Dendam Masa Lampau
Hadani Had
Bayu (Pria yang terperangkap dalam kesunyian hidupnya. Dendam lama membuatnya terperangkap dalam lingkaran kebuntuan. Dalam monolog ini, ia berbicara sendiri namun sesekali berinteraksi dengan penonton seakan meminta simpati dan dukungan atas tragedinya.)
---
(Bayu duduk di atas kursi dengan lampu sorot yang menyorotnya dari atas. Terdengar suara jam dinding berdetak pelan, menciptakan suasana sunyi yang mencekam. Dia memandang ke lantai dengan tatapan kosong.)
Bayu: (perlahan berbicara)
Dendam. Dendam itu seperti… (diam, menggantungkan kata) seperti gulali yang sudah ditinggalkan. Manis di awal, lengket di akhir, dan sulit dilepaskan. (tersenyum getir) Aku pernah merasa, ini semua permainan sederhana, bahwa hidup hanya soal menunggu giliran siapa yang akan jatuh lebih dulu.
(Kepada penonton)
Kalian tahu, kan? Yang namanya karma itu, lucu, kadang datang cepat, kadang lambat. Seperti... hmm... paket kilat dari toko online. Kau tunggu, tunggu, dan ternyata sampai juga... tapi isinya salah! (tertawa kecil, sarkastik)
(Ia berdiri perlahan, berjalan ke depan panggung, menatap jauh seakan mengenang sesuatu yang tak lagi ia miliki.)
Bayu:
Ada seseorang... (berhenti, tersenyum tipis) Ah, kalian mungkin tak mengenalnya. Tapi aku, aku kenal betul siapa dia. Dulu, dia sahabatku. Kami bagai gula dan kopi—terikat kuat, tapi tak pernah benar-benar menyatu. (tertawa pahit)
Namun... (nada bicara berubah jadi lebih serius) dia mengkhianatiku. Di balik senyumannya, dia menusukku perlahan. (mengeraskan suara) Dan aku membiarkan! Ya, aku diam saja! Seperti boneka kayu, melihat, merasakan, tapi tak bergerak! (tertawa getir) Dan apa yang tersisa? Kesunyian. Sepi yang menelanku.
(Ia mulai mengelilingi panggung, melangkah lambat.)
Bayu:
Setelah semua itu, hidupku berubah. Sunyi. Sepi. Seperti sekarang. (diam sebentar) Ah, aku tahu apa yang kalian pikirkan. “Bayu, kenapa kau tak melupakan saja? Lanjutkan hidupmu!” (berpura-pura menirukan orang lain dengan nada tinggi) Hah! Lanjutkan hidup? Mudah berkata begitu, kalian tak tahu rasanya! Setiap langkahku, bayangannya ada di belakangku, berbisik... “Bayu, kau tak akan pernah lepas dariku.”
(Arahkan pandangan kepada penonton, menciptakan interaksi)
Bagaimana kalau kalian ada di posisiku? Punya seseorang yang kau pikir kau bisa percayai, lalu dia... (menghela napas panjang) Mungkin aku harus bertanya pada kalian. Apakah kalian pernah merasa dikhianati? Oh, tentu saja pernah. (mengejek) Siapa yang tidak?
(Dia duduk lagi, seakan lelah dengan dirinya sendiri.)
Bayu:
Aku mendengar orang bilang, "Karma itu ada, Bayu. Sabar saja, nanti juga dia kena batunya." Hah! Omong kosong! Karma itu, kalaupun datang, datang saat kita sudah tak lagi peduli. Saat kita sudah lelah menunggu. Lucu, kan? Seperti... (mendekat ke arah penonton) seperti cinta yang tiba saat kita sudah tak lagi punya hati untuk memberinya.
(Diam sebentar, lalu mengubah topik dengan nada satir)
Tapi tahu, aku tak butuh karma. Oh, tidak. Aku punya rencana sendiri. Aku yang akan memberinya apa yang pantas dia terima. (menyeringai) Ah, tenang saja, aku tak akan menyakitinya—tidak secara fisik. Itu terlalu... (berpikir) terlalu mudah. Kebuntuan, itu yang dia pantas dapatkan. Aku ingin dia merasakan apa yang kurasakan. Terperangkap. Sendiri.
(Berhenti sebentar, mengangkat satu alis, seolah sedang mengajukan pertanyaan yang sangat penting.)
Bayu:
Kalian pernah memendam dendam? Ya? Tidak? (menatap beberapa penonton) Oh, kalian terlihat seperti orang baik, pasti belum pernah, ya? (tertawa kecil) Biarkan aku yang mengajarimu, satu hal tentang dendam: dendam itu bukan tentang melukai orang lain. Tidak, tidak... (tertawa) Dendam adalah tentang bagaimana kau melukai dirimu sendiri... perlahan... sampai akhirnya... (membuka tangan lebar-lebar) kau terbiasa dengan rasa sakitnya.
(Dia terdiam sebentar, lalu duduk kembali.)
Bayu:
Tapi aku... aku sudah lelah. (menggelengkan kepala, seperti berbicara pada diri sendiri) Aku ini cinta kebuntuan. Aku peluk kesunyian. Mungkin, memang ini karma untukku... mencintai sesuatu yang takkan pernah mencintaiku kembali.
(Kepada penonton, serius)
Kalian, apa yang kalian cintai? Kebahagiaan? Kedamaian? Ah, klise... Aku, aku cinta kebuntuan. Menunggu. Sendiri. Kalian seharusnya coba, ini... menyenangkan! (tertawa, lalu terdiam)
(Kembali serius)
Tapi begini... karma itu ada. Bukan untuk mereka yang aku benci, tapi untukku, yang terus memendam dendam. Karena kini aku terjebak. Terjebak dalam perangkap yang kubuat sendiri. Meringkuk dalam kebencian dan dendam masa lalu. Itulah tragedi sejatiku.
(Lampu perlahan meredup. Bayu duduk, tatapan kosong ke depan, terperangkap dalam kesunyian yang semakin pekat.)
Bayu:
Dan begitulah... karma bekerja. Kau bisa lari sejauh mungkin, tapi ia selalu lebih cepat. Kau pikir kau mengejarnya, tapi sebenarnya... kau yang sedang dikejar. (tertawa pelan, lirih) Dan kini... aku lelah. Terlalu lelah untuk melanjutkan kebuntuan ini.
(Lampu padam. Gelap total. Hanya suara detik jam yang terus terdengar.)
(Tamat.)
---
Dalam diam penuh dendam dan dosa di Bati-Bati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar