendidik yang berpihak kepada peserta didik  adalah menyiapkan strategi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik serta menyesuaikan dengan minat dan zaman tumbuhnya peserta didik. Selain itu dalam proses pembelajaran dicentralkan kepada peserta didik dengan bimbingan yang baik, harapannya peserta didik menghasilkan media pembelajaran yang menyenangkan dan sesuai dengan kodrat mereka. Lebih jauh lagi, pendidik haruslah menjadi fasilitator pembelajaran dengan menyiapkan pembelajaran yang berdeferensiasi karena dengan keberagaman peserta didik setidaknya pendidik harus memahami makna deferensiasi secara utuh dan menyeluruh. Dengan begitu kebutuhan peserta didik yang berbeda-beda akan terfasilitasi dengan baik.


Berdasarkan pembelajaran yang sudah dilakukan serta hasil refleksi beberapa kali pembelajaran di kelas yang saya dilakukan, diperoleh bahwa peserta didik di UPTD SD Negeri 1 BENTOK Darat tempat Saya mengabdikan diri sebagai pendidik memiliki keragaman minat dalam media pembelajaran, kemudian setelah ditelaah dan didalami hasilnya menunjukkan bahwa media pembelajaran yang interaktif dan dihasilkan oleh mereka sendiri sangat mereka senangi. Dan juga sesuai dengan mata pelajaran yang saya ampu yaitu Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti maka saya mencoba melakukan deferensiasi konten dalam proses pembelajaran. Dibeberapa kelas yang saya ampu juga ditemui ada beberapa peserta didik yang berbeda keyakinan. Dari situlah saya termotivasi untuk menyediakan konten pembelajaran sesuai dengan keberagaman agama yang peserta didik anut. Berlatar belakang dari dua hal tersebutlah, saya mendesain pembelajaran yang mengakomodir kebutuhan belajar, menyesuaikan minat dan melakukan kolaborasi dengan materi-materi pembelajaran yang terkait.

Pembelajaran berdiferensiasi akan tercapai bilamana seorang pendidik memahami minat, kebutuhan belajar, kodrat alam dan zaman pada peserta didik bertumbuh, sesuai dengan yang disampaikan oleh Ki Hajar Dewantara dalam filosofi pendidikannya bahwa pendidikan harus sesuai dengan kodrat alam dan zaman peserta didik. Untuk mewujudkan hal ini, saya mengunakan crhomebook demi menghasilkan media pembelajaran yang akan dibuat sendiri oleh peserta didik dan mencoba memfasilitasi keberagaman agama yang ada dikelas yang saya ampu. Hal ini dikarenakan banyaknya peserta didik sekarang ini yang sudah berkembang di zaman digital native tentu tak terbantah lagi bahwa proses digital dalam pembelajaran merupakan suatu keniscayaan. Karena peserta didik dan tekhnologi dua hal yang  tak dapat dipisahkan. Sebagai pendidik harus mampu mendesain pembelajaran berbasis digital, pada hal ini crhomebook dan aplikasi canva menurut saya tepat digunakan untuk menjawab tantangan digital dan keberagaman agama.

Sebagaimana yang telah saya katakan sebelumnya, saya merupakan guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti yang saya pahami adalah pembelajaran yang harus dilakukan sepanjang hayat dan harusnya peserta didik mampu merefleksikan kegiatan keagamaannya dalam mata pelajaran ini. Untuk menimbulkan motivasi peserta didik dalam mengikuti pembelajaran yang saya lakukan, saya mencoba mendigitalisasi beberapa materi pembelajaran dengan hal-hal yang menyenangkan, saya mencoba mengaitkan materi dengan hal yang terjadi dihadapan mereka dilingkungan rumahnya sendiri. Dan mencoba menyandingkannya dengan materi pada agama dan kepercayaan lain yang dianut oleh sebagian peserta didik saya. Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti adalah pembelajaran karakter dan keimanan kepada tuhan yang maha kuasa dan sangat berguna baik di dunia maupun di akhirat kelak. Oleh Karena itu pada pembahasan kali ini saya mencoba mengkaitkan materi Beriman Kepada Hari Akhir dengan bencana alam  yang terjadi di lingkungan sekitar peserta didik. 

Jika berbicara tentang Bencana Alam dalam hal ini kerusakan lingkungan, maka saya perlu berkolaborasi dengan guru Kelas atau mapel IPA. Saya melakukan diskusi ringan dengan guru kelas dan diputuskanlah kami mencoba kolaborasi dalam materi HARI AKHIR dan KERUSAKAN ALAM. Dan akan kami implementasikan dalam pembelajaran di kelas.

Sebagai pengampu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, saya akan memulai pembelajaran dengan pemahaman konsep dan pemanfaatan crhomebook dalam hal ini aplikasi Canva. Ibu Rina, sebagai Wali Kelas enam C akan menemani peserta didik saat pembelajaran kerusakan alam. Serta saya juga akan mendengarkan cerita peserta didik tentang keyakinannya terhadap hari kiamat sesuai dengan keyakinan yang mereka anut.

Dalam konteks ini, sebagai pendidik saya berinisiatif menggunakan metode BAKASAT, yaitu pendekatan yang menggabungkan kolaborasi, syair, dan teknologi menggunakan aplikasi Canva dan mencoba untuk berkolaborasi dengan rekan sejawat pada materi yang disesuaikan juga mengkolaborasikan pemahaman konsep kiamat antara agama Islam dan Katolik. Dengan melibatkan peserta didik dari dua agama untuk mendiskusikan konsep akhir zaman menurut kepercayaan masing-masing, diharapkan mereka tidak hanya memahami makna kiamat sugra, tetapi juga mengembangkan nilai toleransi dan kepedulian lingkungan. 


  1. TANTANGAN

Media pembelajaran digital masih dianggap hal tabu dalam proses belajar peserta didik Sekolah Dasar, apalagi menggunakan crhomebook kemudian menuangkan gagasan ke aplikasi digital dalam hal ini saya gunakan aplikasi Canva. Bahkan bukan hanya tabu, namun sulit menurut sebagian besar pendidik di sekolah saya. Padahal crhomebook yang notabenenya merupakan bantuan pemerintah harus digunakan dalam proses pembelajaran sebagaimana yang ditekankan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tanah Laut dalam beberapa sambutan beliau yang saya ikuti, beliau memberi pesan chromebook jangan dijadikan benda keramat yang hanya berada di dalam lemari yang hanya digunakan untuk kegiatan Asismen Nasional saja. Sehingga hal ini harus dijadikan acuan dan menjadi tantangan bagi saya sebagai pendidik untuk menggunakan crhomebook dalam proses pembelajaran yang saya lakukan di kelas.

Saya kemudian juga tertantang ketika beberapa kali melakukan pembelajaran dengan peserta didik yang berbeda kepercayaan di kelas yang saya ampu ketika saya memberikan pilihan kepada mereka kalau ingin keluar dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti maka saya persilahkan, kalau ingin tetap berada di kelas juga saya silahkan. Yang saya dapati, peserta didik tersebut tetap memilih untuk berada di kelas dan itu sedikit membuat saya kikuk ketika menjelaskan materi tentang Islam secara menyeluruh. Saya harus berfikir keras agar peserta didik saya tersebut merasa tidak terganggu dengan kata-kata yang keluar dari mulut saya ketika mengajar tentang Islam.

Bila saya kaitkan dengan materi yang akan saya sampaikan kali ini yakni tentang beriman pada hari akhir maka tantangan pertama saya adalah bagaimana materi itu dapat menjadi materi yang menyenangkan kepada peserta didik dan mereka merasa dekat dengan hal itu. Maka crhomebook dan aplikasi Canvalah yang menurut saya cocok untuk menjawab tantangan itu itu karena mereka merupakan generasi digital native. Mengajarkan Crhomebook sebenarnya menurut saya walau hanya untuk mengaktifkannya saja menurut saya agak sulit lalu bagaimanakah mereka bisa menghasilkan media ajar dengan Aplikasi Canva?. Itu tantangan pertama yang akan saya hadapi. Juga menjadi tantangan tersendiri karena Canva merupakan aplikasi yang baru saja saya pelajari. Namun saya yakin, mereka adalah peserta didik cerdas yang berkembang pada dunia digital, itu akan membantu saya dalam hal mereka nantinya berselancar dalam menuntaskan masalah tantangan kali ini.

Tantangan kedua saya adalah bagaimana cara agar materi hari akhir ini bisa disajikan dalam dua dimensi, dimensi kacamata Muslim dan dimensi kacamata Non Muslim, apakah ada pada pemahaman keyakinan mereka diajarkan tentang hari akhir dan juga bagaimana menciptakan diferensiasi konten untuk memahami kebutuhan keyakinannya yang berbeda, ditambah lagi dengan minat belajar yang lainnya. Untuk mengatasi dua hal itu saya meminta bantuan kepada wali kelas enam C yang merupakan orang muda tentu akan mudah memahami aplikasi. Tantangan kedua itu akan saya jawab dengan bagaimana nantinya peserta didik yang berbeda keyakinan itu akan memaparkan hari akhir dengan keyakinannya sendiri. Dengan demikian proses pembelajaran akan berjalan lancar.

Tantangan lain yang saya hadapi adalah sulitnya mencarikan contoh real tentang hari kiamat dalam kehidupan nyata, yang kalau kita dengar dan baca kiamat itu adalah hancurnya dunia ini, sedangkan kita belum pernah merasakannya. Maka dalam hal ini untuk mengatasinya saya mengambil sampel kiamat yang kecil saja yaitu tentang kerusakan alam, dan itu akan dibantu oleh ibu Wali Kelas yang akan mendalaminya dengan tetap mengindahkan materi sesuai dengan tema pembelajaran di kelas itu, dampak apa saja yang terjadi akibat kerusakan alam. Apa yang membuat kerusakan alam dan bagaimana kaitannya dengan hari akhir.


  1. AKSI

Dengan penuh semangat saya memasuki kelas, diawal pembelajaran kami awali dengan berdoa yang dipimpin oleh siswa sesuai giliran yang telah disepakati, kemudian dilanjutkan dengan dengan membaca Asmaul Husna. Setelah itu saya mengabsen siswa dengan menanyakan siapa yang hari ini tidak berhadir.

Keyakinan dan kesepakatan kelas yang sudah kami buat dan sepakati diawal semester kembali saya ingatkan kepada peserta didik. Hal ini bertujuan agar peserta didik mengingat terhadap nilai-nilai yang telah diyakini bersama dan itu menjadikan mereka bersemangat dan bisa hadir sepenuhnya di dalam kelas. Saya meyakini bahwa keyakinan kelas membuat kelas lebih aktif dan berpihak pada siswa. Keyakinan kelas juga menumbuhkan budaya positif siswa yang didorong oleh motivasi intrinsik.

Sebelum melangkah lebih jauh lagi, saya menyapa peserta didik dengan bersyair dan itu membuat mereka senang dan semakin menghargai budaya daerah yang mereka miliki. Kemudian saya menjelaskan Tujuan Pembelajaran yang menjadi capaian dalam kegiatan belajar kali ini. Pembelajaran kali ini bertujuan dengan chromebook siswa mampu menghasilkan media ajar dengan Canva pada materi Beriman Kepada Hari Akhir dan berbagi pemahaman dengan peserta didik yang memiliki keyakinan berbeda. 

Saya melanjutkan pembelajaran dengan memberikan pertanyaan- pertanyaan pemantik. Dari beberapa pertanyaan yang saya ajukan, siswa menjawabnya dengan berdasarkan pada pemahaman mereka terhadap materi hari akhir. Siswa juga diajak memahami hikmah beriman kepada hari akhir. Dan membedakan antara kiamat kubro dan kiamat surga.

Saya kemudian menghubungkan pengetahuan mereka dengan dunia nyata dalam kegiatan apersepsi. Siswa memaparkan beragam bentuk kiamat surga di kehidupan sehari-hari. Kegiatan kali ini saya maksudkan agar pembelajaran tentang kiamat lebih kontekstual dan dapat bersentuhan langsung dengan lingkungan sekitar siswa. Setelah itu, mereka menceritakan hasil pengamatan mereka terhadap ciri-ciri kiamat surga dan mengkaitkannya dengan kerusakan alam yang terjadi atau yang pernah mereka alami. Siswa lainnya menyimak, dan memberikan feedback kepada siswa yang maju. Di sini, saya membiasakan siswa untuk bisa memberikan feedback kapan saja diperlukan. Acuan yang selalu saya sampaikan kepada murid adalah bahwa feedback hendaknya bermuatan positif.

Kegiatan inti saya mulai dengan mengelompokkan siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil. Dengan bekerja di dalam kelompok siswa dapat mengembangkan kemampuan kolaborasi mereka. Agar kolaborasi berjalan lancar, saya meminta agar seluruh anggota kelompok mendapatkan tugas yang menjadi tanggung jawab mereka.

Pembagian kelompok ini berdasarkan pada hasil asesmen diagnostik awal. Dari asesmen diagnostik, saya memiliki data mengenai bakat dan minat siswa. Data inilah yang saya jadikan acuan ketika pengelompokan ini dilakukan.

Siswa dan teknologi adalah dua hal yang tak terpisahkan. Kebutuhan akan teknologi di zaman ini adalah suatu keniscayaan. Siswa sejatinya pengguna teknologi yang aktif. Akan tetapi tidak banyak siswa yang dapat memanfaatkan teknologi dalam kegiatan belajar. Untuk itu, saya tertarik untuk lebih mendekatkan pembelajaran dengan berbasis teknologi.

Setelah mencari berbagai referensi mengenai platform yang sesuai dengan pembelajaran kali ini, saya memutuskan untuk menggunakan dua media. Media dimaksud adalah chromebook dan aplikasi Canva.

Chromebook saya manfaatkan dalam pembelajaran agar siswa bisa mencari referensi lain tentang hari kiamat dengan menggunakan peramban yang tersedia. Bagi saya, chroomebook ini sangat apalagi dengan mesin perambannya saya juga menyiapkan materi pada googlesites yang disiapkan oleh google. Meskipun peserta didik belum mahir namun, dengan bekerjasama fasilitas yang disiapkan sekolah sangat membantu. Di sini, saya mengakomodir pembelajaran berdiferensiasi bagi siswa sesuai dengan gaya belajar mereka.

Aplikasi Canva  saya gunakan agar siswa bisa melihat tamplate dalam membuat info grafis dan dengan mudah mereka mengedit kata-kata yang ada di dalamnya.

Saya kemudian membagikan link googlesite untuk mempermudah siswa mengakses materi. Untuk membantu siswa dalam berkegiatan, setiap kelompok mendapatkan satu Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Beracuan pada LKPD, siswa dimintakan untuk mengadakan diskusi kelompok guna memecahkan seluruh permasalahan yang tersaji.

Disini saya didampingi oleh rekan saya wali kelas 6C untuk mendampingi siswa sesuai dengan kesiapan belajar mereka, sebagai perwujudan diferensiasi proses. Siswa yang sudah mahir diberikan modelling aplikasi Canva yang didesain.

Sebelum siswa mendesain dan membuat infografis, saya berkolaborasi dengan guru wali kelas mengajar materi kerusakan alam untuk membimbing mereka di kelas. Guru kelas membimbing dalam materi kerusakan alam yang dikaitkan dengan ciri kiamat sugra dan kemudian membuat info grafis sesuai dengan minat siswa. Pemilihan tamplate diambil melalui diskusi kelompok mereka, untuk membuat info grafis yang sesuai. Selanjutnya siswa membagi tugas dalam kelompok agar pekerjaan bisa dilakukan secara gotong royong – aktif melibatkan seluruh anggota kelompok. Proses pendampingan terus dilakukan melalui kolaborasi saya dan guru wali kelas hingga produk info grafis selesai dikerjakan.

Tidak terlupa juga saya mempersilahkan peserta didik yang berkeyakinan katolik untuk menjelaskan kiamat menurut versi agamanya bertujuan agar tidak ada intoleransi dalam hal agama dalam kelas yang saya ampu. Dan itu sangat membuka wawasan bagi peserta didik karena mereka akhirnya memiliki persepsi bahwa semua agama meyakini bahwa kiamat itu ada.

Secara garis besar yang saya lakukan pada pembelajaran ini adalah : 

  1. Diskusi Terbuka tentang Perspektif Agama

Saya memulai dengan sesi diskusi terbuka, di mana siswa dari dua agama diberi kesempatan untuk menjelaskan pandangan agamanya tentang akhir zaman atau kiamat. Diskusi ini diharapkan dapat membuka wawasan dan mengajarkan sikap saling menghormati antar siswa.

  1. Pelatihan Penggunaan Canva

Sebelum memulai proyek infografis, saya memberikan pelatihan singkat tentang cara menggunakan Canva. Siswa diajarkan dasar-dasar desain grafis sederhana untuk membantu mereka mengekspresikan pemahaman mereka secara visual.

  1. Pembagian Kelompok dan Tugas

Siswa dikelompokkan secara acak dan diberi tugas membuat info grafis bertema kiamat sugra dan kepedulian terhadap lingkungan. Projek ini kemudian dimasukkan ke dalam desain infografis di Canva. Setiap kelompok mendiskusikan cara mengaitkan kiamat sugra dengan kerusakan alam, serta membuat pesan visual yang kreatif untuk menggambarkan konsep ini.

  1. Presentasi dan Sesi Tanya Jawab

Setiap kelompok mempresentasikan infografis mereka, dan menjelaskan pandangan mereka tentang kiamat sugra serta kaitannya dengan kerusakan alam. Sesi ini juga diikuti oleh sesi tanya jawab untuk memperdalam pemahaman dan apresiasi antar kelompok.


  1. REFLEKSI

Terpenuhinya seluruh minat, gaya belajar, dan kesiapan belajar mereka dalam pembelajaran berdiferensiasi berdampak positif. Dari refleksi yang saya lakukan, disimpulkan bahwa seluruh siswa terlibat aktif dalam proses KBM. Pembuatan projek bisa dilakukan sesuai dengan waktu yang ditargetkan. Siswa terlihat bersemangat dan bertanggung jawab dalam mengerjakan projek tersebut.

Adapun mengenai pembelajaran dengan media berbasis teknologi begitu disukai oleh siswa. Penggunaan chromebook dan aplikasi CANVA sebagai penyedia konten membuat mereka termotivasi dalam memahami konten pembelajaran.

Saya dan guru kelas, sebagai rekan dalam kolaborasi pembelajaran mendapatkan pengalaman baru. Ternyata, kolaborasi dalam mengajar memberi manfaat dalam hal efisiensi waktu dan penugasan. Adapun bagi siswa, kolaborasi dua mapel yang berbeda dalam satu projek cukup meringankan beban belajar mereka.

Dengan melibatkan penjelasan dari agama yang berbeda peserta didik memiliki pemahaman yang sama bahwa kiamat pasti akan terjadi dan tidak ada intoleransi dan mereka akhirnya saling menghormati dan menghargai dalam perbedaan keyakinan.


KESIMPULAN :

Setelah proses pembelajaran, saya dan siswa bersama-sama melakukan refleksi atas pengalaman ini, dengan hasil sebagai berikut:

Peningkatan Pemahaman Siswa terhadap Kiamat Sugra

Melalui pendekatan kolaboratif dan visual, siswa menunjukkan peningkatan pemahaman tentang konsep kiamat sugra. Mereka dapat menghubungkan kiamat sugra dengan isu-isu kerusakan alam yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, seperti pencemaran lingkungan dan bencana alam.

Penguatan Sikap Toleransi dan Kolaborasi

Kolaborasi lintas agama memungkinkan siswa untuk saling memahami pandangan yang berbeda tentang akhir zaman. Siswa menyadari bahwa setiap agama memiliki perspektifnya sendiri, dan ini mendorong sikap saling menghormati. Siswa juga belajar untuk bekerja sama dan mengakomodasi ide-ide orang lain, yang memperkaya hasil infografis mereka.

Peningkatan Keterampilan Digital dan Kreativitas

Dengan menggunakan Canva, siswa belajar keterampilan desain grafis dasar dan mengembangkan kreativitas mereka dalam membuat infografis. Mereka merasa bangga dengan karya visual yang mereka buat, dan beberapa siswa menunjukkan minat lebih lanjut untuk mengeksplorasi aplikasi desain lainnya.

Keterlibatan Emosional dan Kepedulian terhadap Lingkungan

Melalui pembacaan syair khas Kalimantan Selatan dan diskusi tentang kerusakan alam, siswa merasa lebih terhubung dengan isu-isu lingkungan. Mereka mulai menyadari bahwa konsep kiamat sugra juga berkaitan dengan tanggung jawab manusia terhadap alam, dan berjanji untuk berperilaku lebih ramah lingkungan.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa metode BAKASAT efektif dalam mengembangkan pemahaman siswa tentang konsep kiamat sugra, memperkuat toleransi, dan meningkatkan keterampilan digital. Pendekatan yang memadukan teknologi dan kolaborasi lintas agama dan mata pelajaran ini dapat menjadi model pembelajaran yang inspiratif bagi sekolah-sekolah lain.

Tidak ada komentar:

ADIBINTANG

SYAIR : HIDUP NYAMAN BARARAKATAN

SYAIR : HIDUP NYAMAN BARARAKATAN Hadani Had Biar haja kita ngini babida-bida Suku, agama wan bahasa babida Tagal kita harus rukun nang ada K...

POPULER