Rabu, 20 Maret 2013

CERPEN : Cintaku Dikhianati


CINTAKU DIKHIANATI
Hadani Had



Sore ini sama seperti sore sebelumnya, kemaren dan yang telah berlalu. Aku kembali duduk didipan tempat biasanya aku mengistirahatkan tubuhku setelah seharian beraktifitas, sambil memandang langit disore hari menjelang senja yang sangat indah. Setiap sore aku memandang pemandangan dibelakang kamarku, yang menyejukkan mata. Hamparan rumput hijau yang selalu memanjakan mataku, kicau burung layang-layang yang selalu berterbangan di atas rumahku ketika senja kan datang dan suara lantunan pengajian alqur’an sembari menunggu waktunya azan maghrib datang terdengar dari corong diatas menara masjid.

Hari ini entah kenapa aku duduk termangu meratapi nasib yang mungkin kehilangan arah, ibaratkan burung buta dan sayapnya patah satu. Kenangan itu kurasa selalu menggilas nurani, ketika kuingat rasanya tercabik dan pedih hati ini bak disayat sembilu kemudian di siram dengan air cuka. Kenangan itu selalu menghantuiku, rasanya sudah mematikan dan mengeringkan rumput dipekarangan hati ini, berbeda jauh dengan pemandangan rumah yang ku lihat. Tanaman yang selama ini ku rawat, hingga subur dan sekarang sirna.
***
Hari itu, aku masih ingat. Diakhir November. Tepat didepan mataku, kau meninggalkanku dan mengatakan kepadaku,
“Tak ada lagi yang bisa kuharap darimu, aku sudah muak denganmu. Sekarang aku ingin kau melepaskanku, biar aku bebas seperti burung camar yang terbang”

Itulah kata yang terucap dari mulut indahmu yang paling tajam menghunjam dihatiku. Aku hanya terdiam tanpa mengucapkan sehelai katapun dihadapanmu. Namun, hatiku sangat pedih dan sakit. Kau yang dulu kusayang, yang menjadi tumpuan hatiku, untuk aku berlabuh, tiba-tiba langsung berubah menjadi garang. Aku tak tahu alasan apa yang membuatmu demikian benci padaku. Dan aku pun tak tahu apa salahku sebenarnya padamu. Sangat berdosakah aku padamu. Beberapa pertanyaan yang tak bias ku jawab, dan pasti akan ku dapatkan jawabnya. Nanti, ketika semuanya sudah terang dan jelas.
***
“Maria, aku cinta padamu, maukah kau menikah denganku?” kataku dengan harapan yang besar.

Itulah kata yang ku ucapkan pertama kali meminangmu untuk menjadi pendamping hidupku, dan kau jawab
“Aku menerimamu Amin, dengan apa adanya dan dengan tangan terbuka, kita akan jalani hidup dengan bahagia, dan apa adanya. Percayalah aku juga saying padamu”. kata-katamu menghipnotisku.

Lalu ku sambut dengan kata I LOVE YOU, sambil kukecup keningmu dan kucium mesra pipimu. Mulai detik itu, jam itu dan waktu itu kita lalui dengan kasih sayang, bersama, dan tanpa ada pertengkaran yang berlebihan. Kau milikku Maria.

Tapi sekarang cerita indah itu sudah tak ada lagi, hanya tinggal kenangan. Kenangan indah itu sudah sirna, hilang dan tak tahu kenapa.
***
Pada suatu waktu, disenja setelah beberapa hari kau meninggalkanku. Aku tahu jawabnya, kenapa kau meninggalkanku. Ketika itu aku ingin merubah suasana hatiku, barangkali kan lebih baik, diperempatan jalan ku lihat kau sedang duduk, kukira waktu itu menunggu seseorang. Kuperhatikan dari jauh, ternyata benar dugaanku. Kau di hampiri sebuah mobil Sedan berwarna biru malam, dan kau langsung masuk kedalamnya, langsung meninggalkan tempat dimana kau menunggu tadi. Ku pacu sepeda motor bututku untuk mengiringi mobil mewah itu. Dan akhirnya kau dan dia singgah disebuah rumah makan. Tempat dimana waktu pertama kali aku berkenalan dan menjalin cinta bersamamu. Ahhh, begitu indah waktu itu.

Aku bimbang, apakah aku harus masuk menemuimu, ataukah tidak. Kupikir-pikir sejenak, dan aku perhitungkan segala akibatnya. Akhirnya kuberanikan untuk masuk menemuimu dan dia.

Hatiku semakin bedebar jantungku berdetak lebih kencang, ternyata lelaki itu adalah temanku sendiri. Langsung saja kuhampiri kau dan dia

“Maria. Sungguh tega kau khianati aku, hanya demi dia temanku sendiri” kalau saja aku bias kan kuhabiskan semua amarahku padamu.Dan kau jawab,

“Aku lebih sayang dengan Abdul, mau apa kau? Mau menamparku?” kau jahanam. Beraninya bermain dibelakangku Hatiku berbicra. Aku lagsung saja meninggalkan kalian, membawa hati yang luka ini.
***
Maria, kau yang dulu kusayang
Kau yang dulu kucinta
Yang sudah menggagahi hatiku
Kau yang......

Akhhhh
Sekarang sudah berpaling arah
Meninggalkanku
Untuk dia, sahabatku sendiri.

Dan kau, yang katanya sahabatku
Begitu tega,
Kau bukanlah sahabat, melainkan pagar makan tanaman

Ingatlah kalian
Aku yang nista ini, kan menghantui setiap langkah kalian
Selamaya

Itu sumpahku…

Hanya itu yang dapat ku ucapkan disepanjang perjalalanku menuju rumah, dan sampai hari ini pun aku tetap seperti hari-hari biasa. Meratapi nasib, karena tuhan tidak berlaku adil padaku.

(Tanjung, 24 09 2012)

ADIBINTANG

SYAIR : HIDUP NYAMAN BARARAKATAN

SYAIR : HIDUP NYAMAN BARARAKATAN Hadani Had Biar haja kita ngini babida-bida Suku, agama wan bahasa babida Tagal kita harus rukun nang ada K...

POPULER