Kamis, 26 Desember 2024

NGAJI IHYA #9 : PENTINGNYA MEMAHAMI AGAMA

#9 NGAJI IHYA
PENTINGNYA MEMAHAMI AGAMA
وقال صلى الله عليه وسلم: الناس معادن كمعادن الذهب والفضة، فخيارهم في الجاهلية خيارهم في الإسلام إذا فقهوا. وقال صلى الله عليه وسلم: يوزن يوم القيامة مداد العلماء بدم الشهداء. وقال صلى الله عليه وسلم : من حفظ على أمتى أربعين حديثا من السنة حتى يؤديها إليهم كنت له شفيعا وشهيداً يوم القيامة. وقال صلى الله عليه وسلم: من حمل من أمتى أربعين حديثا لقى الله عز وجل يوم القيامة فقيها عليما. 

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Manusia itu ibarat logam, seperti logam emas dan perak. Sebaik-baik mereka pada masa jahiliah adalah yang terbaik pula di dalam Islam, jika mereka memahami agama."

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Pada hari kiamat, tinta para ulama akan ditimbang dengan darah para syuhada."

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa yang menjaga 40 hadis dari sunahku hingga ia menyampaikannya kepada umatku, maka aku akan menjadi pemberi syafaat dan saksi baginya pada hari kiamat."

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa yang menghafal 40 hadis dari umatku, maka ia akan bertemu Allah Yang Maha Mulia pada hari kiamat sebagai seorang yang faqih (ahli dalam agama) dan alim (berilmu)."

Dapatlah dijelaskan bahwa :
1. "Manusia itu ibarat logam, seperti logam emas dan perak. Sebaik-baik mereka pada masa jahiliah adalah yang terbaik pula di dalam Islam, apabila mereka memahami (agama)."
Hadis ini menggambarkan bahwa setiap manusia memiliki potensi dan kualitas yang berbeda, seperti logam yang memiliki nilai dan sifat yang beragam. Orang-orang yang memiliki sifat-sifat baik di masa jahiliah, seperti keberanian, kedermawanan, dan kejujuran, akan tetap menjadi yang terbaik di dalam Islam apabila mereka mendalami dan memahami ajaran Islam. Islam tidak menghapus kelebihan seseorang, melainkan menyempurnakannya dengan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan.

2. "Pada hari kiamat, tinta para ulama akan ditimbang dengan darah para syuhada."
Hadis ini menunjukkan kedudukan tinggi para ulama yang menyebarkan ilmu agama. Tinta yang digunakan untuk menulis ilmu dianggap setara atau bahkan lebih berat daripada darah para syuhada, karena ilmu yang mereka sebarkan dapat menjadi petunjuk dan manfaat yang berlangsung lama bagi umat manusia. Ilmu adalah cahaya yang membimbing manusia kepada kebenaran, sehingga perannya sangat besar dalam Islam.

3. "Barang siapa yang menjaga 40 hadis dari sunahku, lalu menyampaikannya kepada umatku, maka aku akan menjadi pemberi syafaat dan saksi baginya pada hari kiamat."
Hadis ini menunjukkan keutamaan menyampaikan hadis Rasulullah ﷺ kepada orang lain. Menghafal dan mengajarkan 40 hadis dari sunah Nabi adalah ibadah yang sangat mulia, karena dapat melestarikan ajaran Nabi dan membawa manfaat besar bagi umat Islam. Orang yang melakukannya dijanjikan syafaat Rasulullah ﷺ pada hari kiamat, yang merupakan nikmat luar biasa.

4. "Barang siapa yang menghafal 40 hadis dari umatku, maka ia akan menemui Allah Yang Maha Mulia pada hari kiamat dalam keadaan sebagai seorang faqih (ahli agama) dan alim (berilmu)."
Hadis ini mempertegas keutamaan menghafal dan memahami hadis. Orang yang menjaga 40 hadis dengan niat yang tulus akan mendapatkan kemuliaan di sisi Allah pada hari kiamat sebagai seorang yang faqih dan alim. Hal ini menunjukkan pentingnya menuntut ilmu, khususnya ilmu agama, sebagai jalan untuk meraih ridha Allah dan kedudukan yang mulia di dunia dan akhirat.

Secara keseluruhan, hadis-hadis ini menekankan pentingnya pemahaman agama, penyebaran ilmu, dan penghormatan terhadap para ulama yang berjasa dalam menjaga dan mengajarkan ajaran Islam.

Minggu, 22 Desember 2024

NGAJI IHYA #8 AHLI ILMU DAN AHLI JIHAD

#8 NGAJI IHYA
وقال صلى الله عليه وسلم : أفضل الناس المؤمن العالم الذي إن احتيج إليه نفع، وإن استغنى عنه أغنى نفسه. وقال صلى الله عليه وسلم : الإيمان عريان ولباسه التقوى وزينته الحياء وثمرته العلم. وقال صلى الله عليه وسلم : أقرب الناس من درجة النبوة، أهل العلم والجهاد، أما أهل العلم فدلوا الناس على ما جاءت به الرسل، وأما أهل الجهاد فجاهدوا بأسيافهم على ما جاءت به الرسل. وقال صلى الله عليه وسلم : الموت قبيلة خير من موت عالم.

Nabi Muhammad saw. bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah seorang mukmin yang berilmu. Jika dibutuhkan, ia memberikan manfaat; dan jika tidak dibutuhkan, ia mencukupi dirinya sendiri."

Beliau juga bersabda: "Iman itu telanjang, pakaian imannya adalah takwa, perhiasannya adalah rasa malu, dan buahnya adalah ilmu."

Beliau juga bersabda: "Orang yang paling dekat derajatnya dengan kenabian adalah ahli ilmu dan ahli jihad. Adapun ahli ilmu, mereka menunjuki manusia kepada apa yang dibawa oleh para rasul; sedangkan ahli jihad, mereka berjuang dengan pedang mereka untuk membela apa yang dibawa oleh para rasul."

Beliau juga bersabda: "Kematian satu kabilah lebih baik daripada kematian seorang alim."

Dapatlah dipahami bahwa :
1. Sebaik-baik manusia adalah seorang mukmin yang berilmu. Jika dibutuhkan, ia memberikan manfaat; dan jika tidak dibutuhkan, ia mencukupi dirinya sendiri.

Hadis ini menunjukkan keutamaan seorang mukmin yang berilmu. Ilmu menjadi ciri utama seseorang yang dapat memberikan manfaat kepada orang lain, baik melalui nasihat, pengajaran, maupun solusi dalam permasalahan. Di saat orang lain tidak membutuhkan bantuannya, ia tetap memiliki kemandirian dengan mencukupi dirinya sendiri, sehingga tidak menjadi beban bagi orang lain.

2. Iman itu telanjang, pakaian imannya adalah takwa, perhiasannya adalah rasa malu, dan buahnya adalah ilmu.

Hadis ini menjelaskan bahwa iman memerlukan komponen pelengkap agar sempurna:

Pakaian iman adalah takwa: Takwa menjadi penghalang dari perbuatan dosa dan pelindung dari keburukan.

Perhiasannya adalah rasa malu: Rasa malu untuk berbuat dosa atau melanggar perintah Allah memperindah iman seseorang.

Buahnya adalah ilmu: Ilmu yang benar akan menjadi hasil dari iman yang kuat, karena ilmu membimbing seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah.

3. Orang yang paling dekat derajatnya dengan kenabian adalah ahli ilmu dan ahli jihad.

Hadis ini menunjukkan bahwa ahli ilmu dan ahli jihad memiliki kedudukan yang mulia di sisi Allah:

Ahli ilmu: Mereka meneruskan tugas para nabi, yaitu menyampaikan petunjuk dan ajaran agama kepada umat manusia.

Ahli jihad: Mereka berjuang membela ajaran para nabi, baik secara fisik, mental, maupun spiritual, demi menjaga agama dari ancaman.

4. Kematian satu kabilah lebih baik daripada kematian seorang alim.

Hadis ini menggambarkan betapa pentingnya seorang alim (orang berilmu) bagi masyarakat. Kehilangan seorang alim berdampak lebih besar daripada kehilangan sekelompok besar orang (satu kabilah), karena seorang alim memberikan bimbingan yang menjadi cahaya bagi umat. Ketiadaan alim dapat menyebabkan kebodohan dan kesesatan dalam masyarakat.

Semua hadis di atas menekankan pentingnya ilmu, iman, dan perjuangan dalam Islam. Orang yang berilmu memiliki tanggung jawab besar untuk menuntun umat, menjaga agama, dan memberikan manfaat kepada orang lain, baik dengan ilmu maupun amalnya.

NGAJI IHYA #7 KEDUDUKAN ORANGYANG BERILMU

#7 NGAJI IHYA
KEDUDUKAN ORANGYANG BERILMU

وقال صلى الله عليه وسلم : " يستغفر للعالم ما في السموات والأرض وأى منصب يزيد على منصب من تشتغل ملائكة السماء والأرض بالاستغفار له فهو مشغول بنفسه، وهم مشغولون بالاستغفار له وقال صلى الله عليه وسلم : إن الحكمة تزيد الشريف شرفًا، وترفع المملوك حتى يدرك مدارك الملوك وقد نبه بهذا على ثمرته في الدنيا ومعلوم أن الآخرة خير وأبقى. وقال صلى الله عليه وسلم : خصلتان لا يكونان في منافق : حسن سمت، وفقه في الدين ولا تشكن في الحديث لنفاق بعض فقهاء الزمان، فإنه ما أراد به الفقه الذي ظننته، وسيأتي معنى الفقه، وأدنى درجات الفقيه أن يعلم أن الآخرة خير من الدنيا، وهذه المعرفة إذا صدقت وغلبت عليه برئ بها من النفاق والرياء. 

Rasulullah ﷺ bersabda: "Segala yang ada di langit dan di bumi memohon ampunan untuk seorang alim (orang yang berilmu). Adakah kedudukan yang lebih tinggi dari kedudukan seseorang yang para malaikat di langit dan bumi sibuk memohon ampunan untuknya, sedangkan ia sendiri sibuk dengan dirinya?"

Beliau ﷺ juga bersabda: "Hikmah menambah kemuliaan seseorang yang mulia, dan mengangkat derajat seorang budak hingga mencapai kedudukan para raja." Dalam sabda ini, beliau menunjukkan manfaat hikmah di dunia. Namun, diketahui bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik dan kekal.

Rasulullah ﷺ juga bersabda: "Ada dua sifat yang tidak akan ditemukan pada seorang munafik: perilaku yang baik dan pemahaman yang mendalam dalam agama." Jangan ragu terhadap hadis ini karena melihat kemunafikan sebagian ahli fikih di zaman ini, sebab yang dimaksud dengan pemahaman mendalam di sini bukan seperti yang kamu bayangkan. Penjelasan tentang makna fikih akan datang kemudian.

Tingkatan paling rendah dari seorang ahli fikih adalah mengetahui bahwa akhirat lebih baik daripada dunia. Pengetahuan ini, jika benar dan mendominasi dirinya, akan membebaskannya dari sifat munafik dan riya.

Dari penjelasan diatas dapatlah dipahami bahwa :
1. Segala yang ada di langit dan di bumi memohon ampunan untuk seorang alim

Maksudnya: Hadis ini menegaskan kedudukan mulia orang yang berilmu (alim). Mereka dihormati tidak hanya di kalangan manusia, tetapi juga oleh makhluk Allah yang lain, baik di langit (seperti para malaikat) maupun di bumi (seperti hewan dan tumbuhan). Permohonan ampunan untuk mereka menunjukkan bahwa keberadaan mereka membawa manfaat besar bagi kehidupan.

Secara mendalam berarti orang yang berilmu tidak hanya sibuk memperbaiki dirinya dengan ilmu, tetapi ilmunya juga berdampak pada orang lain. Sebagai balasannya, para malaikat dan makhluk lainnya mendoakan kebaikan dan ampunan untuk mereka.

2. Hikmah menambah kemuliaan seseorang yang mulia, dan mengangkat derajat seorang budak hingga mencapai kedudukan para raja

Hikmah atau kebijaksanaan membuat seseorang semakin mulia. Orang yang sudah memiliki kedudukan terhormat akan semakin dihormati jika ia memiliki kebijaksanaan.

Hikmah dapat mengangkat derajat seseorang yang dalam posisi rendah secara sosial (seperti seorang budak), hingga ia mampu mencapai derajat yang setara dengan raja dalam hal kehormatan dan pengaruh.

Peslu ditekankan bahwa hikmah di dunia memberi manfaat besar, tetapi ini hanya sebagian kecil dibandingkan manfaat hikmah di akhirat, yang kekal dan jauh lebih utama.

3. Ada dua sifat yang tidak akan ditemukan pada seorang munafik: perilaku yang baik dan pemahaman mendalam dalam agama

Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa seorang munafik tidak akan memiliki sifat-sifat tertentu:

Perilaku yang baik ( حسن سمت ): Mengacu pada akhlak mulia, seperti kelembutan hati, kejujuran, dan rasa tanggung jawab.

Pemahaman mendalam dalam agama ( فقه في الدين ): Mengacu pada pemahaman yang benar tentang ajaran agama, termasuk keyakinan bahwa akhirat lebih utama daripada dunia.

Sangat penting untuk diingat jika seseorang benar-benar memahami agama, ia akan terbebas dari sifat munafik, karena pemahaman yang mendalam melahirkan keikhlasan dan amal yang sesuai dengan tuntunan.

4. Tingkatan paling rendah dari seorang ahli fikih adalah mengetahui bahwa akhirat lebih baik daripada dunia

Orang yang benar-benar memahami agama akan memiliki keyakinan yang kuat bahwa kehidupan akhirat jauh lebih berharga daripada dunia.

Implikasi dari keyakinan ini akan mendorong mereka untuk beramal dengan ikhlas dan meninggalkan sifat-sifat buruk seperti riya (pamer) dan nifaq (kemunafikan), karena mereka sadar bahwa segala sesuatu di dunia hanya sementara.

Pengetahuan agama yang benar tidak hanya teori, tetapi harus melahirkan perubahan dalam sikap dan perilaku seseorang.

Secara umum hadis ini menekankan keutamaan ilmu dan hikmah dalam membentuk karakter manusia. Orang berilmu dan bijaksana tidak hanya dihormati oleh manusia, tetapi juga oleh makhluk lainnya. Pengetahuan agama yang mendalam, jika dipahami dengan benar, akan menyelamatkan seseorang dari sifat-sifat buruk seperti riya dan nifaq, serta mempersiapkan mereka untuk kehidupan akhirat yang lebih utama dan kekal.

Wallahu A'lam

NGAJI IHYA #6 KEDUDUKAN ILMU

#6 NGAJI IHYA
Kedudukan Ilmu
واما الاخبار فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من يرد الله به خيرا يفقهه فى الدين ويلهمه رشده. وقال صلى الله عليه وسلم العلماء ورثة الانبياء. ومعلوم انه لا رتبة فوق النبوة ولا شرف فوق شرف الوراثة الى هنا لتلك الرتبة.

Adapun dalil dari hadis yang berkaitan dengan keutamaan ilmu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan kebaikan, maka Allah akan memahamkannya dalam agama dan mengilhaminya jalan yang benar."

Beliau juga bersabda: "Para ulama adalah pewaris para nabi."

Telah diketahui bahwa tidak ada kedudukan yang lebih tinggi dari kenabian dan tidak ada kemuliaan yang melebihi kemuliaan mewarisi kedudukan tersebut.

Dari hadits nabi tersebut menekankan keutamaan ilmu agama dan kedudukan mulia para ulama dalam Islam. Maka dapatlah dipahami sebagai berikut :

1. “Barang siapa yang dikehendaki Allah untuk mendapatkan kebaikan, maka Allah akan memahamkannya dalam agama dan mengilhaminya jalan yang benar.”
Hadis ini menunjukkan bahwa pemahaman agama (fiqih) adalah salah satu tanda kebaikan dari Allah. Orang yang memahami agama memiliki kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan salah, serta memahami tujuan dari ajaran Islam. Pemahaman ini tidak hanya bersifat intelektual, tetapi juga mencakup kemampuan spiritual dan moral untuk menjalani kehidupan sesuai petunjuk Allah. "Mengilhaminya jalan yang benar" menunjukkan bahwa Allah memberikan bimbingan langsung kepada hati mereka yang dikehendaki-Nya, sehingga mereka mampu mengambil keputusan yang tepat dalam berbagai situasi.

2. “Para ulama adalah pewaris para nabi.”
Hadis ini menggarisbawahi posisi mulia para ulama sebagai penerus misi kenabian. Para nabi tidak meninggalkan warisan berupa harta benda, tetapi berupa ilmu, hikmah, dan ajaran agama. Ulama yang sejati adalah mereka yang menjaga, memahami, dan menyebarkan ilmu tersebut dengan amanah. Kedudukan mereka sebagai pewaris para nabi memberikan tanggung jawab besar untuk menuntun umat manusia kepada kebenaran.

3. “Tidak ada kedudukan yang lebih tinggi dari kenabian dan tidak ada kemuliaan yang melebihi kemuliaan mewarisi kedudukan tersebut.”
Kalimat ini menegaskan bahwa kenabian adalah puncak tertinggi dalam hirarki kehormatan manusia, karena nabi adalah perantara antara Allah dan manusia dalam menyampaikan wahyu. Pewarisan kedudukan kenabian oleh para ulama (dalam bentuk ilmu dan amal) adalah kehormatan yang luar biasa. Namun, meskipun mereka mewarisi tugas ini, ulama tidak menyamai nabi dalam status dan derajat. Hal ini mengingatkan bahwa kedudukan ilmu agama dalam Islam sangat tinggi, dan ulama memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga warisan kenabian dengan amanah.

Dapatlah kita pahami dari hadis-hadis ini menunjukkan bahwa pemahaman agama adalah salah satu karunia Allah yang paling besar, dan ulama memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam sebagai penjaga, penerus, dan penyebar ajaran para nabi. Kehormatan ini membawa tanggung jawab besar untuk menjaga kemurnian ilmu, mengamalkannya, dan menyebarkannya kepada umat manusia.

Wallahu A'lam.

NGAJI IHYA #5 ILMU ADALAH NIKMAT

#5 NGAJI IHYA
Ilmu Adalah Nikmat
وقال تعالى ولقد جئناهم بكتاب فصلناه على علم. وقال تعالى فلنقصن عليهم بعلم. وقال عز وجل : بل هو ايات بينات في صدور الذين اوتوا العلم. وقال تعالى خلق الانسان، علمه البيان. واما ذكر ذلك فى معرض الامتنان. 

Allah Ta’ala berfirman: “Sungguh, Kami telah mendatangkan kepada mereka sebuah kitab yang telah Kami jelaskan dengan ilmu.” (QS. Al-A’raf: 52).

Allah juga berfirman: “Maka pasti Kami akan menceritakan kepada mereka (segala amal mereka) dengan ilmu.” (QS. Al-A’raf: 7).

Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung berfirman: “Bahkan Al-Qur’an itu adalah ayat-ayat yang jelas, yang tersimpan dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.” (QS. Al-Ankabut: 49).

Dan Dia berfirman: “Dia menciptakan manusia dan mengajarkannya penjelasan.” (QS. Ar-Rahman: 3-4).

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa ilmu adalah salah satu nikmat besar dari Allah, yang Dia sebutkan dalam konteks pujian dan anugerah. Allah tidak hanya menurunkan kitab dengan ilmu, tetapi juga menanamkan ilmu itu ke dalam hati orang-orang pilihan-Nya, menunjukkan betapa besar rahmat dan karunia-Nya dalam memberikan kemampuan untuk memahami, menjelaskan, dan merenungkan ayat-ayat-Nya.

Ayat-ayat di atas menekankan hubungan antara wahyu, ilmu, dan kemampuan manusia yang dianugerahkan oleh Allah. Berikut adalah penjelasan terkait ayat-ayat tersebut:

1. "Sungguh, Kami telah mendatangkan kepada mereka sebuah kitab yang telah Kami jelaskan dengan ilmu." (QS. Al-A’raf: 52):
Ayat ini menunjukkan bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang diturunkan dengan penjelasan yang terperinci berdasarkan ilmu Allah yang sempurna. Ilmu yang dimaksud di sini mencakup seluruh dimensi ilmu, baik yang berkaitan dengan aturan-aturan hidup, moral, maupun ilmu pengetahuan. Ayat ini juga mengisyaratkan bahwa Al-Qur'an adalah sumber utama ilmu yang memandu manusia dalam memahami kebenaran dan menjalani kehidupan sesuai kehendak Allah.

2. "Maka pasti Kami akan menceritakan kepada mereka (segala amal mereka) dengan ilmu." (QS. Al-A’raf: 7):
Ayat ini menegaskan bahwa Allah akan mengungkap dan menghisab segala perbuatan manusia di akhirat berdasarkan ilmu-Nya yang sempurna. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan-Nya. Penekanan pada "ilmu" menunjukkan bahwa keadilan Allah didasarkan pada pengetahuan yang mutlak, tanpa celah kesalahan atau kekurangan.

3. "Bahkan Al-Qur'an itu adalah ayat-ayat yang jelas, yang tersimpan dalam dada orang-orang yang diberi ilmu." (QS. Al-Ankabut: 49):
Ayat ini menekankan keistimewaan para pemilik ilmu, yaitu mereka yang mampu menghafal, memahami, dan mengamalkan Al-Qur'an. Al-Qur'an menjadi cahaya dalam hati mereka yang terpilih untuk diberi ilmu, menunjukkan bahwa ilmu sejati berasal dari pemahaman mendalam terhadap wahyu Allah. Penegasan bahwa ayat-ayat ini "tersimpan dalam dada" mengisyaratkan pentingnya penginternalisasian nilai-nilai wahyu dalam kehidupan sehari-hari.

4. "Dia menciptakan manusia dan mengajarkannya penjelasan." (QS. Ar-Rahman: 3-4):
Ayat ini mengungkap salah satu keistimewaan manusia yang membedakannya dari makhluk lain, yaitu kemampuan untuk berkomunikasi, menjelaskan, dan memahami. Kemampuan ini adalah manifestasi dari karunia ilmu yang Allah anugerahkan kepada manusia. Dalam konteks ini, Allah menyebutkan nikmat-Nya sebagai bentuk pujian dan anugerah, menegaskan bahwa kemampuan manusia dalam berbicara, memahami, dan menjelaskan adalah bagian dari tanda kekuasaan-Nya.

Penyebutan nikmat dalam konteks pujian (مقام الامتنان):"
Dalam hal ini, ilmu disinggung sebagai salah satu nikmat terbesar Allah yang patut disyukuri. Penekanan pada ilmu dalam wahyu menunjukkan bahwa ilmu adalah dasar bagi manusia untuk menjalani kehidupan yang penuh berkah, memahami tujuan hidup, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Secara keseluruhan, ayat-ayat ini menunjukkan betapa pentingnya ilmu dalam Islam. Ilmu adalah alat untuk memahami wahyu, menjelaskan kebenaran, dan memelihara keadilan. Allah tidak hanya memberikan wahyu dalam bentuk kitab, tetapi juga menanamkan kemampuan dalam diri manusia untuk memahami dan menjelaskannya. Hal ini memperkuat posisi ilmu sebagai salah satu pilar utama dalam ajaran Islam.

NGAJI IHYA #4 HUBUNGAN ILMU DAN YANG LAINNYA

#4 NGAJI IHYA
HUBUNGAN ILMU DAN YANG LAINNYA
وقال تعالى : ولو ردوه الى الرسول والى اولى الامر منهم لعلمه الذين يستنبطونه منهم. رد حكمه فى الوقائع الى استنباطهم والحق رتبتهم برتبة الانبياء في كشف حكم الله. وقيل في قوله تعالى : يبني ادم قد انزلنا عليكم لباسا يوارى سوءاتكم. يعنى العلم وريشايعنى اليقين ولباس التقوى يعنى الحياء

 Allah Ta'ala berfirman: "Dan jika mereka menyerahkannya kepada Rasul dan para pemimpin di antara mereka, maka orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan memahaminya dari mereka." (QS. An-Nisa: 83). Ini menunjukkan bahwa keputusan mengenai peristiwa diserahkan kepada penafsiran mereka (para pemimpin), dan Allah menyamakan derajat mereka dengan para nabi dalam hal memahami hukum Allah.

Ada pula pendapat mengenai firman-Nya: "Wahai anak-anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian..." (QS. Al-A'raf: 26), yang diartikan sebagai ilmu, dan "hiasan" diartikan sebagai keyakinan, sedangkan "pakaian takwa" diartikan sebagai rasa malu.

Kalimat-kalimat di atas memuat tafsir dan penjelasan terkait ayat-ayat Al-Qur'an yang menyoroti hubungan antara wahyu, kepemimpinan, dan nilai-nilai akhlak. Berikut adalah penjelasannya:

1. "Dan jika mereka menyerahkannya kepada Rasul dan para pemimpin di antara mereka, maka orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan memahaminya dari mereka" (QS. An-Nisa: 83):
Ayat ini menunjukkan pentingnya menyerahkan persoalan hukum atau masalah yang rumit kepada pihak yang memiliki otoritas, yakni Rasulullah saw. dan para pemimpin (ulil amri). Hal ini mengindikasikan bahwa mereka memiliki kemampuan istinbat (mengambil hukum dari dalil) yang mendalam. Dengan demikian, keilmuan mereka dalam memahami wahyu Allah disamakan dengan tingkatan para nabi dalam pengungkapan hukum Allah, meskipun tentu derajat kenabian tidak sama.

2. "Wahai anak-anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutupi aurat kalian..." (QS. Al-A'raf: 26):
Tafsir ini menghubungkan "pakaian" dengan ilmu. Ilmu adalah sarana untuk menutupi kekurangan manusia dalam memahami hakikat kehidupannya.

"Hiasan" diartikan sebagai keyakinan (yaqin):
Keyakinan dihias sebagai sesuatu yang memperindah dan melengkapi ilmu, karena ilmu yang kokoh hanya bermakna jika disertai keyakinan yang benar.

"Pakaian takwa" diartikan sebagai rasa malu (haya'):
Rasa malu adalah bentuk dari ketakwaan, yang mendorong seseorang menjauh dari dosa dan berperilaku mulia. Dalam Islam, rasa malu adalah salah satu ciri keimanan yang paling nyata.

Keseluruhan penjelasan ini menekankan pentingnya ilmu, keyakinan, dan akhlak (seperti rasa malu) sebagai elemen yang saling melengkapi untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan panduan Allah.

NGAJI IHYA #3 ILMU ADALAH SUMBER

#3 NGAJI IHYA
Ilmu Adalah Sumber
وقال تعالى قال الذي عنده علم من الكتاب انا اتيك به. تنبيها على انه اقتدر بقوة العلم. وقال عز وجل وقال الذين اوتوا العلم ويلكم ثواب الله خير لمن ءامن وعمل صالحا، بين ان عظم قدر الأخرة يعلم بالعلم. وقال تعالى وتلك الامثال نضربها للناس وما يعقلها الا العاملون. 

Firman Allah Ta'ala:
"Orang yang memiliki ilmu dari kitab berkata, 'Aku akan membawanya kepadamu.'"
Ayat ini mengingatkan bahwa kekuatan dan kemampuan berasal dari ilmu.

Firman Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung:
"Dan orang-orang yang diberi ilmu berkata, 'Celakalah kalian! Pahala Allah lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal shalih.'"
Ayat ini menjelaskan bahwa keutamaan dan nilai akhirat hanya bisa diketahui melalui ilmu.

Firman Allah Ta'ala:
"Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia, tetapi hanya orang-orang berilmu yang dapat memahaminya."
Ayat ini menegaskan bahwa pemahaman terhadap perumpamaan-perumpamaan Allah hanya dapat dicapai oleh orang-orang yang memiliki ilmu.

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa ilmu bukan hanya alat untuk memahami dunia, tetapi juga jalan menuju kekuatan, kebenaran, dan kesadaran yang mendalam tentang tujuan hidup.

1. Ilmu sebagai sumber kekuatan
Dalam ayat pertama ("Aku akan membawanya kepadamu"), kita diajarkan bahwa ilmu memberikan kemampuan luar biasa yang tidak dimiliki oleh sembarang orang. Ilmu menjadikan seseorang mampu melakukan hal-hal yang tampak mustahil. Ini menggambarkan betapa pentingnya ilmu sebagai sumber kekuatan yang sejati.

2. Ilmu membuka kesadaran tentang nilai akhirat
Pada ayat kedua ("Pahala Allah lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal shalih"), ditekankan bahwa hanya dengan ilmu, seseorang dapat memahami betapa agungnya pahala akhirat dibandingkan kenikmatan dunia. Ilmu adalah cahaya yang membimbing manusia untuk memilih yang benar dan abadi, bukan yang sementara dan menipu.

3. Ilmu sebagai kunci memahami hikmah Allah
Ayat terakhir ("Hanya orang-orang berilmu yang dapat memahaminya") mengajarkan bahwa hikmah dari perumpamaan-perumpamaan Allah tidak bisa dipahami oleh semua orang. Ilmu membedakan antara orang yang sekadar melihat dan orang yang benar-benar memahami. Dengan ilmu, kita mampu menangkap makna mendalam dari tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.

Kesimpulannya, ilmu adalah fondasi kehidupan. Ia memberi kekuatan, membimbing kita pada jalan yang benar, dan memungkinkan kita untuk memahami hikmah Allah. Maka, menuntut ilmu adalah ibadah, karena melalui ilmu kita mendekat kepada Allah dan meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

NGAJI IHYA #2 KEDUDUKAN ORANG YANG BERILMU

#2 NGAJI IHYA
Kedudukan Orang Yang Berilmu
وقال تعالى يرفع الله الذين أمنوا منكم والذين اوتوا العلم درجات. وقال ابن عباس رضي الله عنهما للعلماء درجات فوق المؤمنين بسبعمائة درجة. بين الدرجتين مسيرة خمسمائة عام. وقال عز وجل قل هل يستوى الذين يعلمون والذين لا يعلمون. وقال تعالى انما يخشى الله من عباده العلماء. وقال تعالى قل كفى بالله شهيدا بيني وبينكم ومن عنده علم الكتاب.

Allah SWT berfirman: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “Para ulama memiliki derajat yang lebih tinggi dibandingkan orang-orang beriman biasa, dengan selisih 700 derajat. Jarak antara dua derajat tersebut adalah perjalanan 500 tahun.”

Allah SWT juga berfirman: “Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9).

Dan Allah SWT berfirman lagi: “Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama.” (QS. Fathir: 28).

Serta Allah SWT berfirman: “Katakanlah, cukuplah Allah sebagai saksi antara aku dan kamu, serta orang yang memiliki ilmu tentang kitab.” (QS. Ar-Ra'd 43)
 
Ayat-ayat diatas menyampaikan pesan mendalam tentang keutamaan ilmu dalam pandangan Islam. Penjelasannyadalah sebagai berikut :

1. Kedudukan Tinggi bagi Orang Berilmu
Allah SWT dalam firman-Nya di QS. Al-Mujadilah: 11 menegaskan bahwa orang beriman yang memiliki ilmu akan diangkat derajatnya. Ini menunjukkan bahwa keimanan dan ilmu adalah dua hal yang saling melengkapi. Ilmu yang dimaksud bukan hanya pengetahuan duniawi, tetapi ilmu yang mendekatkan seorang hamba kepada Allah.

2. Keistimewaan Ulama
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma menggambarkan betapa tingginya kedudukan ulama, yakni selisih 700 derajat dibandingkan orang beriman biasa, dengan jarak yang sangat jauh antar setiap derajat. Ini bukan hanya soal jumlah, tetapi menunjukkan penghargaan Allah terhadap perjuangan ulama yang menjaga dan menyebarkan ilmu untuk kemaslahatan umat.

3. Perbandingan Orang Berilmu dan Tidak
QS. Az-Zumar: 9 menantang kita dengan sebuah pertanyaan retoris: "Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui?" Jawabannya jelas tidak. Orang berilmu mampu melihat dunia dengan hikmah, memahami kebenaran, dan menjalankan kehidupannya dengan arah yang jelas.

4. Takut kepada Allah sebagai Buah Ilmu
Dalam QS. Fathir: 28, Allah menyebut bahwa yang paling takut kepada-Nya adalah ulama. Ini karena ilmu membawa pemahaman mendalam tentang kebesaran Allah, yang pada gilirannya menumbuhkan rasa takut dan cinta kepada-Nya. Takut di sini bukan dalam arti negatif, melainkan rasa hormat dan kesadaran akan keagungan-Nya.

5. Ilmu sebagai Kesaksian Kebenaran
QS. Ar-Ra’d: 43 menunjukkan bahwa ilmu juga menjadi dasar kesaksian atas kebenaran. Orang yang berilmu bukan hanya memahami kebenaran, tetapi juga menjadi saksi yang memperkuat bukti-bukti keesaan Allah dan kebenaran ajaran-Nya.

Kesimpulannya, ilmu dalam Islam bukan sekadar alat untuk mengenal dunia, tetapi juga jalan untuk mengenal Allah. Orang-orang yang berilmu memiliki tanggung jawab besar, karena ilmu mereka adalah cahaya yang harus menerangi umat. Maka, menjadi pencari ilmu bukan hanya kewajiban, tetapi juga kehormatan dan jalan menuju derajat yang tinggi di sisi Allah.

NGAJI IHYA #1 KEUTAMAAN ILMU

#1 NGAJI IHYA
Keutamaan Ilmu

فضيلة العلم : شواهدها من القرأن قوله تعالى شهد الله انه لا اله الا هو والملائكة واولو العلم قائما بالقسط. فانظر كيف بدأ سبحانه وتعالى بنفسه وثنى بالملائكة و ثلث باهل العلم وناهيك بهذا شرفا وفضلا وجلاء ونبلا. 

Keutamaan ilmu dapat kita pahami dari firman Allah dalam Al-Qur'an:

"Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, para malaikat, dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan hal itu dengan penuh keadilan." (QS. Ali Imran: 18)

Perhatikanlah bagaimana Allah memulai dengan menyebut diri-Nya, kemudian para malaikat, dan setelah itu menyebut orang-orang yang berilmu. Ini menunjukkan betapa besar kehormatan, keutamaan, dan kemuliaan yang diberikan Allah kepada orang-orang yang berilmu.

====================================

Penjelasan dari ayat tersebut menunjukkan keutamaan ilmu dan orang-orang yang memiliki ilmu. Allah menempatkan ahli ilmu sejajar dengan para malaikat dalam hal memberikan kesaksian atas keesaan-Nya. Ini adalah bukti nyata bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kebenaran dan keadilan.

Orang yang memiliki ilmu agama, seperti ulama, mampu menjelaskan dan membuktikan keesaan Allah melalui dalil-dalil Al-Qur'an dan hadits. Misalnya, seorang ulama menjelaskan ayat-ayat Al-Qur'an yang menunjukkan keesaan Allah, seperti dalam ayat ini, sehingga umat Islam memahami dan memperkuat keyakinan mereka.

Dalam kehidupan sehari-hari, seorang pemimpin yang berilmu dapat memutuskan perkara dengan adil. Contohnya, seorang hakim yang memahami hukum syariat dan ilmu-ilmu terkait dapat memutuskan kasus dengan penuh keadilan tanpa terpengaruh oleh emosi atau tekanan.

Orang-orang berilmu tidak hanya memanfaatkan ilmu untuk dirinya sendiri, tetapi juga menyebarkan kebaikan. Misalnya, seorang guru agama mengajarkan murid-muridnya untuk hidup sesuai ajaran Islam, sehingga generasi berikutnya menjadi lebih baik.

Allah memberikan penghormatan kepada orang berilmu karena mereka menjadi perantara untuk menegakkan kebenaran dan menyebarkan keadilan di bumi. Orang yang berilmu tidak hanya belajar untuk dirinya, tetapi juga memberi manfaat kepada orang lain dengan ilmunya. Oleh karena itu, mencari ilmu adalah ibadah yang sangat mulia dalam Islam.

Rabu, 18 Desember 2024

PUISI : SAYANG AKU TAK TEGA KETIKA KAU HARUS

SAYANG AKU TAK TEGA KETIKA KAU HARUS

Hadani Had


Di hatiku melihat pedihnya matamu sendu

Tapi kau menahan dengan senyum dan rindu

Merenung dalam diammu

Meraba dalam rasamu

Kau, menabur rasa seperti roti yang hangat

Dan kau bagi-bagi


Hari ini ketika kita sedang menikmati santap nikmat dengan segala rasa

Tetiba kau berdiri pada titian kecil

Kemudian aku terkagum

Dan kau meringis menahan sakit

Ku tanya : dimana yang sakit, kita sekarang ke Tambak Kuning


Dengan senyum yang ku tahu itu menahan sakit

Tidak perlu

Aku masih kuat

Aku tidak merasakan apa-apa

Bukankah kau sedang sibuk

Ya … aku berlalu


Di Pelaihari, hatiku tak bisa berbohong

Aku tak bisa meninggalkan wajahmu dari pikirku

Aku harus pulang

Menjemputmu

Membawamu

Dan menunaikan kewajibanku sebagai lelakimu

Aku tak tahan kalau harus melihatmu seperti itu


Tambak Kuning, 23 Desember 2024


Jumat, 13 Desember 2024

MONOLOG SI JALANG

SI JALANG
Hadani Had

SEBUAH TEMPAT YANG TERBUAT DARI KAYU, HAMPIR MIRIP SEPERTI KANDANG SAPI. TAMPAKNYA SUDAH BERWARNA USANG KARENA SUDAH TERMAKAN USIA. DI SANA-SINI TAMPAK BERSERAKAN BEKAS-BEKAS MAKANAN, BERHAMBURAN DAN MEMBUAT PEMANDANGAN TERASA BEGITU MENJIJIKKAN. KERTAS-KERTAS TUA YANG SUDAH USANG BERHAMBURAN KESANA-KEMARI, ADA JUGA KERTAS KORAN.
DI SAMPING KANDANG ITU ADA SEBUAH MEJA UNTUK MENARUH MAKANAN, DAN MEJA ITU ADA PISAU BELATI YANG BEGITU SULIT UNTUK DI JANGKAU BILA KITA SEDANG BERADA DI DALAM TEMPAT YANG MIRIP KANDANG TERSEBUT.
DI DALAM BENDA MIRIP KANDANG ITU ADA SEORANG WANITA MUDA YANG TIDAK TERURUS DAN PAKAIANNYA COMPANG-CAMPING SERTA KAKINYA DI PASUNG DENGAN KAYU YANG DI IKAT BEGITU KUAT DENGAN TALI. WALAUPUN IA BERUSAHA MELEPASKANNYA MENGGUNAKAN TANGAN TETAP TIDAK BISA. MALAH HANYA AKAN MEMBUATNYA SAKIT.
TOKOH DALAM CERITA INI SANGAT TRAUMATIK, TERSIKSA DAN SUSAH DI AJAK BICARA. TAPI IA HANYA AKAN CERITA KEPADA BONEKA KESAYANGAN, YANG MENJADI TEMAN IMAJINASINYA.

Pade In :
INTRUDUKSI
TERDENGAR SUARA MUSIK YANG MENYAYAT MENGGAMBARKAN KESEDIHAN DAN KEPEDIHAN SI JALANG. LAMPU KEMUDIAN REMANG-REMANG MENYOROT KE KANDANG YANG DI TEMPATI PEREMPUAN LUSUH ITU, PEREMPUAN ITU BERGERAK-GERAK INGIN MELEPASKAN DIRI DARI PASUNGAN. TAPI, USAHANYA SIA-SIA SEBAB IKATAN ITU TERLALU KUAT BAGI DIRINYA YANG SANGAT LEMAH. DIA BERTERIAK.

Jalang
Tolong… ah… tolong lepaskan saya, apa salah saya sehingga saya dipasung seperti ini kenapa kalian jahat sekali. Hei tolonglah, siapapun yang ada di luar sana. Tolong saya ingin keluar dari tempat terkutuk ini. Ahkhhhkhhhhhh 

JALANG BERTERIAK DAN BERUSAHA MELEPASKAN DIRI DARI PASUNGAN ITU, TAPI SIA-SIA. IA HANYA BISA PASRAH DAN MENANGIS.
SUASANA BERANGSUR-ANGSUR TENANG. SI JALANG KEMUDIAN MENATAP KE ARAH PENONTON. MEMINTA PERHATIAN

Jalang : Bapak, ibu, saudara, dangsanak dan acil-acil yang saya hormati. Demi kemanusiaan, apakah kalian tidak kasihan melihat saya terpasung di sini. Hanya berteman dengan kesunyian, hanya di temani kepedihan, dan selalu di sayat kemelaratan. Ayo… dimana hati kalian, ketika melihat dangsanak kalian yang tanpa dosa ini terpasung dari kebebasan yang selama ini kita banggakan. Saya sendiri tak tahu, apa salah saya. Sehingga saya terdampar di tempat yang menjijikkan seperti ini. Setiap kali saya bertanya kepada mereka… mereka hanya tersenyum manis, seolah tanpa dosa.
JALANG BERPIKIR SEJENAK. SEPERTI MENGINGAT SESUATU YANG SERING IA DAPATI. 
Jalang : kadang saya berpikir, kalau saya tidak bersalah kenapa saya bisa di pasung disini. Nah kalau saya di pasung disini, berarti saya bersalah. Tapi apa salah saya. Ayo beri tahu saya… anda tahu apa salah saya. (Menunjuk kepada salah satu penonton) Anda tahu apa salah saya?... anda tidak tahu. Nah anda saja tidak tahu apa lagi saya. Aneh. Dunia ini memang aneh. Kadang kita tidak tahu dimana salah kita. Kita di tangkap polisi. Sebelum masuk penjara, kita di hajar habis-habisan. Terus setelah masuk sel tahanan, di hajar lagi sama tahanan yang sudah lama di sana. Yah, anggap saja sebagai perkenalan. Cuihhhh….. peraturan tahi kucing. Maling sandal jepit di tangkap di kurung selama 2 tahun penjara. Para koruptor bebas keluar masuk sel, malah mendapatkan AC. Seperti dirumah sendiri, ya mesti lah mereka adem ayem diam disana. Hukum kayaknya bisa di jual belikan di negara kita sekarang ini. Kapan negara kita bisa terlepas dari keterpurukan ini. Tajam kebwah, tumpul kaatas.
SI JALANG, MERASA MALU KARENA SUDAH  NGELANTUR KESANA KEMARI.
Jalang : Penonton, maaf saya sudah ngelantur kesana kemari, sekali lagi maaf yah. Aduhh… tolong dong lepasin ikatan ini, sakit tahu (Dengan tiba-tiba berubah menjadi garang). Saya masih ingat pada hari itu, kakak saya berkata: Dasar jalang, ayo kau kesini, kau tadi kemana aja. Hehhhhhhhh kau ini sudah gila, kau akan mecelakakn orang kalau tidak di pasung. Baiklah mulai hari ini kau akan ku pasung dan ku diamkan di kamar ini saja. (Berpikir sebentar). Enak saja aku di bilang sudah gila, aku berontak, aku mau lari saja dari rumah hari itu. Tapi ternyata kakakku lebih cepat bertindak, di depan pintu sudah ada beberapa orang algojo yang sudah siap menangkapku. Aku terlambat, dan aku lemah akhirnya akau di tangkap dan di pasung di tempat busuk ini.
Jalang : Uy dangsanak semuanya, apakah kalian merasa aku ini gila, (Tertawa Suram) aku ini tidak gila, aku hanya sering mengingat sesuatu yang selalu menghantui pikiranku selama ini. Setiap kali aku ingat kejadian itu, aku pasti menggigil ketakutan dan berteriak: “pergi kau dari sini jangan kau mendekat kepadaku, aku bukan wanita sembarangan, aku ini masih suci, masih perawan. Jangan kau nodai aku dengan mulut busukmu itu. Atau dengan kemaluanmu yang penuh dengan racun neraka itu. Pergi kau… dasar jahanam. Dasar Iblis...
   Setiap kali aku ingat semuanya, air mataku mengucur deras, darahku mendidih. Aku takut.
Jalang :  Tapi, aku tidak dapat menceritakannya kepada kalian, tersebab kalau kuceritakan kalian akan tertawa, dan menganggap aku bodoh. Aku malu... benar-benar malu. Kalian tahu, dengan yang namanya Burhan, ada diantara anda yang bernama burhan, maju kesini, cepat lepaskan saya dari jeratan ini, ayolah Burhan, lepaskan saya, ingatkah kau ketika kita bercinta dulu, ahhhhh, begitu nikmat, begitu menggairahkan, owhhhhh Burhan kesinilah aku sudah tidak tahan lagi aku sudah dipenuhi hasrat.
SI JALANG KELUAR DARI KURUNGAN KAYU ITU DIA MENARI-NARI EROTIS MENGUNDANG GAIRAH SEORANG LELAKI. KEMUDIAN DALAM STYLISASI GERAK DIA MEMPERAGAKAN SEOLAH-OLAH SEDANG BERCINTA DENGAN SEORANG LELAKI DENGAN PENUH NIKMAT, DENGAN PENUH LEZAT.
Jalang : B-U-R-H-A-N... Ya... lelaki itu bernama Burhan, lelaki yang selalu menemaniku menuangkan hasrat, lelaki yang mengajarkan aku arti sebuah cinta, lelaki yang mengajarkan aku kenikmatan, lelaki yang bila dia di ranjang sangat perkasa, lelaki yang membuat hati perempuan bergetar, lelaki yang membuat hati ini merasakan nikmat yang tiada tara. Lelaki yang menghancurkan hidupku, lelaki yang membuat aku gila, lelaki yang menelantarkan aku ditempat busuk ini. Lelaki Bangsat. Lelaki Jahannam (Berteriak dan menangis)
DIA MENANGIS, SEJADI-JADINYA, MENARI DIATAS KEPILUAN, MUSIK-MUSIK CADAS MENGALUN, LAMPU MERAH MENYALA. MENYOROT SI JALANG
Jalang : (Tegang) Ya lelaki jahannam itu, si bangsat itu, ku bunuh iya di ujung malam dengan belatiku. Kutikam dia dengan amarahku. Lelaki yang selama ini ku sayangi, kurelakan seluruhnya untuknya. Ternyata dia telah menghianati cinta suciku, cinta nafsuku, cinta gairahku. Lelaki yang menjadikan aku binatang. Ya.... Burhan adalah ayahku sendiri, lelaki yang selama ini kuhormati, lelaki yang telah membesarkan ku dengan kasih sayang... lelaki yang dalam kesendiriannya menjagaku, lelaki yang mengajarkan aku arti hidup. Lelaki yang mengajarkan kesetiaan, dan hingga dia menemui ajal, dia tidak beristri lagi, karena dia sudah cukup denganku... lelaki yang kurang ajar, lelaki bangsat yang sudah kubunuh dengan belati di ujung malamku. Di sinilah, (keatas meja di samping kandangnya) dimana kami terakhir kali merasakan manisnya madu cinta, disinilah dimana terakhir kali kami meneriakkan kenikmatan. Disinilah dimana kami saling menindih, merintih dan menikmati. Disinilah dia ku bunuh, ku tikam dengan amarahku. (Penuh penyesalan)
DALAM STYLISASI GERAK DIA MEMBUNUH, MENIKAM, MENGUCURKAN DARAH DAN MEMINUMNYA.
LAMPU PADE OUT
SI JALANG BERTERIAK, LAMPU MENYALA, SEOLAH-OLAH DIA DI TANGKAP OLEH ORANG BANYAK, DAN DIPASUNG DIDALAM KERANJANG INI DIA BERTERIAK. SI JALANG SUDAH BERADA DIDALAM KURUNGAN YANG BUSUK ITU...
Jalang : Tolong, jangan masukkan aku kedalam sini, kenapa kalian memasukkan aku kesini, keluarkan aku... dasar binatang, anjing, bungul............. keluarkan aku dari sini, tolong.... bangsat.... Burhan lelaki yang kusayangi, lelaki yang kucintai, lelaki yang membesarkanku, dasar jahannam, dasar laknat, celakalah mereka yang sudah melukai diriku, seorang perempuan.
SI JALANG TERUS BERTERIAK MEMINTA KELUAR. NAMUN IA TAK KUASA... LAMPU SEMAKIN MEREDUP. 
Jalang : untuk para  Lelaki Jahannam, tunggu aku dineraka.....................................
LAMPU PADAM
PADE OUT
PERTUNJUKAN SELESAI
Untuk Yang Belum Bebas Merdeka
Tanjung, 20 Maret 2013.

Selasa, 10 Desember 2024

PUISI SIAPAKAH YANG SEBENARNYA SILUMAN

Siapakah Yang Sebenarnya Siluman
oleh Hadani Had (Catatan) pada 26 Januari 2012 pukul 21:16
                 
Kabut, yang memburamkan penglihatan
Ternyata sudah membuka diri,
Menunjukkan yang telah diramalkan sang dukun,
Kalian takut ada yang memanifulasi
Kalian takut ada yang menggergaji
Kalian takut ada jarum dalam lipatan
Itu kata kalian,,,,
 
Bukankah itu hanya ambisi yang kalian simpan dalam peti
Bukankah itu hanya cita-cita yang masih dalam angan kalian
Kalian takut mengaku
Kalian takut terbongkar
Makanya kalian membongkar tai busuk yang dihadapan kalian
Itupun hanya menurut kalian
 
Ketahuilah, yang sebenarnya siluman itu siapa
Yang sebenarnya bermuka itu siapa
Berambisi itu siapa
 
Kata kalian
Kami …………………………………….
 
Coba kalian lihat dengan hati nurani
Siapa yang benar-benar siluman.
 
(BOA, 24 Januari 2012)

PUISI : SELAMAT ULTAH

Selamat ULTAH (helda Liani)
Hadani Had 
                 
Ketika kubuka mata
teringat hari ini hari bahagia
hari yang berkeramat
 
Teriring do'a semoga selalu bahagia
bersama orangyang selalu dihati
dan selalu menemani
 
Adindaku.......
Kanda, bukanlah apa-apa
kanda hanyalah orang yang tak berguna
tak berpersaan
tak apa lah
 
Melalui lantunan ayat ini
ku persembahkan ucapan
hari yang kau tunggu
tuk beranjak dewasa
 
aku selalu ingat suaramu yang serak
rambutmu yang lurus
namun selalu kau balut dengan jilbab
 
aku masih ingat
sorotan matamu
lembutnya nada bicaramu
 
hari ini hari bahagiamu
ku persembahkan kado ini
hari ini hari ulang tahunmu
semoga panjang umur adinda
dan semua cita-cita tercapai
 
Amien.......................................

27 Januari 2012

PUISI CEMBURU CURIGA ATAU APALAH NAMANYA

Cemburu Curiga atau apalah namanya
Hadani Had

Curiga ....................... 
Cemburu .....................
  
Serasa menusuk ke hati
bagaikan menoreh ke batin
tersayat sembilu
kemudian disiram air garam
itulah perasaanmu wahai gadisku
 
kau buta pada kenyataan
kau tertawan dalam murka
 
Cemburu...............
Kemudian curiga
memang pantas bagiku
bagiu memang patut
tersebab semua laku dan tingkah yang curiga
 
itulah aku, lelaki yang banyak khilaf
yang papa
yang nista
yang mungkin bagi mereka
 
NISTA
Curiga lalu cemburu
 
apa daya lelaki itu
ketika luka itu mendalam
menusuk
murka
kemudian menjadi koreng
kering. bau
berlobang
 
muntahkan saja isi perutmu
curiga selalu curiga 
cemburu selamanya
 
buta hatimu
mata tertutup
telingamu batu
 
tak terima petuah
takterima amanah
kau abaikan titah
 
kau singkirkan sumpah
serapah yang kau lontarkan
 
curiga,
cemburu
kemudian curiga
dan selamanya cemburu
 
selama kau tak merubah
 
Hadani Had

PUISI : UNTUK KALIAN YANG KATANYA MENYAYANGIKU

UNTUK KALIAN YANG KATANYA MENYAYANGIKU
Hadani Had

kalian sembarangan saja menolak cintaku
kalian tak perdulikan kataku
kalian muntahkan makanan yang kuberi 
kalian semua tidak aku......
  
aku merasa di pengasingan di dalam kamarku sendiri
kalian bilang, tidak terjadi apa-apa antara kita semua
kalian anggap biasa saja
mengasingkan aku itulah tujuan yang kulihat
 
aku menangis meminta pertolongan
aku meringis kesakitan
kau katakan karna aku berkata aku
bukan kami
di situlah letak kesalahan
kalian anggap.........
  
intinya
kalian tak sayang lagi kepadaku
aku siap berlayar dan berlabuh
 
sekarang asingkanlah aku
semau kalian.
 
 
HADANI HAD

Puisi: Untuk Si Pecundang

Untuk Si Pecundang
Hadani Had

Dasar pecundang kelas teri
kau berjalan di etalasi toko warna-warni itu
meneriakkan kebenaran
itu katamu kan???
 
Tapi mana buktinya
semuanya hanyalah bualanmu saja
yang semakin banyak seperti buih di lautan
 
dasar kau memang pecundang...
Berani sekali mengekor di belakangku
menggeliat di dalam hari-hariku
kenapa sih
 
Dasar memang pecundang
kau mati saja
tersebab baumu sudah keciuman
busuk
jijik
dan membuatku enggan mendengar suaramu
 
ihhhh
siapa sih Lo
 
(tjg 27122012)
Ketika ku tahu siapa sebenarnya kau
tadi aku melihatmu di kaca rumah kita
ditulis dalam kedamaian


PUISI : UNTUK YANG LAHIR TELANJANG

Untuk Yang Terlahir Telanjang
Hadani Had

Kolam-kolam air seni itu berubah menjadi lahar panas menggelembung,
menggurak melahirkan kesengsaraan
kemudian digasak oleh burung-burung tirani
berlomba membagi umpan
 
mari kita bertepuk tangan atas keberhasilan semalam
yang sudah membalik keadaan
menjadi 3-1
 
ahhhhhh...
Dustamu itu terlalu nampak
terlalu vulgar
belajarlah sedikit mengerti tentang hijab
pasti akan nampak siapa yang lebih cerdik
 
burung gagak kah atau burung hantu
atau memang burung kuntul
yang buta, bisu
namun bisa merasakan nikmat
tanpa ajimat
tanpa laknat
menebar mudarat
 
hey. diam lah jangan terlalu berbicara
nanti mulutmu ku sobek
ku tikam dengan belati
belajar sopan
jangan garang
 
PAHAM...
 
Tjg : 251212

Untukmu Yang Terlahir Telanjang


PUISI : UCAPAN TERIMAKASIH UNTUKKMU

ucapan terimakasih Untuk Mu
Hadani Had

Terimakasih ku ucapkan
Atas semua yang kau ajarkan padaku,
bersama telah kita lalui canda dan tawa
bersama kita berjalan meniti batu tajam
 
Sampai aku tersentak kaget malam ini,
ketika memandang hatimu yang sebenarnya
kau telah dimilikinya yang telah lama meninggalkanmu
sekarang kau telah mendapatkannya.
 
Baja yang kau anggap pasti akan luluh
dan pasti kau kan mendapatkan kebahagiaan
demi dirinya dirimu dan untukku.
 
Dengan hatiku kan kulepas semua itu
kan kuserahkan padanya dengan pengharapan kau kan bahagia bersama-Nya
 
Amien.
 
 
H A D A N I H A D

PUISI : PAGI YANG KU DAPATKAN

PAGI YANG KU DAPATKAN
Had 

Pagi,  seperti biasanya
Tuhan berfirman pada alamnya
kalian tetaplah menjadi

Pagi,  hujan kembali mendera
luka yang memberai
meletikkan bara yang tergeletak diam
menyentil pipi manis merah
semerah darah
sedarah luka

Pagi, begini apa adanya
Alam menyabdakan titahnya pada kicauan burung
tentang durjana
yang menghibur rembulan. 

Ketika pagi,  Bati-Bati 111217

PUISI : MALAM KETIKA ITU

Malam Ketika Itu
Hadani Had

Malam ini, sunyi
Sepi sendiri, tanpa ada yang menemaniku
Sekarang aku sendiri
Meniti batu-batu tajam,
Ditempat pembuangan

Disini, aku merasa di lupakan
Menanam kembali, pohon
Pohon persaudaraan, dan
Harus kupupuk kembali
Seperti aku, awal mula dihilir sana

Sekarang, aku dihulu
Menjauh dari keramaian
Dusta
Perih
Pedih
Dan, sekarang jujur pun
Aku tak bisa

Aku hanya seorang senja
Yang didatangi malam kelam
Sunyi tanpa BINTANG

*Dalam kamar sunyi*
Tanjung, 24 09 12

PUISI : NASIB DI UJUNG SANA

NASIB DI UJUNG SANA
Hadani Had

Ku rasakan, malam ini terpanggil
menerawang jauh melewati dimensi waktu
asa ku terbang bebas
menggelantung, bagaikan monolog-monolog
yang mati di dahan pohon kariwaya

Akar rumput pun berdendang
menyanyikan lagu rindu
membuat jelaga hati terbag melayang
hinggap di sisi-sisi kamar
menertawakan Aku

Hanya aku,
Ya...
Memang hanya aku
yang tak menjadi sesiapa
menjadi diriku
yang tak menertawakan nasib di perantauan
karena disini,
aku bahagia.

TAFSIR TARBAWI

KEWAJIBAN BELAJAR MENGAJAR
I. SURAH AL-‘ALAQ : 1-5
TERJEMAH :
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,
2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
PENJELASAN BEBERAPA KOSA KATA
: Merupakan bentuk fi’l ul-amr (perintah), ia berasal dari akar kata qara’a yang pada awalnya mengandung arti menghimpun. Dari akar kata tersebut muncul beberapa makna berikut: menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu – semuanya bermuara pada arti menghimpun.
: Darah yang membeku dan menggantung.
: Kemuliaan
: Berasal dari akar kata qalama yang mengandung arti memotong ujung sesuatu. Hal ini dapat dimengerti, sebab pada awalnya alat menulis (qalam) itu terbuat dari suatu bahan yang dipotong dan diperuncing ujungnya.
PENJELASAN
Sebagaimana tercatat dalam buku Sirah Ibnu Hisyam, Nabi Muhammad melakukan kontemplasi ketika mulai menginjak usia 36 tahun. Nabi mulai melakukan kontemplasi pada saat melihat tatanan masyarakat di sekitarnya yang sudah rusak, manusia terasing dengan kemanusiaannya. Beliau melakukan kontemplasi bukan sekadar mengasingkan diri, tetapi mempunyai tujuan untuk mencari solusi bagaimana mengubah tatanan masyarakat. Di samping itu, beliau melakukan prosesi pencarian kebenaran secara tulus tanpa terbelenggu oleh pembatasan yang kita ciptakan sendiri. Pencarian ini tidak mungkin dilakukan dalam semangat komunal dan sektarian. Ia harus bebas dari setiap kemungkinan pengekangan ruhani (sikap alami manusia yang memihak kepada yang benar dan yang baik, dengan lapang dada, toleran, dan tanpa kefanatikan sebagai kelanjutan fitrahnya yang suci).
Pada saat Muhammad mencari kebenaran, beliau memulainya dengan cara penyucian jiwa. Muhammad menyadari bahwa dengan melakukan upaya penyucian jiwa akan memudahkan dalam menemukan pencerahan batin. Kenyataan tersebut telah menjadikan dirinya siap melakukan komunikasi rahasia dengan malaikat Jibril. Dalam beberapa hadits dikisahkan bahwa nabi sering bermimpi sebelum mendapat wahyu pertama. Hal tersebut merupakan sinyal-sinyal ilahiyah akan turunnya wahyu melalui malaikat Jibril, hingga akhirnya nabi mampu menangkap penampakan Jibril, sebagaimana digambarkan dalam surah an-Najm. Jika Muhammad langsung menerima wahyu, kemungkinan besar beliau tidak mampu menangkap sinyal-sinyal Ilahi secara sempurna. Kenyataan tersebut sekaligus sebagai petunjuk bagi pengikut Nabi Muhammad agar senantiasa melakukan upaya penyucian jiwa, hingga ia mampu menangkap sinyal-sinyal Ilahi dalam bentuk ilham.
Ketika usia Nabi menginjak 40 tahun, seperti biasa beliau melakukan kontemplasi di Gua Hira. Beliau dikagetkan oleh kedatangan Jibril yang tiba-tiba menyuruhnya untuk membaca. Kalau kita merenung sejenak, bukankah Nabi saat itu berada di Gua Hira dan waktu malam? Sudah dapat dipastikan suasananya pastilah gelap—gulita. Tetapi mengapa Jibril menyuruh Nabi membaca? Apakah Jibril membawa bacaan yang tertulis dalam secarik kertas? Dapatkah beliau membaca sesuatu dalam keadaan gelap gulita?
Akhirnya terjadi tarik-ulur antara Jibril dan Muhammad, dan menurut riwayat kejadian tersebut berulang hingga tiga kali. karena Jibril mengerti kondisi Muhammad, perintah dan pelukannya itu sebagai upaya agar Muhammad dapat menenangkan diri dan tidak merasa ragu akan apa yang bakal diterimanya. Sebab kalau ia langsung diajari surah al-‘Alaq, Muhammad akan merasa ragu kalau itu berasal dari Tuhan, atau malah akan menganggap dirinya dalam keadaan tidak sadar atau hanya sebagai mimpi belaka.
Dengan demikian prosesi tarik-ulur itu bertujuan agar Nabi betul-betul menyadari bahwa la sedang berhadapan dengan utusan Tuhan, yang mengabarinya tentang kenabian, la tidak dalam keadaan bermimpi.
Ayat pertama dari wahyu pertama adalah “Bacalah dengan nama Tuhanmu,” tentu akan muncul pertanyaan “apa yang harus dibaca?” Ditinjau dari prespektif kebahasaan, jika satu ungkapan tidak disebutkan obyeknya, maka ia menunjukkan umum, mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut, seperti alam raya dan masyarakat. Dengan demikian, Tuhan menyuruh Nabi agar membaca ayat-ayat Tuhan yang tertulis (qur’aniyyah) ataupun ayat-ayat yang tercipta (qauniyyah). Tetapi yang paling penting dan menjadi titik tekan ayat tersebut adalah pembacaan tersebut haruslah dilandasi atas nama Tuhan, Dengan pembacaan itu menjadikan beliau sadar akan kefakiran diri di hadapan Allah.
Apabila ayat tersebut dihubungkan dengan ayat kedua, tampak bahwa yang harus dibaca Nabi pada khususnya dan manusia pada umumnya adalah diri sendiri: “Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah”. Secara tersirat, ayat kedua ini menuntut manusia agar membaca dirinya, sehingga muncul kembali pertanyaan abadi yang terkadang sudah dilupakan manusia, yaitu siapakah, dari manakah, hendak ke mana aku? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang jika direnungkan terus-menerus akan melahirkan kesadaran kehambaan seseorang.
Pada ayat selanjutnya, Tuhan menyatakan, “Bacalah, dan Tuhanmu yang Mahamulia”. Menurut Ash-Shabuni, pengulangan kata iqra’ berfungsi untuk memberikan semangat terhadap aktivitas membaca pengetahuan. Senada dengan pendapat tersebut, Wahbah menyebutkan bahwa pengulangan tersebut sebagai penegasan terhadap arti pentingnya membaca. Sementara itu, menurut Quraish Shihab, iqra’ pada ayat ini menunjukkan konsekuensi logis dari iqra’ pada ayat pertama. Artinya, kemuliaan Tuhan akan segera tercurahkan bagi siapa saja yang sudah melakukan pembacaan terhadap dirinya, baik melalui ayat qur’aniyyah dan ayat qauniyyah.
Di samping kata iqra’ yang terulang dua kali, kata insan pun terulang dua kali. Pertama, manusia dalam kontek berhadapan dengan Tuhan, sebagai makhluk yang diciptakan, yakni diciptakan dari segumpal darah. Kedua, manusia sebagai makhluk yang menerima pelajaran, yang memperoleh pengetahuan, dengan perantaraan suatu alat (qalam). Ayat terakhir menyebut satu proses perpindahan dari keadaan tidak tahu menjadi tahu. Dalam hal ini, tampak satu pengingatan kesadaran bahwa manusia bukan hanya sekadar makhluk biologis, tetapi juga makhluk makhluk ruhani (makhluk yang harus mengejewantahkan nama-nama Tuhan dalam pentas kehidupannya).
Adapun kemuliaan yang akan didapat oleh manusia yang melakukan pembacaan tersebut dapat terwujud dalam dua bentuk, yakni Allah akan mengajarkan kepadanya al-qalam yang termaktub pada ayat 4 dan Allah akan mengajarkan kepadanya sesuatu yang tidak diketahui manusia, yang termaktub pada ayat 5.
REFLEKSI
Jika lima ayat pada surah ini dikaitkan dengan pendidikan, maka terdapat beberapa titik temu sebagai berikut:
Pertama, dalam kontek ini, Muhammad berperan sebagai seorang murid, sebab beliau adalah orang yang mencari sesuatu petunjuk dengan jalan kontemplasi dan semangat yang tinggi. Dari sini dapat ditarik satu kesimpulan bahwa seharusnya seorang murid mempunyai semangat mencari ilmu dan mengawalinya dengan upaya penyucian jiwa, sehingga muncul dalam dirinya sikap tawadhu yang akan memudahkan dirinya dalam pembelajaran.
Kedua, malaikat yang dalam kontek surah ini berperan sebagai asisten Allah (guru), tidak serta merta memberikan pengajaran kepada Muhammad, tetapi ia terlebih dahulu memberikan pertanyaan dengan tujuan agar beliau betul-betul menyadari bahwa dirinya dalam keadaan terjaga. Sehingga ketika menerima pengajaran tersebut la akan merasa yakin bahwa apa yang diterimanya merupakan kebenaran. Jika dikaitkan dengan pendidikan, dari sini terlihat bahwa inti dari peristiwa tersebut adalah menuntut agar seorang guru tidak secara langsung memberikan pengajaran kepada murid. Terlebih dahulu guru harus mencairkan suasana sehingga memudahkan murid dalam mencerna pelajaran yang disampaikan seorang guru.
Ketiga, dalam lima ayat dari surah al-‘Alaq terdapat empat hal yang bisa dijadikan pijakan dalam pembelajaran. Keempat hal tersebut adalah:
Pada tahap awal, pelajaran yang harus disampaikan adalah hal-hal yang bersifat indrawi (aladzi khalaq).
Setelah anak didik mengetahui hal-hal yang bersifat indrawi, pembelajarannya harus ditingkatkan kepada masalah-masalah yang bersifat abstrak dan spiritual (khalaq al-insan).
Setelah anak didik mampu menguasai kedua hal tersebut, maka langkah berikutnya adalah proses pembelajaran yang berujung pada kemampuan menuliskan gagasan. Sebab, apa yang dipahami, baik yang kasat mata atau yang tak kasat mata, ia kurang begitu berkaitan kalau tidak dituangkan dalam bentuk tulisan yang akan menjadi khazanah keilmuan (‘allama bil-qalam).
Setelah tiga tahapan terlewati, maka tahap akhir adalah pembelajaran yang berkaitan dengan upaya-upaya yang akan meningkatkan seseorang untuk mendapatkan pengetahuan secara langsung dari Allah (‘allam al-insana ma lam ya’lam).

V. KEWAJIBAN BELAJAR MENGAJAR
1. Surah al-Ankabut: 19-20
أَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ يُبْدِئُ اللَّهُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (19) قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ
فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآَخِرَةَ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (20)
“Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali)”.
“Sesungguhnya.yang demikian itu mudah bagi Allah. (QS. 29: 99) Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya.Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS 29: 20”).
Dari ayat tersebut di atas (al-Ankabut: 20) memerintahkan untuk:
1. Melakukan perjalanan, dengannya seseorang akan menemukan banyak pelajaran berharga baik melalui ciptaan Allah yang terhampar dan beraneka ragam, maupun dari peninggalan lama yang masih tersisa puing-puingnya.
2. Melakukan pembelajaran, penelitian, dan percobaan (eksperimen) dengan menggunakan akalnya untuk sampai kepada kesimpulan bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini, dan bahwa di balik peristiwa dan ciptaan itu, wujud satu kekuatan dan kekuasaan Yang Maha Besar

2. Surat al-‘Alaq (ayat 1-5)
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3)
الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
Kaitan dengan pendidikan:
1. Iqra` bisa berarti membaca atau mengkaji. sebagai aktivitas intelektual dalam arti yang luas, guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi segala pemikirannya itu tidak boleh lepas dari Aqidah Islam, karena iqra` haruslah dengan bismi rabbika
2. Kata al-qalam adalah simbol transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, nilai dan keterampilan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kata ini merupakan simbol abadi sejak manusia mengenal baca-tulis hingga dewasa ini. Proses transfer budaya dan peradaban tidak akan terjadi tanpa peran penting tradisi tulis–menulis yang dilambangkan dengan al-qalam.
Hubungan agama dan iptek? Secara garis besar, berdasarkan tinjauan ideologi yang mendasari hubungan keduanya, terdapat 3 (tiga) jenis paradigma
1. Paradagima sekuler: paradigma yang memandang agama dan iptek adalah terpisah satu sama lain. Sebab, dalam ideologi sekularisme Barat,agama telah dipisahkan dari kehidupan (fashl al-din ‘an al-hayah). Eksistensi agama tidak dinafikan hanya dibatasi perannya.
2. Paradigma sosialis, yaitu paradigma dari ideologi sosialisme yang menafikan eksistensi agama sama sekali. Agama itu tidak ada, dus,tidak ada hubungan dan kaitan apa pun dengan iptek.
3. Paradigma Islam, yaitu paradigma yang memandang bahwa agama adalah dasar dan pengatur kehidupan

1. Surah At-Taubah ayat 122
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا
قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (122)
"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang muKmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapaorang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya".
Syarh dan Tafsir singkat
Ayat ini memberi anjuran tegas (tah}d}>id}) kepada umat Islam agar ada sebagian dari umat Islam untuk memperdalam agama. Dalam S}afwah al-Tafsi>r dikatakan bahwa yang dimaksud kata tafaqquh fi al-di>n adalah menjadi seorang yang mendalam ilmunya dan selalu memiliki tanggung jawab dalam pencarian ilmu Allah.
Dengan demikian menurut tafsir ini dalam sistem pendidikan Islam tidak dikenal dikhotomi pendidikan, karena akan menimbulkan dampak sebagai berikut :
1. Kesenjangan antara sistem pendidikan Islam dan ajaran Islam yang memisahkan antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum (Kuntowijoyo, 1991: 352);
2. Disintregasi sistem pendidikan Islam;

Pertemuan Pertama ini akan membahas tentang ayat-ayat yang berkenaan dengan kewajiban belajar dan mengajar. Ayat-ayat yang akan dibahas berkaitan dengan topik tersebut adalah;

1. QS. Al-Alaq/96: 1-5
بسم الله الرحمن الرحيم
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

2. QS. Al-Ghasyiyah/ 88 :17-20

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ (20)

3. QS. Ali Imron/3: 190-191
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ (190) الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191)

4. QS. Al-Taubat/9:122
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (122)


5. QS. Al-Ankabut/29:19-20
أَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ يُبْدِئُ اللَّهُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ (19) قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الْآَخِرَةَ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (20)

Penjelasan ayat secara global:

Surat al-Alaq ayat 1-5, menurut Tafsir al-Qathan, ayat ini mengisyaratkan tentang ajakan serta kewajiban bagi umat Islam untuk belajar membaca dalam maknanya yang luas, menulis dan mengkaji tentang ilmu. Dan pada hal-hal tersebutlah terdapat syiar Islam. Dalam penafsiran ayat tersebut juga dijelaskan bahwa manusia yang pada awalnya sangat hina hanya berupa alaq, darah kental yang menggantung pada rahim akan memiliki derajat yang tinggi dengan adanya proses belajar dan megajar. Dengan proses belajar mengajar itulah manusia akan mendapatkan ilmu yang akan merubah manusia dari kedhaliman, menuju cahaya kehidupan. Ilmu yang dimaksud itu bukan terbatas pada ilmu keakhiratan belaka. Beliau al-Qaththan menjelaskan bahwa ilmu yang dijunjung tinggi oleh Islam adalah mencakup seluruh bidang dan cabang-cabangnya. Sehingga dengan ilmu yang semacam itu umat Islam dapat berperan dalam membangun peradaban dunia. Beliau juga mengkritik terhadap kelemahan umat Islam saat ini yang hanya menjadi pengikut yang lemah dari sebuah ilmu. (Tafsir al-Qaththan, Juz-3 hal. 441).

Jadi hanya dengan proses belajar mengajar itulah manusia akan menduduki derajat yang semestinya disandang, yakni derajat yang mulia tidak hanya di hadapan manusia lebih dari itu juga di hadapan Allah. Dari ayat ini pula kita dapat memahami bahwa Allahlah yang pertama kali mengajarkan manusia untuk menulis membaca dan segala ilmu. Dari sini terlihat bagaimana kedudukan ilmu di dalam Islam. Ilmu bersumber dari Yang Maha Mulia. Diajarkan oleh Yang Maha Mulia pula. Dengan demikian ilmu di dalam Islam menempati kedudukan yang sangat tinggi. Dari sini pula terlihat benang merah mengapa guru juga menempati posisi yang sangat mulia, di dalam Islam. Karena ia mengajarkan sesuatu yang sifatnya mulia dan bersumber dari Yang Maha Mulia.

Dengan mengkaji surat al-Alaq dalam konteks historis akan diketahui betapa Islam membuat perombakan besar dalam sejarah kehidupan manusia. Dalam konteks sejarah Arab saat itu, masyarakat dikungkung oleh budaya oral/lisan. Budaya lisan sangat menggantungkan diri pada kemampuan hafalan. Bukan menggantungkan diri pada kemampuan tulis menulis. Akan tetapi al-Qur'an datang dengan semangat untuk merubah kultur lisan dengan kultur tulisan. Yakni melalui budaya membaca dan menulis. Dengan kultur baca dan tulis, peradaban manusia akan terbukukan melalui karya-karya tulis yang bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.

Dalam sejarahnya, masyarakat Arab saat itu, menulis justru dianggap sebagai aib yang perlu disembunyikan. Karena dengan menulis berarti menunjukkan adanya kelemahan hafalan seseorang. Kenyataan sejarah semacam itu semakin menunjukkan bahwa ajaran Islam telah melampaui zaman di mana ia diturunkan saat itu. Yakni menggemakan kultur baca dan tulis.

Dalam ajaran Islam, belajar telah dimulai sejak manusia manusia masih di dalam kandungan, hingga sampai ke liang lahat. Coba kita bandingkan dengan tuntutan formal dalam UU Sisdiknas kita, yang baru mewajibkan manusia Indonesia sejak umur 6 tahun. Dari perbandingan ini tentu kita juga dapat melihat bahwa dala hal ini ajaran Islam telah lebih maju beberapa langkah dari tuntutan UU Sisdiknas kita.

Sementara itu surat Ali Imran 190-191, menurut Imam al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya al-Jami li Ahkam al-Qur'an, mejelaskan tentang kewajiban manusia (muslim) untuk mengadakan pemikiran, perenungan maupun penelaahan kepada ayat-ayat Allah. Ayat di sini dalam arti tidak hanya ayat qauliyah saja akan tetapi juga ayat-ayat kauniyah (alam semesta). Dengan pemikiran, perenungan maupun penelaahan itulah manusia akan sampai pada kesimpulan bahwa semua yang ada tidak lain adalah karena Yang Maha Kuasa, Allah swt. Dengan pemikiran dan penelaahan itulah manusia tidak akan terjebak pada sikap taqlid buta yang merugikan semua pihak. Akan tetapi manusia dapat bertindak berdasar keyakinan yang benar yang disandarkan pada ilmu yang telah diperolehnya (Al-Jami li Ahkam al-Qur'an, Juz 1, h. 1204)

Surat al-Taubah ayat 122, -masih menurut al-Qurthubi (Juz 1, h. 2565)- menjelaskan tentang kewajiban kolektif umat Islam untuk menuntut ilmu yang secara spesifik harus didalami. Tidak seyogyanya seluruh umat Islam berangkat berjihad dalam arti perang. Namun harus ada sebagian mereka yang secara khusus mendalami ilmu. Baik dalam ilmu agama maupun lainnya. Secara mendasar dalam hal ilmu agama seluruh umat Islam wajib menguasai. Artinya untuk syarat minimal untuk menjadi seorang muslim seseorang wajib atau harus menuntut ilmu agama. Akan tetapi yang secara khusus mendalami ilmu agama untuk menjadi ahli agama (ulama) juga harus ada. Demikian pula untuk ilmu umum. Seluruh umat Islam wajib mempelajari khususnya yang berkaitan dengan tuntutan hidup di masyarakat. Seperti membaca, menulis, berhitung sederhana dan sabagainya. Dalam bahasa pendidikan keterampilan dasar, seluruh umat Islam wajib menguasainya. Akan tetapi untuk menjadi seorang yang expert dalam bidang tertentu, kewajibannya tidak bersifat indifidual ('ain) akan tetapi kewajibannya menjadi wajib kifayah. Maka jika tidak ada satupun umat Islam yang mendalami tentang suatu ilmu tertentu yang dibutuhkan oleh umat Islam -berdasar penjelasan ayat itu- seluruh umat Islam menanggung beban dosa. Sanksi atau implikasi dari dosa itu dapat dirasakan saat di dunia ini.

Surat al-Ankabut ayat 19-20, menjelaskan tentang kewajiban yang seharusnya dijalankan umat Islam untuk mengadakan perjalanan, dalam arti penelitian di muka bumi ini. Sehingga umat Islam dapat menemukan suatu kesimpulan dengan cara mengambil I'tibar baik atas penciptaan alam, hingga sejarah perjalanan manusia dan alam di masa lampau. Apa yang diperoleh dari penelaahan itu, kemudian akan dijadikan bahan refleksi dalam meniti kehidupan di dunia yang akan mengantarkannya selamat di kehidupan akhirat.

Hasil penelaahan dan penelitian yang telah dilakukan itu kemudian harus dapat mengantarkan pada pengenalan akan kebesaran Allah, yang dengan sangat mudah membuat segalan sesuatu berjalan sesuai siklusnya masing-masing (al-Qurthubiy, Juz 1, h. 4271). Dari awal kejadian, proses perjalanan hingga akhir dari proses itu sendiri.

Sayangnya yang telah melakukan penelaahan semacam itu justru bukan dari kalangan umat Islam yang sejak lama telah diperintahkan untuk mengkajinya. Sebagai bahan renungan, siapa yang mengkaji tentang awal kejadian atau penciptaan dunia, sehingga memunculkan teori Big Bang? Siapa yang telah mengadakan penelitian arkeologis sehingga dapat merekonstruksi dunia pada masa lampau. Dan masih banyak lagi bahan renungan yang tentu tidak tepat jika dituangkan dalam tulisan ini secara keseluruhan.

Dan sekarang di manakah posisi Anda? Tentu sesuai dengan bidang kajian Anda, Anda harus menjadi orang yang senantiasa bertafaqquh fi al-din. Yakni kelak menjadi orang yang benar-benar ekspert dalam bidang agama. Sehingga jika terjadi masalah keagamaan di masyarakat, Anda adalah jawabannya. Jika tidak demikian, maka Anda telah menyia-nyiakan amanah yang diberikan Allah. Selamat belajar




Ada dua versi yang kami temukan yaitu pada tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab dan tafsir Al-Maraghi Karya Ahmad Musthafa Al-Maraghi.
               Yang pertama mari kita lihat penjelasan yang kami dapatkan dari tafsir Al-Misbah.
                Ayat itu menuntun kaum muslimin untuk membagi tugas dengan menegaskan bahwa “Tidak sepatutnya bagi orang-orang mu’min yang selama ini dianjurkan agar bergegas menuju medan perang pergi semua ke medan perang sehingga tidak tersisa lagi yang melaksanakan tugas yang lain”. Jika memang ada panggilan yang bersifat mobilisasi umum maka mengapa tidak pergi dari setiap golongan, yakni kelompok besar diantara mereka beberapa orang dari golongan itu untuk bersungguh-sungguh memperdalam pengetahuan tentang agama sehingga mereka dapat memperoleh manfaat untuk diri mereka dan orang lain dan juga untuk memberi peringatan kepada kaum merka yang menjadi anggota yang di tugaskan oleh Rasulullah SAW.
Terbaca di atas bahwa yang dimaksud dengan orang yang memperdalam pengetahuan demikian juga yang memberi peringatan adalah mereka yang tinggal bersama Rasulullah SAW. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.
Ayat ini mengggaris bawahi terlebih dahulu motivasi bertafaqquh/ memperdalam pengetahuan bagi mereka yang dianjurkan keluar sedang motivasi utama mereka yang berperang bukanlah tafaqquh.
Yang kedua kita lihat menurut tafsir Al-Maraghi.
Ayat ini menerangkan kelengkapan dari hukum-hukum yang menyangkut perjuangan yakni hukum mencari ilmu dan mendalami agama. Artinya bahwa pendalaman ilmu agama itu merupakan cara berjuang dengan menggunakan hujjah dan penyampaian bukti-bukti dan juga merupakan rukun terpenting dalam menyeru kepada iman dan menegakan sendi-sendi Islam. Karena perjuangan yang menggunakan pedang itu sendiri tidak di syaratkan kecuali untuk jadi benteng dan pagar dari da’wah tersebut agar jangan dipermainkan oleh tangan-tangan ceroboh dari orang-orang kair dan munafik.
Berdasarkan dua penafsiran bahwa kami dari penulis makalah cenderung kepada tafsir Al-Maraghi bahwa pendalaman ilmu agama itu merupakan cara berjuang dengan menggunakan hujjah dan penyampaian bukti-bukti dan juga merupakan rukun terpenting dalam menyeru kepada iman dan menegakan sendi-sendi Islam. Karena perjuangan yang menggunakan pedang itu sendiri tidak di syaratkan kecuali untuk jadi benteng dan pagar dari da’wah tersebut agar jangan dipermainkan oleh tangan-tangan ceroboh dari orang-orang kafir dan munafik. Karena kebaikan menuntut ilmu dan mengajarkannya sama pahalanya disisi Allah dengan jihad. Barang siapa yang memberi contoh kebaikan , kemudian kebaikan itu dicontoh oleh orang lain, maka dia akan mendapat kebaikan yang sama dengan orang yang melakukan tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang melakukannya, begitu juga sebaliknya. Demikian ungkapan yang sementara dianggap dari Rasulullah SAW.


PUISI: Hitam-Putih

Hitam-Putih
Hadani Had

Malam itu, tepat di tengahnya 
Saat langit tak berbulan, 
tak berbintang, 
bahkan senyumnya pun tak terlihat 

Ku pahat di notasi waktu, sebuah prasasti 
hitam-hitam 
kemudian putih 
bermuara di ujung sungai kenangan 
berjibaku dengan waktu 

PUISI : BIRU MATAMU (aku tak tahan) 17 november 2011

BIRU MATAMU (aku tak tahan) 
17 november 2011

biru malam menyeringai diwajahmu 

sungguh sulit menaklukkan batumu 

apa yang kau maksud dengan senyummu 

pilu rasanya hati ini melirik matamu 

sayu 

pilu 

sendu 

itulah matamu 


apa yang kau rasa 
ku tak paham artinya 
arti dari segala arti kurasakan 
namun... 
matamulah yang memberi arti 


yah, kau biru malam 

matamu sendu 
sayu 

aku tersipu malu 

menatap matamu 






hadani had 
(hanya imaji sayang) 

balikpapan 
17112011


Senin, 09 Desember 2024

PUISI : DIKSI MALAMKU



DIKSI MALAMKU
Hadani Had

Gemuruh sunyi menyelimuti qalbu
Meraung-raung dalam pekatnya gelap malam
Hanya satu, dua dan tiga suara jangkrik, menghantarkan mimpimu

Malam ini, didalam do’a
Ku bersungkur penuh harap
Di hadapmu, tanpa ada seorangpun
Ku mengangkat kedua tangan,
Yang sesungguhnya aku malu
Aku merasa tak pantas

Tapi,
Tetap kuberanikan
Berharap rahman rahimmu benar terjadi
Hilangkan keraguanku
Terhadap maha-Mu yang agung
Agar puja puji ini selalu menemani hariku

Ya ilahi
Tabahkanlah hatinya
Agar dia tetap mencintaiku
Untuk selamanya

Hanya itu
Amien

Tanjung, 28 09 12

Makalah Asbabun Nuzul



BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang masalah

 Terkadang banyak ayat yang turun, sedang sebabnya hanya satu. dalam hal ini tidak ada permasalahan yang cukup penting, karena itu banyak ayat yang turun didalam berbagai surah berkenaan dengan satu peristiwa. Asbabun nuzul adakalanya berupa kisah tentang peristiwa yang terjadi, atau berupa pertanyaan yang disampaikan kepada rasulullah SAW untuk mengetahui hukm suatu masalah, sehingga Qur'an pun turun sesudah terjadi peristiwa atau pertanyaan tersebut. Asbabun nuzul mempunyai pengaruh dalam memahami makna dan menafsirkan ayat-ayat Al-Quran.
Begitupula dalam menafsirkan al-Qur’an, adanya ilmu munasabah al-Qur’an sangat berperan dalam menafsirkan suatu ayat.

Rumusan Masalah
Apa pengertian dari Asbabun nuzul itu ?
Bagaimanakah cara turunnya asbabun nuzul itu ?
Apakah faedah (manfaat) dari mempelajari asbabun nuzul itu ?
Apa yang dimaksud dengan Munasabah dalam Al-Qur’an?

Tujuan Penulisan
Tujuan dari pembahasan makalah ini adalah agar kita bisa lebih mengenal tentang silsilah asbabun nuzul dan lebih memudahkan kita untuk mempelajari lebih jauh lagi sehingga dalam proses mempelajarinya kita tidak menemukan kesulitan.






BAB II
PEMBAHASAN
Asbabun Nuzul
Pengertian asbabun nuzul
Asbabun Nuzul didefinisikan “sebagai suatu hal yang karenanya al-qur’an diturunkan untuk menerangkan status hukumnya, pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan”, asbabun nuzul membahas kasus-kasus yang menjadi turunnya beberapa ayat al-qur’an, macam-macamnya, sight (redaksi-redaksinya), tarjih riwayat-riwayatnya dan faedah dalam mempelajarinya. 
Untuk menafsirkan qur’an ilmu asbabun nuzul sangat diperlukan sekali, sehingga ada pihak yang mengkhususkan diri dalam pembahasan dalam bidang ini, yaitu yang terkenal diantaranya ialah Ali bin madani, guru bukhari, al-wahidi , al-ja’bar , yang meringkaskan kitab al-wahidi dengan menghilangkan isnad-isnadnya, tanpa menambahkan sesuatu, syikhul islam ibn hajar yang mengarang satu kitab mengenai asbabun nuzul.
Pedoman dasar para ulama’ dalam mengetahui asbabun nuzul ialah riwayat shahih yang berasal dari rasulullah atau dari sahabat. Itu disebabkan pembaritahuan seorang sahabat mengenai asbabun nuzul, al-wahidi mengatakan: “ tidak halal berpendapat mengenai asbabun nuzul kitab, kecuali dengan berdasarkan pada riwayat atau mendengar langsung dari orang-orang yang menyaksikan turunnya. Mengetahui sebab-sebabnya dan membahas tentang pengertian secara bersungguh-sungguh dalam mencarinya ”.
Para ulama’ salaf terdahulu untuk mengemukakan sesuatu mengenai asbabun nuzul mereka amat berhati-hati, tanpa memiliki pengetahuan yang jelas mereka tidak berani untuk menafsirkan suatu ayat yang telah diturunkan. Muhammad bin sirin mengatakan: ketika aku tanyakan kepada ‘ubaidah mengetahui satu ayat qur’an, dijawab: bertaqwalah kapada allah dan berkatalah yang benar. Orang-oarang yang mengetahui mengenai apa qur’an itu diturunkan telah meninggal.
Maksudnya: para sahabat, apabila seorang ulama semacam ibn sirin, yang termasuk tokoh tabi’in terkemuka sudah demikian berhati-hati dan cermat mengenai riwayat dan kata-kata yang menentukan, maka hal itu menunjukkan bahwa seseorang harus mengetahui benar-benar asbabun nuzul. Oleh sebab itu yang dapat dijadikan pegangan dalam asbabun nuzul adalah riwayat ucapan-ucapan sahabat yang bentuknya seperti musnad, yang secara pasti menunjukkan asbabun nuzul.
Al-wahidi telah menentang ulama-ulama zamannya atas kecerobohan mereka terhadap riwayat asbabun nuzul, bahkan dia (Al-wahidi ) menuduh mereka pendusta dan mengingatkan mereka akan ancaman berat, dengan mengatakan: “ sekarang, setiap orang suka mangada-ada dan berbuat dusta; ia menempatkan kedudukannya dalam kebodohan, tanpa memikirkan ancaman berat bagi orang yang tidak mengetahui sebab turunnya ayat”.

Pedoman mengetahui asbabun nuzul
Aisyah pernah mendengar ketika khaulah binti sa’labah mempertanyakan suatu hal kepada nabi bahwasannya dia dikenakan zihar. Oleh suaminya aus bin samit katanya: “ Rasulullah, suamiku telah menghabiskan masa mudaku dan sudah beberapa kali aku mengandung karenanya, sekarang setelah aku menjadi tua dan tidak beranak lagi ia menjatuhkan zihar kepadaku”. Ya allah sesunguhnya aku mengadu kepadamu, aisyah berkata: tiba-tiba jibril turun membawa ayat-ayat ini; sesungguhnya allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengadu kepadamu tentang suaminya, yakni aus bin samit. 
“Hal ini tidak berarti sebagai acuan bagi setiap orang harus mencari sebab turun setiap ayat”, karena tidak semua ayat qur’an diturunkan sebab timbul suatu peristiwa dalam kejadian, atau karena suatu pertanyaan. Tetapi ada diantara ayat qur’an yang diturunkan sebagai permulaan tanpa sebab, mengenai akidah iman, kewajiban islam dan syariat allah dalam kehidupan pribadi dan social.
Definisi asbabun nuzul yang dikemukakan pada pembagian ayat-ayat al-qur’an terhadap dua kelompok: Pertama, kelompok yang turun tanpa sebab, dan kedua, adalah kelompok yang turun dengan sebab tertentu. Dengan demikian dapat diketahui bahwa tidak semua ayat menyangkut keimanan, kewajiban dari syariat agama turun tanpa asbabun nuzul.
Sahabat ali ibn mas’ud dan lainnya, tentu tidak satu ayatpun diturunkan kecuali salah seorang mereka mengetahui tentang apa ayat itu diturunkan seharusnya tidak dipahami melalui beberapa kemungkinan; Pertama, dengan pernyataan itu mereka bermaksud mengungkapkan betapa kuatnya perhatian mereka terhadap al-qur’an dan mengikuti setiap keadaan yang berhubungan dengannya. Kedua, mereka berbaik sangka dengan segala apa yang mereka dengar dan saksikan pada masa rasulullah dan mengizinkan agar orang mengambil apa yang mereka ketahui sehingga tidak akan lenyap dengan berakhirnya hidup mereka, bagaimanapun suatu hal yang logis bahwa tidak mungkin semua asbabun nuzul dari semua ayat yang mempunyai sebab al-nuzul bisa mereka saksikan. Ketiga, para periwayat menambah dalam periwatnya dan membangsakannya kepada sahabat. 
Intensitas para sahabat mempunyai semangat yang tinggi untuk mengikuti perjalanan turunnya wahyu, mereka bukan saja berupaya menghafal ayat-ayat al-qur’an dan hal-hal yang berhubungan serta mereka juga melestarikan sunah nabi, sejalan dengan itu al-hakim menjelaskan dalam ilmu hadist bahwa seorang sahabat yang menyaksikan masa wahyu dan al-qu’an diturunkan tentang suatu ( kejadian ) maka hadist itu dipandang hadist musnad, Ibnu al-shalah dan lainnya juga sejalan dengan pandangan ini. 
Asbabun Nuzul dengan hadist mursal, yaitu hadist yang gugur dari sanadnya seoarng sahabat dan mata rantai periwayatnya hanya sampai kepada seorang tabi’in, maka riwayat ini tidak diterima kecuali sanadnya shahih dan mengambil tafsirnya dari para sahabat, seperti mujahid, hikmah dan said bin jubair. para ulama menetapkan bahwa tidak ada jalan untuk mengetahui asbabun nuzul kecuali melalui riwayat yang shahih. Mereka tidak dapat menerima hasil nalar dan ijtihad dalam masalah ini, namun tampaknya pandangan mereka tidak selamanya berlaku secara mutlak, tidak jarang pandangan terhadap riwayat-riwayat asbabun nuzul bagi ayat tertentu berbeda-beda yang kadang-kadang memerlukan Tarjih ( mengambil riwayat yang lebih kuat ) untuk melakukan tarjih diperlukan analisis dan ijtihad. 

Macam-macam asbabun nuzul
Dari segi jumlah sebab dan ayat yang turun, asbabun nuzul dapat dibagi kepada ta’addud al-asbab wa al-nazil wahid ( sebab turunnya lebih dari satu dan ini persoalan yang terkandung dalam ayat atau kelompok ayat yang turun satu ) dan ta’addud al-nazil wa al-sabab wahid (ini persoalan yang terkandung dalam ayat atau kelompok ayat yang turun lebih dari satu sedang sebab turunnya satu ). sebab turun ayat disebut ta’addud karena wahid atau tunggal bila riwayatnya hanya satu, sebaliknya apabila satu ayat atau sekelompok ayat yang turun disebut ta’addud al-nazil.
Jika ditemukan dua riwayat atau lebih tentang sebab turun ayat-ayat dan masing-masing menyebutkan suatu sebab yang jelas dan berbeda dari yang disebutkan lawannya, maka riwayat ini harus diteliti dan dianalisis, permasalahannya ada empat bentuk: Pertama, salah satu dari keduanya shahih dan lainnya tidak. Kedua, keduanya shahih akan tetapi salah satunya mempunyai penguat ( Murajjih ) dan lainnya tidak. Ketiga, keduanya shahih dan keduanya sama-sama tidak mempunyai penguat ( Murajjih ). Akan tetapi, keduanya dapat diambil sekaligus. Keempat, keduanya shahih, tidak mempunyai penguat ( Murajjih ) dan tidak mungkin mengambil keduanya sekaligus. 

Pengetahuan tentang asbabun nuzul 
Perlunya mengetahui asbabun nuzul, al-wahidi berkata:” tidak mungkin kita mengetahui penafsiran ayat al-qur’an tanpa mangetahui kisahnya dan sebab turunnya ayat adalah jalan yang kuat dalam memahami makna al-qur’an”. Ibnu taimiyah berkata: mengetahui sebab turun ayat membantu untuk memahami ayat al-qur’an. Sebab pengetahuan tentang “sebab” akan membawa kepada pengetahuan tentang yang disebabkan (akibat).
Namum sebagaimana telah diterangkan sebelumnya tidak semua al-qur’an harus mempunyai sebab turun, ayat-ayat yang mempunyai sebab turun juga tidak semuanya harus diketahui sehingga, tanpa mengetahuinya ayat tersebut bisa dipahami, ahmad adil kamal menjelaskan bahwa turunnya ayat-ayat al-qur’an melalui tiga cara:
Pertama ayat-ayat turun sebagai reaksi terhadap pertanyaan yang dikemukakan kepada nabi.
Kedua ayat-ayat turun sebagai permulaan tanpa didahului oleh peristiwa atau pertanyaan.
Ketiga ayat-ayat yang mempunyai sebab turun itu terbagi menjadi dua kelmpok;
Ayat-ayat yang sebab turunnya harus diketahui ( hukum ) karena asbabun nuzulnya harus diketahui agar penetapan hukumnya tidak menjadi keliru.
Ayat-ayat yang sebab turunnya tidak harus diketahui, ( ayat yang menyangkut kisah dalam al-qur’an).
Kebanyakan ayat-ayat kisah turun tanpa sebab yang khusus, namun ini tidak benar bahwa semua ayat-ayat kisah tidak perlu mengetahui sebab turunnya, bagaimanpun sebagian kisah al-qur’an tidak dapat dipahami tanpa pengetahuan tentang sebab turunnya.
Faedah asbabun nuzul 
Membawa kepada pengetahuan tentang rahasia dan tujuan allah secara khusus mensyari’atkan agama-Nya melalui al-qur’an.
Membantu dalam memahami ayat dan menghindarkan kesulitannya.
Dapat menolak dugaan adanya Hasr ( pembatasan ).
Dapat mengkhususkan (Takhsis) hokum pada sebab menurut ulama yang memandang bahwa yang mesti diperhatikan adalah kekhususan sebab dan bukan keumuman lafal.
Diketahui pula bahwa sebab turun ayat tidak pernah keluar dari hokum yang terkandung dalam ayat tersebut sekalipun datang mukhasisnya ( yang mengkhususkannya ).
Diketahui ayat tertetu turun padanya secara tepat sehingga tidak terjadi kesamaran bisa membawa kepada penuduhan terhadap orang yang tidak bersalah dan pembebasan bagi orang yang tidak bersalah.
Akan mempermudah orang menghafal ayat-ayat al-qur’an serta memperkuat keberadaan wahyu dalam ingatan orang yang mendengarnya jika mengetahui sebab turunnya. 

Munasabah Dalam Al-Qur’an
Pegertian Munasabah
Secara etimologi munasahab adalah salah satu bagian pembahasan 'ulum al-Quran. Munasabah berasal dari kata نا سب – ينا سب – مناسبة yang berarti dekat, serupa, mirip dan rapat. Munasabah adalah al-musyakalah (kesurupan) dan al-muqorobah (kedekatan).
Sedangkan menurut istilah ada beberapa pendapat menurut para ulama :
Az-Zarkasyi merumuskan bahwa munasabah adalah perkara yang menyangkut tafsiran akal. Munasabah ayat terdiri dari hubungan antara permulaan dan penutup ayat.
Manna' al-Qaththan, munasabah ialah sisi keterkaitan antara beberapa ungkapan di dalam satu ayat, atau antar ayat pada beberapa ayat, atau antar surat di dalam al-Quran.
Ibn 'Arabi, munasabah ialah keterkaitan ayat-ayat al-Quran sehingga seolah-oleh merupakan satu ungkapan yang mempunyai kesatuan makna dan keteraturan redaksi.
al-Biqa'i, munasabah adalah suatu ilmu yang mencoba mengetahui alasan-alasan di balik susunan atau urutan bagian-bagian al-Quran, baik ayat dengan ayat maupun surat dengan surat.
Dari pengertian diatas dapat dipahami bahwa Munasabah berarti menjelaskan korelasi makna ayat-ayat atau antara surat, baik korelasi itu bersifat umum atau khusus; rasional (aqli) indrawi (hassiy), atau imajinaif (khayali) atau korelasi berupa asbabun nuzul dan al musabab, ‘ilat dan ma’lul; perbandingan dan perlawanan. Munasabah juga diartika sebagai ilmu yang membahas tentang hikmah korelasi urutan ayat al-qur'an atau dengan kata lain Munasabah adalah usaha pemikiran manusia dalam menggali rahasia hubungan antara ayat atau surat yang dapat diterima oleh akal.
Para ulama tafsir mengelompokkan munasabah ke dalam dua kelompok besar, yaitu hubungan dalam bentuk keterkaitan redaksi dan hubungan dalam bentuk keterkaitan makna (kandungan) ayat atau surat.
Nama lain dari ilmu ini adalah ilmu tanasubil ayati was suwari, yang artinya juga sama, ilmu yang menjelaskan persesuaian antara ayat atau surah yang satu dengan ayat atau surat yang lain. Istilah lain mengenai munasabah ialah, ta'alluq (pertalian) yang digunakan ar-Razi. Kemudian Sayyid Qutub menggunakan istilah irtibath (pertalian) sebagai pengganti munasabah.Al-Alusi menggunakan istilah tartib. bahkan Sayyid Ridla menggunakan dua istilah yakni al-ittishal dan at ta'lil.
Munasabah berupaya menangkap korelasi satu uraian dalam al-Qur’an yang diperkuat maknanya oleh uraian yang lain sehingga nampak seperti bangunan yang setiap bangunnya menopang bagian yang lainnya. Secara singkat munasabah dapat kami artikan sebagai relevansi hubungan atau keterkaitan antara ayat-ayat dengan ayat/surat lain yang tersusun secara taufiqi bagaikan untaian kalung yang menakjubkan.
Membahas masalah munasabah kita tidak akan terlepas dengan Ilmu Tanasibul Ayat was Suwar ( ). Yaitu ilmu Al-qur’an mengenai masalah munasabah, ilmu untuk mengetahui adanya relevansi antar ayat dan antar surat. Ilmu ini yang membantu kita dalam Memahami dengan tepat hubungan antara ayat-ayat dan surat-surat yang bersangkutan.
Seorang ulama yang sangat berjasa dalam ilmu ini adalah Burhanudin Al Biqo’idin. Beliau telah menyusun sebuah kitab yang sangat berharga dalam ilmu munasabah, yang diberi nama Nadhmu Ad-Durur Fi Tanasibul Ayat Was Suwar ( )
Untuk lebih memperjelas pemahaman akan ilmu munasabah, kami kira perlu menambahkan pendapat –pendapat para ulama kaitannya dengan imu ini. 
Secara garis besar ada dua pendapat dikalangan ulama tentang Ilmu Tanasibul Ayat Was Suwar
Pendapat yang menyatakan bahwa setiap ayat atau surat selalu ada relevansi dengan ayat dan surat yang lainnya.
Ulama yang berpendapat seperti ini diantaranya yaitu :

Abu Bakar Al-Naisaburi (wafat tahun 324 H)
Beliau adalah ulama pertama yang memperkenalkan ilmu munasabah di Baghdad, Irak. Beliau mencela, mengkritik ulama Baghdad karena mereka tidak tahu adanya relevansi antara ayat-ayat dan antar surat-surat. Ia selalu mengatakan “mengapa ayat ini dibuat atau diletakkan didekat ayat itu dan apa hikmahnya membuat (meletakkan) surat ini didekat surat ini”
Sebuah ungkapan yang membuktikan bahwa beliau menganggap setiap ayat/surat dengan ayat/surat lain pasti ada munasabahnya.

Muhammad ‘Izal Daruzah
Beliau mengatakan bahwa semula manusia mengira tidak ada hubungan antara ayat/surat dengan ayat/surat lain. Tetapi sebenarnya ternyata, bahwa sebagian besar ayat-ayat dan surat surat itu ada hubungan antara satu dengan yang lainnya

Pendapat yang mengatakan munasabah itu tidak selalu ada. Hanya memang sebagian besar ayat-ayat dan surat-surat ada munasabahnya satu sama lain.Yang mewakili pendapat ini antara lain :
Dr. Shubhi Al-Shahih
Beliau mengatakan bahwa munasabah/ hubungan/relevansi antara ayat/surat dengan ayat/ surat lainnya tidak selalu ada. Hal ini berdasarkan pada tertib ayat-ayat yang taufiqi. Tertib ayat/surat yang taufiqi tidaklah berarti harus ada relevansinya, jika ayat ini memiliki asbabunnuzul yang berbeda-beda. Disamping itu beliau mengemukakan juga bahwa apabila antara ayat-ayat dan antara surat-surat yang tidak ada tamasul atau tasyabuh (persamaan/kesesuaian) antar maudhu’-maudhu’nya maka sudah tentu tidak ada relevansi atau munasabahnya.

Syaikh Izzudin bin Abd As-Salam
Beliau mengatakan bahwa ada tidaknya munasabah antar ayat-ayat atau surat-surat tergantung pada kesamaan tema mulai dari aawal sampai akhir surat. Turunnya Al-Qur’an dilatarbelakangi oleh sebab-sebab dan tema-tema yang berbeda. Untuk itulah tidak perlu untuk dipaksakan dalam menemukan munasabah antaranya.

. SEJARAH DAN SEBAB LAHIRNYA ILMU MUNASABAH
Tercatat dalam sejarah bahwa Imam Abu Bakar al-Naisaburi (wafat 324 H) sebagai oang pertama melahirkan ilmu munasabah di Bagdad. Syekh 'Izzudin ibn 'Abd al-Salam (w. 660 H) menilai munasabah sebagai ilmu yang baik. Menurut al-Suyuti (w. 911 H), orang pertama yang melahirkan ilmu munasabah adalah Syekh Abu Bakar al Nasaiburi. Apabila al-Quran dibacakan kepadanya, ia bertanya mengapa ayat ini ditempatkan di samping ayat sebelahnya dan apa hikmah surat ini ditempatkan di samping surat sebelahnya.
Abu Ja'far ibn al-Zubair Syekh Abi Hayyan secara khusus menyusun sebuah kitab mengenai munasabah ayat-ayat dan surat-surat al-Quran dengan judul, al-Burhan fi Munasabah Tartib Suwar al-Quran. Kemudian, syekh Burhan al-Din al-Biqa'I menyusun kitan dalam bidang yang sama dengan judul Nuzum al-Durar fi Tanasub al-Ayi wa al-Suwar. 

Ada tiga sebab lahirnya ilmu munasabah.

1. Munasabah terlahir didasari dari kenyataan bahwa sistematika al-Quran sebagaimana terdapat dalam mushaf Utsmani sekarang tidak berdasarkan fakta kronologis turunnya. Itulah sebabnya terjadi perbedaan pendapat dilakangan ulama salaf tentang urutan surat (tertib surat) di dalam al-Quran. Pendapat pertama menyatakan bahwa tertib surat merupakan tauqifi; pendapat kedua, ijtihadi; dan ketiga, tauqifi kecuali surat tertentu yang ijtihadi. 
2. Selain dari sebab dari perbedaan pendapat tersebut di atas, metode munasabah ayat secara praktis memang diperlukan bagi upaya penafsiran ayat-ayat al-Quran secara tepat. Hal ini dimungkinkan mengingat ;

1) al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur dalam waktu yang relatif
lama dengan kondisi dan latar belakang yang berbeda;
2) uslub (gaya bahasa) al-Quran yang sangat tinggi dan indah, sehingga tidak
terlalu mudah bagi para mufassir untuk mengetahui makna yang
sebanarnya dari satu ayat; dan
3) bentuk lafazh atau teks al-Quran memiliki banyak karakteristik yang tidak
mudah untuk dapat secara langsung dipahami, seperti lafazh-lafazh 'am,
khash, mutlaq, muqayyad, mujmal, musykil, khafi, muhkam, mutasyabih
dan yang lainnya.
3. Selain dari kedua masalah tersebut di atas, perlu diingat pula bahwa sifat-sifat al-Quran, rutbahnya, dan maksud-maksudnya, dimana nilai petunjuk al-Quran dapat berjalan terus untuk sepanjang masa. Untuk kepentingan hal ini, rasanya tidak mungkin tafsir-tafsir klasik mampu menjawab kebutuhan zaman dewasa ini, yang dinamikanya sangat tinggi. Oleh karenanya, munasabah ayat merupakan metode yang logis dan wajar di zamannya.

C. MACAM-MACAM MUNASABAH
Munasabah atau persesuaian atau persambungan atau kaitan bagian al-Quran yang satu bagian dengan yang lain itu bermacam-macam, hal ini setidaknya bisa dilihat dari dua segi . Pertama, dari segi sifat munasabah, dan kedua dari segi materi munasabah.

1. Munasabah Ayat dari Segi Sifat Munasabah
Jika dilihat dari segi sifat munasabah atau keadaan persesuaian dan persambungannya, maka munasabah itu terbagi ke dalam dua macam, yakni.
a. Munasabah yang nyata (dzaahirul irtibath) atau persesuian yang tampak jelas, yakni yang persambungan atau persesuaian antara bagian (ayat atau surat) dengan bagian lainnya terlihat jelas dan kuat. Persesuaiannya dapat berupa penguat, penafsir, penyambung, penjelas, pengecualian, atau pembatasan dari ayat yang lain, sehingga tampak seperti satu kesatuan yang sama. Contohnya, seperti persambungan antara ayat 1 surat al-Isra yang menerangkan bahwa isra Nabi SAW, berikut ini : Artinya :
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang Telah kami berkahi sekelilingnyaagar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) kami. Sesungguhnya dia adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
Dengan ayat 2 surat al-Isra yang menjelaskan diturunkannya kitab Taurat kepada Nabi Musa, berikut ini
Artinya :
Dan kami berikan kepada Musa Kitab (Taurat) dan kami jadikan Kitab Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil (dengan firman): "Janganlah kamu mengambil penolong selain aku,
Persesuaian antara keduanya sangat jelas, yakni mengenai diutusnya nabi dan rasul.
b. Munasabah yang tidak jelas (kafiyyul irtibadh) atau samarnya persesuaian antara bagian al-Quran dengan yang lain, sehingga tidak tampak adanya pertalian untuk keduanya, bahkan seolah-oleh masing-masing ayat atau surat berdiri sendiri, baik karena ayat yang itu diathafkan kepada yang lain, atau karena yang satu bertentangan dengan yang lain. Contohnya, seperti hubungan antara ayat 189 surat al-Baqarah dengan ayat 190 surat al-Baqarah. Ayat 189 surat al-Baqarah berbunyi Artinya :
Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.
Ayat tersebut menerangkan bulan sabit (tanggal-tanggal) untuk tanda waktu dan untuk jadwal ibadah haji.
Ayat 190 surat al-Baqarah berbunyi : Artinya :
Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Ayat tersebut menerangkan perintah menyerang kepada orang-orang yang menyerang umat Islam.
Sepintas, antara ayat tersebut tidak ada hubungannya atau hubungan yang satu dengan yang lainnya samar. Padahal sebenarnya ada hubungan antara kedua ayat tersebut, ayat 189-nya mengenai soal waktu waji, sedang ayat 190-nya sebenarnya menerangkan, waktu haji dilarang berperang, tetapi jika ia diserang lebih dahulu, maka serangan-serangan musuh itu harus dibalas, walaupun musim haji.

2.Munasabah Ayat dari segi Materi munasabah
Jika dilihat dari segi materi munasabah, maka munasabah itu terbagi ke dalam dua kelompok, yang masing-masing dibagi lagi, yakni.

a. Munasabah ayat dengan ayat meliputi :
1) Munasabah Kalimat (kata) dengan Kalimat (kata) dalam Ayat,
2) Munasabah Ayat dengan Ayat dalam Satu Surat, dan
3) Munasabah Penutup Ayat dan Kandungan Ayat

b. Munasabah surat dengan surat meliputi :
1) Munasabah Awal Uraian dengan Akhir Uraian Surat,
2) Munasabah Nama Surat dengan Tujuan Turunnya,
3) Munasabah Surat dengan Surat Sebelumnya, dan
4) Munasabah Penutup Surat Terdahulu dengan Awal Surat Berikutnya.
Berikut contohnya.
1. Munasabah Kalimat (kata) dengan Kalimat (kata) dalam Ayat
Contoh lafazh alhamdu lillahi (segala puji bagi Allah) dalam surat al-fatihah, dijelaskan oleh lafazh selanjutnya tentang siapa Allah itu, yakni 'rabbi al-'alamina' (Tuhan semesta alam.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.
2. Munasabah Ayat dengan Ayat dalam Satu Surat
Contoh (orang-orang yang bertakwa) pada surat al Baqarah ayat 2, yang pada selanjutnya diuraikan ciri-cirinya, yaitu :
Artinya : (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat], dan menafkahkan sebahagian rezki, yang kami anugerahkan kepada mereka.
3. Munasabah Penutup Ayat dan Kandungan Ayat
Contoh dalam surat al-an'am (6) ayat 31.
Artinya : Dan mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu.Ayat yang ditutup dengan kata dalam untuk membuatnya sejenis dengan kata&ayat tersebut.
4. Munasabah Awal Uraian Surat dengan Akhir Uraian Surat
Munasabah ini dapat dilihat misalnya, pada surat al-Qashash. Permulaan surat menjelaskan perjuangan Nabi Musa, di akhir surat memberikan kabar gembira kepda nabi SAW, yang menghadapi tekanan dari kaumnya, dan akan mengembalikannya ke Makkah. Di awal surat larangan menolong orang yang berbuat dosa dan di akhir surat larangan menolong orang kafir. Munasabahnya terletak pada kesamaan situasi yang dihadapi dan sama-sama mendapat jaminan dari Allah.
Contoh lain, yakni dalam surat al-Mukminun, ayat pertama surat itu berbunyi (sesungguhnya beruntung (sesungguhnyasurat itu orang-orang yang beriman). Ayat terakhir berbunyi orang-orang kafir itu tidak beruntung).
5. Munasabah Nama Surat dengan Tujuan Turunnya
Setiap surat mempunyai tema pembicaraan yang menonjol, dan itu tercermin pada namanya masing-masing, misalnya surat al-Baqarah, surat Yusuf, surat an Naml, surat Jin. Umpamanya dapat dilihat pada surat al-baqarah ayat 67 – 71
Cerita tentang lembu betina dalam surat tersebut mengandung inti pembicaraan tentang kekuasaan Allah membangkitkan orang mati. Intinya, tujuan surat ini adalah menyangkut kekuasaan Tuhan dan keimanan pada hari kemudian.
6. Munasabah Surat dengan Surat Sebelumnya
Hubungan ini berfungsi untuk menerangkan atau menyempurnakan ungkapa pada surat sebelumnya. Contoh ungkapan alhamdulillah dalam surat al-fatihah berkorelasi dengan surat al-baqarah ayat, 152 dan 186.
Artinya :
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam
Artinya :
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.
Artinya :
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.
7. Munasabah Penutup Surat Terdahulu dengan Awal Surat Berikutnya
Contohnya , akhir surat al-waqiah (56) yang berbunyi :


Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha besar.
Dengan awal surat berikutnya, yakni surat al-hadid (57), yang berbunyi :
Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). dan dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Munasabahnya adalah antara perintah bertasbih pada akhir surat al-waqiah dan keteranyan bertasbihnya semua yang ada di langit dan di bumi pada awal surat al-hadid.
D. MANFAAT MENGETAHUI MUNASABAH AYAT
Sebagaimana telah disebutkan ilmu asbab an-nuzul dan munasabah sangat berperan dalam memahami Al-Quran. Dalam hal ini Muhammad 'Abdullah Darraz berpendapat."Sekalipun permasalahan yang diungkap oleh surat-surat itu banyak, semuanya merupakan satu kesatuan pembicaraan yang awal dan akhirnya soling berkaitan. Maka bagi orang yang hendak mema¬hami sistematika surat, semestinya ia memperhatikan keseluruhannya, sebagaimana juga memperhatikan segala permasalahannya.
Sebagian ulama memandang, ilmu ini sangat penting apabila kita tidak mengetahui sebab nuzul suatu ayat. Hasbi al-Shidiqie berkata, "ulama-ulama kita sangat memperhatikan rahasia asosiasi antara ayat dengan ayat hinga munasabah antara ayat dengan ayat dapat menggantikan sebab nuzulnya. Di samping itu, adanya munsabah adalah untuk membantah pandangan bahwa tema-tema al-Quran kehilangan relevansi anatara satu bagian dengan bagian yang lainnya.
Sementara menurut Ramli Abdul Wahid, urgensi dari munsabah bagi seorang mufassir sangat penting. Beberapa urgensainya adalah sebagai berikut; 1) menemukan makna yang tersirat dalam susunan dan urutan kalimat-kalimat, ayat-ayat, dan surat-surat al-Quran sehingga bagian-bagian al-Quran itu saling berhubungan dan menjadi satu rangkaian utuh dan integral; 2) mempermudah pemahaman al-Quran; 3) memperkuat keyakinan atas kebenarannya sebagai wahyu dari Allah; 4) menolak tuduhan bahwa susunan al-Quran itu kacau.

Sementara menurut Abdul Djalal, manfaat mempelajari munasabah ialah sebagai berikut;
1) mengetahui persambungan/hubungan antara bagian al-Quran baik antara kalimat-kalimat atau ayat-ayat maupun surat-surat, sehingga lebih memperdalam pengetahuan dan pengenalan terhadap kitab al-Quran;

2) Dapat diketahui mutu dan tingkat kebalagahan bahasa al-Quran dan konteks kalimat-kalimatnya yang satu dengan yang lainnya sehingga lebih menyakinkan kemukjizatannya, bahwa al-Quran benar-benar dari Allah;

3) membantu dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran.


E. KEDUDUKAN MUNASABAH DALAM PENAFSIRAN AL QURAN
Pengetahuan munasabah sangat terkait dengan kegiatan penafsiran al-Quran, hal ini hampir mirip dengan fungsinya dengan asbab nuzul al-Quran, jika asbab nuzul terkait dengan pengetahuan yang diperoleh melalui riwayah (hadits atau atsar), maka munasabah terkait dengan pengetahuan yang diperoleh melalui ijtihad. Selain itu, munasabah hubungan-hubungan teks dalam bentuknya yang akhir dan final, sementara asbab nuzul mengkaji bagian-bagian teks dengan kondisi eksternal atau konteks eksternal pembentuk teks. Dengan kata lain perbedaan itu adalah perbedaan antara kajian tentang keindahan teks dan tentang kerancuan teks terhadap realitas eksternal. Dari sini kita dapat memahami mengapa ulama-ulama kuno berpendapat bahwa ilmu asbab nuzul adalah ilmu histories, sementara munasabah adalah ilmu stilistika dengan pengertian bahwa ilmu ini memberikan perhatiannya pada bentuk-bentuk keterkaitan antara ayat-ayat dan surat-surat. 
Keterkaitan antara kedunya adalah saling melengkap, apabila suatu ayat belum atau tidak diketahui asbab nuzulnya, atau ada asbab nuzulnya tetapi riwayatnya lemah, maka ada baiknya pengertian (pemahaman) suatu ayat ditinjau dari sudut munasabahnya dengan ayat sebelumnya maupun sesudahnya. Pengetahuan tentang munasabah juga membantu dalam pentakwilan dan pemahaman ayat dengan baik dan cermat. 
Oleh karenanya, penulis berpendapat bahwa munasabah merupakan salah satu model pendekatan yang digunakan dalam menafsirkan ayat-ayat al-Quran, terutama bagi muffasir yang tidak mengetahui asbab nuzul suatu ayat atau hadits asbab nuzul yang lemah.
Pandangan para ulama yang menanggapi masalah ayat al-Quran dalam konteks munasabah terbagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama menganggap bahwa setiap ayat atau surat dalam al-Quran selalu ada relevansi (munasabah) dengan ayat atau surat lainnya, sedangkan kelompok kedua, menganggap bahwa setiap ayat atau surat tidak selalu ada relevansi dengan ayat atau surat lainnya, tetapi sebagian besar ada relevansi satu sama lain.
Oleh karenanya, dapat dikatakan bahwa antara ayat dengan ayat atau surat dengan surat tidak selalu ada relevensi, kalaupun ada, itu baru bisa diketahui melalui seteleh melakukan proses penelitian munasabah terlebih dahulu yang cukup sulit. Kesulitan itu dirasakan karena tidak ada petunjuk yang jelas yang datang dari nash.
Pengetahuan tentang munasabah bukanlah hal yang tauqifi , melainkan didasarkan pada ijtihad (proses akal) seorang mufassir berdasarkan tingkat pemahaman dan penghayatannya terhadap al-Quran . Hal ini, bukan pula berarti bahwa setiap ayat selalu terdapat korelasi. Oleh karenanya, seorang mufassir tidak perlu memaksakan diri untuk menemukan kesesuaian itu, sebab kalau dipaksakan, maka kesesuaian itu hanyalah dibuat-buat.
Berkaitan dengan itu, perlu disampaikan bahwa ulama tafsir terbagi pada dua kelompok dalam menanggapi masalah munasabah. Kelompok yang menampung dan mengembangkan munasabah dalam menafsirkan ayat , sedangkan kelompok lainnya tidak memperhatikan munasabah sama sekali dalam menafsirkan sebuah ayat. Ar-Razi adalah orang yang sangat menaruh perhatian kepada munasabah penafsiran, baik hubungan antarayat maupun antarsurat. Sebaliknya, Nizhamudiin an-Naisaburi dan Abu Hayyan al-Andalusi hanya menaruh perhatian besar kepada munasabah antar ayat. 
Menurut al-Zarkasyi, kelompok yang menolak munasabah beralasan, bahwa suatu kalimat akan memiliki munasabah bila disampaikan (diucapkan) dalam konteks yang sama, karena al-Quran diturunkan dalam berbagai konteks, maka al-Quran tidak memiliki munasabah. Ulama yang termasuk kelompok ini adalah 'Izz al-Din ibn 'Abd al-Salam, Syeikh Muhammad Syaltut , dan Ma'ruf Daulabi.

F.RELEVANSI ILMU MUNASABAH DENGAN ILMUN ASBABUNNUZUL DALAM PENAFSIRAN AL-QUR’AN

Munasabah dan Asbabunnuzul sama-sama cabang dari ulumul qur’an yang menerangkan makna Al-Qur’an. Jika Asasbabunnuzul membahas ayat/surat Al-Qur’an melalui sebab-sebab turunnya dan latar belakang historis, maka Munasabah mencoba membahas ayat dan surat Al-Qur’an berdasarkan hubungan / relevansi dengan ayat/surat lainnya.
Asbabunnuzul merupakan ilmu yanbg diakui sangat kuat dalam membantu mencari makna ayat/surat Al-Qur’an. Memang mengetahui Asbabunnuzul sangat membantu dalam memahami ayat. Namun demikian terdapat beberapa kelemahan dalam pencarian makn melalui cara Asbabunnuzul ini, yaitu ddalam hal periwayatan. Mengetahui Asbabunnuzul suatu ayat/surat sama halnya dengan menerapkan teori “lompatan waktu”. Kita dapat mengetahui sebab-sebab turunnya suatu ayat/ surat hanya melalui satu sumber yaitu sumber riwayat.
Suatu masalah akan muncul manakala terdapat dua atau lebih riwayat yang saling bertentangan mengenai suatu ayat. Hanya ada satu kemungkinan yaitu riwayat yang tidak shohih, tidak mungkin semua riwayat benar. Inilah yang menyulitkan para mufasir dalam mengungkapkan suatu makna ayat/surat
Demikianlah keberadaan ilmu munasabah menjadi salah satu alternative bagi kita untuk memahami makna ayat/surat dalam Al-Qur’an.bilamana ia tidak menyimpang dari apa yang telah diterangkan dalam asbabunnuzul. Lebih jauh menurut Muhammad Abduh suatu surat memiliki satu makna dan erat pula hubungannya dengan surat sebelum dan sesudahnya. Apabila suatu ayat belum atau tidak biketahui Asbabunnuzulnya atau ada Asbabunnuzul tetapi riwayatnya lemah, maka ada baiknya pemahaman suatu ayat/surat dalam AL-Qur’an ditinjau dari sudut munasabahnya dengan ayat/surat sebelum maupun sesudahnya.
Melalui ilimu Munasabah suatu ayat/surat dapat dipahami makna tanpa asbabunnuzul. Asal seorang mufasir mempunyai pengetahuan yang luas tentang munasabah bagi kita baik Asbabunnuzul atau Munasabah sangat membantu dalam menerangkan mengungkapkan makna suatu ayat atau surat dalam AL-Qur’an. Asbabunnuzul dan Munasabah sebagai cabang ulumul qur’an yang saling membantu dan melengkapi dalam menafsirkan AL-Qur’an


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Seteleh mempelajari dan melihat pembahasan yang telah dijabarkan panjang lebar diatas, dapat kami simpulkan bahwasannya:

1. Asbabun nuzul didefinisikan 

“ sebagai suatu hal yang karenanya al-qur’an diturunkan untuk menerangkan status hukumnya, pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan”, serta memiliki faedah didalamnya.

2. Cara turunnya Asbabun Nuzul itu:

Pertama ayat-ayat turun sebagai reaksi terhadap pertanyaan yang dikemukakan kepada nabi.
Kedua ayat-ayat turun sebagai permulaan tanpa didahului oleh peristiwa atau pertanyaan.

Ketiga ayat-ayat yang mempunyai sebab turun itu terbagi menjadi dua kelmpok;

Ayat-ayat yang sebab turunnya harus diketahui ( hukum ) karena asbabun nuzulnya harus diketahui agar penetapan hukumnya tidak menjadi keliru.
Ayat-ayat yang sebab turunnya tidak harus diketahui, ( ayat yang menyangkut kisah dalam al-qur’an).

3. Faedah asbabun nuzul

Membawa kepada pengetahuan tentang rahasia dan tujuan allah secara khusus mensyari’atkan agama-Nya melalui al-qur’an.
Membantu dalam memahami ayat dan menghindarkan kesulitannya
Dapat menolak dugaan adanya Hasr ( pembatasan ).
Dapat mengkhususkan (Takhsis) hokum pada sebab menurut ulama yang memandang bahwa yang mesti diperhatikan adalah kekhususan sebab dan bukan keumuman lafal.
Diketahui pula bahwa sebab turun ayat tidak pernah keluar dari hokum yang terkandung dalam ayat tersebut sekalipun datang mukhasisnya ( yang mengkhususkannya ).
Diketahui ayat tertetu turun padanya secara tepat sehingga tidak terjadi kesamaran bisa membawa kepada penuduhan terhadap orang yang tidak bersalah dan pembebasan bagi orang yang tidak bersalah.
Akan mempermudah orang menghafal ayat-ayat al-qur’an serta memperkuat keberadaan wahyu dalam ingatan orang yang mendengarnya jika mengetahui sebab turunnya.



DAFTAR PUSTAKA


Abdul Wahid, Ramli.1994.ulumul qur’an.Jakarta:Rajawali
Al-khattan, Manna’ khalil.2001.Studi ilmu-ilmu qur’an.Bogor:PT. Pustaka litera antar nusa
Syadali, Ahmad.1997.Ulumul qur’an I.Bandung:CV. Pustaka Setia
Thamrin, Husni.1982.Muhimmah ulumul qur’an.Semarang:Bumi Aksara
Zuhdi, Masfuk.1993.Pengantar ulumul qur’an.Surabaya:Bina Ilmu


ADIBINTANG

SYAIR : HIDUP NYAMAN BARARAKATAN

SYAIR : HIDUP NYAMAN BARARAKATAN Hadani Had Biar haja kita ngini babida-bida Suku, agama wan bahasa babida Tagal kita harus rukun nang ada K...

POPULER