#4 NGAJI IHYA
HUBUNGAN ILMU DAN YANG LAINNYA
وقال تعالى : ولو ردوه الى الرسول والى اولى الامر منهم لعلمه الذين يستنبطونه منهم. رد حكمه فى الوقائع الى استنباطهم والحق رتبتهم برتبة الانبياء في كشف حكم الله. وقيل في قوله تعالى : يبني ادم قد انزلنا عليكم لباسا يوارى سوءاتكم. يعنى العلم وريشايعنى اليقين ولباس التقوى يعنى الحياء
Allah Ta'ala berfirman: "Dan jika mereka menyerahkannya kepada Rasul dan para pemimpin di antara mereka, maka orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan memahaminya dari mereka." (QS. An-Nisa: 83). Ini menunjukkan bahwa keputusan mengenai peristiwa diserahkan kepada penafsiran mereka (para pemimpin), dan Allah menyamakan derajat mereka dengan para nabi dalam hal memahami hukum Allah.
Ada pula pendapat mengenai firman-Nya: "Wahai anak-anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian..." (QS. Al-A'raf: 26), yang diartikan sebagai ilmu, dan "hiasan" diartikan sebagai keyakinan, sedangkan "pakaian takwa" diartikan sebagai rasa malu.
Kalimat-kalimat di atas memuat tafsir dan penjelasan terkait ayat-ayat Al-Qur'an yang menyoroti hubungan antara wahyu, kepemimpinan, dan nilai-nilai akhlak. Berikut adalah penjelasannya:
1. "Dan jika mereka menyerahkannya kepada Rasul dan para pemimpin di antara mereka, maka orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan memahaminya dari mereka" (QS. An-Nisa: 83):
Ayat ini menunjukkan pentingnya menyerahkan persoalan hukum atau masalah yang rumit kepada pihak yang memiliki otoritas, yakni Rasulullah saw. dan para pemimpin (ulil amri). Hal ini mengindikasikan bahwa mereka memiliki kemampuan istinbat (mengambil hukum dari dalil) yang mendalam. Dengan demikian, keilmuan mereka dalam memahami wahyu Allah disamakan dengan tingkatan para nabi dalam pengungkapan hukum Allah, meskipun tentu derajat kenabian tidak sama.
2. "Wahai anak-anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian..." (QS. Al-A'raf: 26):
Tafsir ini menghubungkan "pakaian" dengan ilmu. Ilmu adalah sarana untuk menutupi kekurangan manusia dalam memahami hakikat kehidupannya.
"Hiasan" diartikan sebagai keyakinan (yaqin):
Keyakinan dihias sebagai sesuatu yang memperindah dan melengkapi ilmu, karena ilmu yang kokoh hanya bermakna jika disertai keyakinan yang benar.
"Pakaian takwa" diartikan sebagai rasa malu (haya'):
Rasa malu adalah bentuk dari ketakwaan, yang mendorong seseorang menjauh dari dosa dan berperilaku mulia. Dalam Islam, rasa malu adalah salah satu ciri keimanan yang paling nyata.
Keseluruhan penjelasan ini menekankan pentingnya ilmu, keyakinan, dan akhlak (seperti rasa malu) sebagai elemen yang saling melengkapi untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan panduan Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar