ILMU DUNIA : BERMANFAATKAH?
Hadani, S.Pd.I
لولا مربي ما عرفت ربي
Lau Laa Murobbii Maa ‘Aroftu Robbii
Yang maksudnya kurang lebihnya begini, kalau
bukan guruku yang dengan ikhlas dan penuh kesabaran dalam membimbingku, maka
aku tidak mengenal diriku, tidak mengenal jalan hidup dan makna yang lebih dalam
lagi aku tidak akan mengenal Tuhanku (Allah).
Dalam hal ini tentu kita harus mengakui
keberadaan guru kita yang mau tidak mau, mereka-mereka memiliki andil besar
dalam kehidupan kita, sehingga kita sampai pada titik sekarang ini.
Dalam kalimat tersebut diatas jua menjelaskan
bahwa, kita haruslah memperlakukan guru kita dengan sebaik mungkin, dengan adab
yang bagus dan sepantasnya kita sebagai murid harus menjaga ikatan silaturrahmi
dengan mereka, agar apa yang pernah kita dapatkan dari mereka bisa kita
manfaatkan untuk kehidupan (keberkahan).
Ada yang mungkin secara picik berpendapat,
untuk apa belajar matematika, untuk apa belajar ilmu-ilmu dunia, tidak membantu
juga dengan kehidupan diakhirat nanti. Sejujurnya bukan seperti itu, stigma itu
harus kita ubah bahwa sesungguhnya semua ilmu itu bermanfaat, bukan hanya
sebagian ilmu saja yang bermanfaat, bukan hanya ilmu akhirat saja yang
bermanfaat, cara pandang itulah yang harus kita ubah. Semisal matematika,
apakah Allah mengajarkan kita matematika?, apa buktinya?. Jawabnya, ya benar
Allah mengajarkan kita tentang matematika, didalam al-quran surah al-an’am ayat
160 Allah berfirman :
مَنْ جَاۤءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهٗ عَشْرُ اَمْثَالِهَا ۚوَمَنْ جَاۤءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزٰٓى اِلَّا
مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ
Artinya : Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat
amalnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan
kejahatannya. Mereka sedikit pun tidak dirugikan (dizalimi).
Dari ayat
tersebut Allah mengajarkan kepada kita 1 kebaikan dibalas 10 kebaikan (pahala).
Bukankah disini Allah mengajarkan kepada kita perkalian, 1 x 10 sama dengan 10
bayangkan kalau 2 kebaikan atau 10 bahkan seratus atau malah seribu?.
Bahkan
Rasulullah SAW melalui hadits qudsi menerangkan sebagai berikut :
Dari Abu Hurairah,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah
Ta’ala berfirman: Jika hamba-Ku bertekad melakukan kejelekan, janganlah dicatat
hingga ia melakukannya. Jika ia melakukan kejelekan tersebut, maka
catatlah satu kejelekan yang semisal. Jika ia meninggalkan kejelekan tersebut
karena-Ku, maka catatlah satu kebaikan untuknya. Jika ia bertekad melakukan
satu kebaikan, maka catatlah untuknya satu kebaikan. Jika ia melakukan kebaikan
tersebut, maka catatlah baginya sepuluh kebaikan yang semisal hingga 700
kali lipat.” (HR. Bukhari no. 7062 dan Muslim no. 129).
Wow, nilai yang fantastis yang diberitahukan Allah kepada
kita. 700 kali lipat pahala adalah balasan dari satu kebaikan. Apakah
matematika tidak bermanfaat?. Ini hanya sedikit yang mungkin saya bisa bagikan
kepada pembaca sekalian.
Saudaraku sekalian, sekali lagi coba kita renungkan, ilmu
yang bermanfaat bukan hanya ilmu yang berkaitan dengan akhirat saja. Kita
sepakat bahwa kita hidup di dunia ini untuk kelak kita hidup di akhirat. Namun,
ketahuilah bahwa ketika kita hidup di dunia yang fana ini, tentu kita hidup
memerlukan ilmu bagaimana caranya hidup di dunia ini dengan sukses. Kesuksesan
kita di dunia ini akan menjadi awal bagi kita hidup sukses di akhirat kelak.
Ulama atau guru-guru kita sering menjelaskan bahwa kalau
kita menuntut dunia (harta dll) namun tujuannya adalah sebagai bekal hidup kita
di akhirat, maka itu tidaklah lagi menjadi dunia berarti manfaatnya untuk
akhirat. Misalkan, kita mencari rezeki yang halal untuk anak istri kita atau
keluarga kita. Maka, apa yang kita dapatkan bukan hanya berbuah untuk dunia
kita saja, namun yang lebih menyenangkan adalah rezeki yang kita dapatkan itu
akan menjadikan kita selamat di akhirat. Bukankah Rasulullah bersabda, yang
artinya : menuntut harta (dunia) yang halal adalah kewajiban bagi seluruh orang
islam.
Nah dengan demikian ilmu yang mermanfaat bukan hanya soal akhirat, namun bagaimana ilmu itu
menghasilkan untuk dunia kita, yang kemudian menjadi bekal kita untuk akhirat. Demikian
tulisan singkat dari kami, semoga bermanfaat.
Nuun, wal qolami wa maa yasturuun
Demi pena dan berkarya
Hadani Had
