CINTAKU DIKHIANATI
Hadani Had
Sore ini sama
seperti sore sebelumnya, kemaren dan yang telah berlalu. Aku kembali duduk
didipan tempat biasanya aku mengistirahatkan tubuhku setelah seharian
beraktifitas, sambil memandang langit disore hari menjelang senja yang sangat
indah. Setiap sore aku memandang pemandangan dibelakang kamarku, yang menyejukkan
mata. Hamparan rumput hijau yang selalu memanjakan mataku, kicau burung layang-layang
yang selalu berterbangan di atas rumahku ketika senja kan datang dan suara lantunan
pengajian alqur’an sembari menunggu waktunya azan maghrib datang terdengar dari
corong diatas menara masjid.
Hari ini entah
kenapa aku duduk termangu meratapi nasib yang mungkin kehilangan arah,
ibaratkan burung buta dan sayapnya patah satu. Kenangan itu kurasa selalu
menggilas nurani, ketika kuingat rasanya tercabik dan pedih hati ini bak
disayat sembilu kemudian di siram dengan air cuka. Kenangan itu selalu
menghantuiku, rasanya sudah mematikan dan mengeringkan rumput dipekarangan hati
ini, berbeda jauh dengan pemandangan rumah yang ku lihat. Tanaman yang selama
ini ku rawat, hingga subur dan sekarang sirna.
***
Hari itu, aku
masih ingat. Diakhir November. Tepat didepan mataku, kau meninggalkanku dan
mengatakan kepadaku,
“Tak ada lagi yang bisa kuharap darimu, aku sudah muak denganmu.
Sekarang aku ingin kau melepaskanku, biar aku bebas seperti burung camar yang
terbang”
Itulah kata yang
terucap dari mulut indahmu yang paling tajam menghunjam dihatiku. Aku hanya
terdiam tanpa mengucapkan sehelai katapun dihadapanmu. Namun, hatiku sangat
pedih dan sakit. Kau yang dulu kusayang, yang menjadi tumpuan hatiku, untuk aku
berlabuh, tiba-tiba langsung berubah menjadi garang. Aku tak tahu alasan apa
yang membuatmu demikian benci padaku. Dan aku pun tak tahu apa salahku
sebenarnya padamu. Sangat berdosakah aku padamu. Beberapa pertanyaan yang tak
bias ku jawab, dan pasti akan ku dapatkan jawabnya. Nanti, ketika semuanya
sudah terang dan jelas.
***
“Maria, aku cinta
padamu, maukah kau menikah denganku?” kataku dengan harapan yang besar.
Itulah kata yang
ku ucapkan pertama kali meminangmu untuk menjadi pendamping hidupku, dan kau
jawab
“Aku menerimamu Amin, dengan apa adanya dan dengan tangan terbuka,
kita akan jalani hidup dengan bahagia, dan apa adanya. Percayalah aku juga
saying padamu”. kata-katamu menghipnotisku.
Lalu ku sambut
dengan kata I LOVE YOU, sambil kukecup keningmu dan kucium mesra pipimu. Mulai
detik itu, jam itu dan waktu itu kita lalui dengan kasih sayang, bersama, dan
tanpa ada pertengkaran yang berlebihan. Kau milikku Maria.
Tapi sekarang
cerita indah itu sudah tak ada lagi, hanya tinggal kenangan. Kenangan indah itu
sudah sirna, hilang dan tak tahu kenapa.
***
Pada suatu waktu,
disenja setelah beberapa hari kau meninggalkanku. Aku tahu jawabnya, kenapa kau
meninggalkanku. Ketika itu aku ingin merubah suasana hatiku, barangkali kan
lebih baik, diperempatan jalan ku lihat kau sedang duduk, kukira waktu itu
menunggu seseorang. Kuperhatikan dari jauh, ternyata benar dugaanku. Kau di
hampiri sebuah mobil Sedan berwarna biru malam, dan kau langsung masuk
kedalamnya, langsung meninggalkan tempat dimana kau menunggu tadi. Ku pacu
sepeda motor bututku untuk mengiringi mobil mewah itu. Dan akhirnya kau dan dia
singgah disebuah rumah makan. Tempat dimana waktu pertama kali aku berkenalan
dan menjalin cinta bersamamu. Ahhh, begitu indah waktu itu.
Aku bimbang,
apakah aku harus masuk menemuimu, ataukah tidak. Kupikir-pikir sejenak, dan aku
perhitungkan segala akibatnya. Akhirnya kuberanikan untuk masuk menemuimu dan
dia.
Hatiku semakin
bedebar jantungku berdetak lebih kencang, ternyata lelaki itu adalah temanku
sendiri. Langsung saja kuhampiri kau dan dia
“Maria. Sungguh
tega kau khianati aku, hanya demi dia temanku sendiri” kalau saja aku bias kan
kuhabiskan semua amarahku padamu.Dan kau jawab,
“Aku lebih sayang
dengan Abdul, mau apa kau? Mau menamparku?” kau jahanam. Beraninya bermain
dibelakangku Hatiku berbicra. Aku lagsung saja meninggalkan kalian, membawa
hati yang luka ini.
***
Maria, kau yang dulu kusayang
Kau yang dulu kucinta
Yang sudah menggagahi hatiku
Kau yang......
Akhhhh
Sekarang sudah berpaling arah
Meninggalkanku
Untuk dia, sahabatku sendiri.
Dan kau, yang katanya sahabatku
Begitu tega,
Kau bukanlah sahabat, melainkan pagar makan tanaman
Ingatlah kalian
Aku yang nista ini, kan menghantui setiap langkah kalian
Selamaya
Itu sumpahku…
Hanya itu yang dapat
ku ucapkan disepanjang perjalalanku menuju rumah, dan sampai hari ini pun aku
tetap seperti hari-hari biasa. Meratapi nasib, karena tuhan tidak berlaku adil
padaku.
(Tanjung, 24 09 2012)
