Selasa, 21 Mei 2013

NASKAH PERGELARAN SASTRA "SESAJEN DAN MANTRA PARA DATU"




NASKAH PERGELARAN SASTRA
PUISI “SESAJEN DAN MANTRA PARA DATU”
Karya : Gusti Indra Setyawan
Skenario : Hadani Had

Dramatik Personal
1.      Narator 1
2.      Narator 2
3.      Damang
4.      Balian 1
5.      Balian 2
6.      Sosok - Sosok Merah
7.      Sosok - Sosok Hitam

INTRODUKSI :
Pade Out
TERDENGAR SUARA KENONG BADUDUS DITABUH, BABUN, GIRING-GIRING DAN BUNYI LAINNYA YANG MENDUKUNG SUASANA SAKRAL ARUH ADAT BADUDUS.

Pade In
DI TENGAH PANGGUNG BERSEMEDI SEORANG DAMANG, KEMUDIAN MASUK BALIAN MENARI, MENGELILINGI DAMANG YANG SEDANG BERSEMEDI, MEMOHON PERTOLONGAN DATU. LALU MUNCUL SOSOK-SOSOK HITAM SOSOK-SOSOK MERAH DARI ARAH BERLAWANAN. MENGELILINGI BALIAN DAN DAMANG SEMAKIN KENCANG-SEMAKIN KENCANG LALU BERBARIS MENGELILINGI DAMANG DAN BALIAN. TERSENGAR SUARA PEMUJA, MEMBUNCAHKAN MANTRA. DARI LAMBAN BERUBAH SEMAKIN CEPAT.  IRAMA TETABUHAN PUN SEMAKIN CEPAT CEPAT HILANG. HANYA TINGGAL SUARA – SUARA SOSOK.

Koor                :      Awi yu wi ya...
Awiyu wi ya...
Awiyu Wiya...

AWIYU WIYA SEMAKIN CEPAT, MUSIK BADUDUS MASUK, PARA PENARI BAGINTUR MASUK MENGELILINGI PARA PEMUJA DATU. KOOR AWIYA WIYO MENURUN MELAMBAN PELAN. PARA PENARI GINTUR TETAP MENARI DALAM GERAK STYLISASI.

Narator 1         :      Barisan pemuja menampikan sesajen menyembah dewa
Yang tak berbaju dan berpeluh
Narator 2         :      Bermoreng-poreng wajah menatap tajam dari semua arah
Mata memerah mulut komat-kamit mengeluarkan mantra
Koor                :      Berlutut sujud tangan menengadah dalam pinta yang tak terjawab
Awiyu Wi ya...
Awiyu wi ya...

SOSOK HITAM BERGERAK STYLISASI, MENJADI BENTUK POHON. KEMUDIAN DAMANG DAN BALIAN MENGELILINGI POHON ITU. DI SPACE LAIN PENARI GINTUR MENARI SAMPAI TARI BULAT TERBENTUK.

Damang          :      Datu-datu pohon kariwaya keluarlah (berulang-ulang).

POHON PECAH MENBENTUK BENTUK ARTISTIK. KEMUDIAN SOSOK-SOSOK MERAH MENGANGKAT BULAT MENARUH KEMUKA.

Balian 1           :      Anak cucu membuka rindu, menafsir dalam pasir dan debu
Menghunjam nafsu angkara
Balian 2           :      (Mendekati sibulat) Membelah langit dan memandang penuh hasrat
Mengharap datu turun dari langit dengan sumringah senyum

BULAT KEMUDIAN DITUTUPI KAIN PUTIH, DI DALAM BALUTAN KAIN PUTIH ITU IA MELEPAS BULATAN BADANNYA. KEMUDIAN BERDIRI, MASIH TERTUTUP KAIN. DAMANG, BALIAN, GINTUR DAN SOSOK-SOSOK MENYEMBAH, KAIN PUTIH.

Narator 1         :      Dibungkus Kain putih
Narator 2         :      Membawa rindu para pemuja

DALAM GERAK RITMIS, SOSOK-SOSOK MEMAKAI TOPENG MENGELILINGI. GINTUR MENARI TIDAK TERATUR. BALIAN, DAMANG TERTUNDUK TAK BERANI MENENGADAH.

Koor Sosok     :      Yang berhati Iblis
Berwajah Dajjal
Bermuka Fir’aun
Berteman setan dan segala datu setan

SOSOK SOSOK MERAH DAN HITAM BERUBAH BENTUK, BERGERUMUL, SEMAKIN MENINGGI SEMAKIN PASTI, DAN SEMAKIN MENJADI SEBUAH POHON YANG PENUH KEANGKARA MURKAAN. PARA DAMANG, BALIAN DAN GINTUR PUN MENARI, MENABURKAN AROMA SEMERBAK GARU, DUPA DAN MENYAN.

Narator 1 & 2  :      Yang mangkal di bawah pohon kariwaya
Menunggu sesajen dan mantra para datu.
Koor                :      Menunggu sesajen dan mantra para datu.

POHON RUBUH, DAN KEMBALI BENTUK SEPERTI SEMULA, DITENGAH ADA DAMANG DIKELILINGI BALIAN, GINTUR BERGERAK STATIS, SOSOK YANG BERCERAI BERAI ITU BERMAMANG BERMANTRA. SEMAKIN CEPAT SEMAKIN CEPAT. DAN BERAKHIR.

Koor                :      Awiyu wi ya....

Lampu padam
***Pertunjukan berakhir***

Tanjung,  21 Mei 2013
Terimakasih, abangku Andi Sahludin, Bang Gusti Indra setyawan, dan Bunda Lilis
Aku sayang kalian semua. Terimakasih atas segalanya dan kepercayaannya.

Senin, 20 Mei 2013

NASKAH MONOLOG " SANG NASIONALIS " HADANI HAD




SANG NASIONALIS
Hadani Had

PANGGUNG TERASA SANGAT NASIONALIS DIBANGUN OLEH ALUNAN LAGU INDONESIA RAYA YAG SEDIKIT DEMI SEDIKIT MEMBAHANA.
SETTING PANGGUNG BERUPA SEBUAH LAPANGAN TEMPAT BIASA ORANG SANTAI, ENTAH TAMAN ATAU LAPANGAN UMUM. DICENTRAL ADA SEBUAH TIHANG YANG BERDIRI AGAK MIRING DAN DIUJUNGNYA BERKIBAR BENDERA MERAH PUTIH. DIKIRI BAWAH ADA KURSI BAGUS NAMUN TIMPANG.
UNTUK KOSTUM TOKOH BEBAS, TIDAK DITENTUKAN SUKU, BANGSA DAN WARGA NEGARA MANA.
=====================================================================
Pade In :
Lampu remang-remang menyala, diiringi lagu Indonesia Raya yang membahana. Tu’uh sudah berdiri didepan tihang bendera dengan posisi hormat. Kemudian lampu sedikit demi sedikit bertambah terang dan mencapai puncak terang. Lalu lagu Indonesia Raya pelan namun pasti juga ikut menghilang.

Tegap grak (kemudian tuuh duduk dikursi seolah-olah orang yang sangat gembira). Hari ini kita sudah merdeka, kalau tidak salah sudah 75 tahun. Rasanya sudah melebihi umur kakek dari sepupu kakek ayahku. Pertanyaannya, apakah kita sudah merasa merdeka? Baik itu merdeka hidup, merdeka mati, lahir dan batin.

Kalau boleh saya menebak, merdeka yang kita banggakan selama ini adalah merdeka lahir batin, hidup dan mati. Diri yang tak tergadaikan dan disana sini tidak punya hutang. Anda setuju?? Atau tidak setuju?? Silahkan selama anda memiliki tujuan hidup dan argument yang kuat. Karena apa saya bilang begitu, sebab tanpa adanya tujuan hidup dan argumen yang kuat, hidup kita tidak akan dihargai orang. Sekali lagi saya camkan tidak dihargai orang. Kalau hidup kita tidak ada harganya dimata orang, apakah kita bisa dibilang merdeka.

Tuuh bertepuk tangan sendiri seolah-olah ia baru saja menyampaikan ceramah yang panjang dengan rasa nasionalisme yang tinggi.

Saya berani jamin, dan berkata disini, saudara-saudara sekalian belum mencapai kemerdekaan yang hakiki. Dan belum mendapatkan kemerdekaan yang selama ini kita banggakan bersama. Sebab apa?? Sebab saudara-saudara sekalian tidak memiliki argument yang kuat dan tujuan hidup yang tidak jelas. Kalau boleh saya bilang tujuan hidup kita semua adalah ini (Menunjukkan dengan jari-jarinya menggambarkan uang). Ya ini …. Ada yang gak setuju?? Kalau tidak setuju apa ragumen anda, ada yang tidak setuju?? (menunjuk kearah seorang penonton) Anda tidak setuju?? Apa argument anda? Kalau anda tidak paham  argument, baiklah akan saya sederhanakan bahasa saya. Apa alasan anda?? (Tertawa) Anda diam berarti anda setuju, jadi kenapa anda angkat tangan?? Nah saudara-saudara sekalian inilah salah satu contoh orang yang tidak memiliki tujuan hidup. (tertawa karena merasa menang).

Tuuh berjalan lalu kemudian seperti orang yang baru sadar dari lamunannya. Oooowwwhhh iya. Saya hampir lupa, kalau saya belum memperkenalkan diri. Biasa, bisa lupa saya, kalau sudah keasyikan menyampaikan ceramah tentang rasa nasionalis seperti tadi. Karena kebiasaan hati saya selalu bergolak bila membicarakan tentang rasa cinta kita kepada tanah air ini. Mungkin sama juga dengan para teroris yang mendoktrin pengikutnya penuh semangat seperti itupun juga saya. Hmmmmmmmmmm.

Perkanalkan nama saya Tu’uh T-U-‘-U-H. Ya Tu’uh. Mungkin anda baru mngenal nama itu, atau baru mendengar dan merasa asing dengan nama itu. Mungkin karena anda kuper atau hidu dihutan. Nama saya ini sudah dikenal dikalangan pejabat tinggi Negara. Baiklah. Itu tidak terlalu dipikirkan, tersebab apalah arti sebuah nama kalau tanpa sebuah karya. Ya sebuah karya, sebelum saya mengenalkan karya saya. Saya mau bilang, walau nama saya itu jelek dan agak kampungan, itu kata istri saya. Saya bangga dengan nama tersebut, soalnya orang tua saya sudah balampah untuk mendapat nama itu disebuah gunung didaerah Martapura, namanya gunung Pamaton. Pada malam jum’at tanpa makan dan tanpa minum dan tidak tidur. Nama saya tersebut dituliskan oleh datu-datu yang ada disana yaitu TUUH. Entah apa yang membuat orang tua saya tersebut mempercayai hal demikian. Tapi terlepas dari itu semua, saya bangga dengan nama tersebut. Sebab dengan nama ini saya bisa mengenalkan diri kepada anda-anda dan anda. Dan sebagian riwayat hidup saya. Sekaligus karya saya dijagat raya ini.

TERDENGAR SUARA TEMBAKAN DAN BUNYI BISING, TUUH BERSEMBUNYI DEBELAKANG KURSI KETAKUTAN.

Kalian dengar itu, itulah suara yang saya takutkan selama ini, walaupun saya juga memiliki barang yang sama dengan yang dimiliki oleh mereka. Sebab saya sangat takut.
“ampun pak, jangan tangkap saya dan jangan bunuh saya, istri saya ada empat pak. Anak-sanak saya lebih sepuluh, kalau bapak menangkap saya maka apa mereka nanti, mereka bergantung hidupnya kepada saya pak. Ampuni saya. Saya masih banyak yang belum dicapai, prestasi, kedudukan pagkat dan wibawa pak. Tolong ya pak ya. Dan tolong jangan turunkan saya dari jabatan saya ini selaku advokat. Saya tidak mau menganggur pak ya pak ya. Kalau bapak setuju nanti lihatlah direkening bapak uang bapak akan bertambah”.

SUARA TEMBAKA ITU HILANG DAN TUUH PUN KEMBALI DUDUK DIKURSI, PERASAANNYA SEPERTI DUDUK DI KURSI SIDANG.

Baik-baik baik. Saya akan jelaskan kenapa saya begitu takut terhadap suara tembakan dan geraman pak polisi. Saya akan mengakui, dan menjelaskannya. Sebenarnya saya adalah konglomerat bukan orang melarat yang sekarat karena terjerat oleh tipu muslihat. Tapi konglomerat kaya. Saya adalah the win, the great atau the number one. Dan asal kalian tahu harta saya banyak diposito melimpah, presiden pun kalah dengan saya, lebih kaya saya, saya adalah orang terkaya dinegeri ini. Negeri pertiwi tercinta.
Anda mungkin bingung dari mana saya mendapatkannya, tidak usah bingung tadi sudah saya katakan kepada anda. Kalau saya ini seorang advokat, kerjanya advokat adalah menyelesaikan masalah, dengan menyelesaikan masalah saya dapat mendapatkan uang, kerena mendapatkan uang, saya kaya. Kaya. Kaaaaayaaaaa.
Saya mempunyai banyak klien, mulai dari urusan sekolah, kuliah, masuk kantor, mau jadi pambakal, lurah, bupati dan gubernur. Sayalah ahlinya. Mulai urusan ekonomi politik dan rumah tangga saya paling hebat. Dan anda harus yakin semua pasti beres asal ada ini. Asal dengan saya semua urusan akan tuntung pandang ruhui rahayu dan beres. ADUL, Ada Duit Urusa Lacar (tertawa bangga).

MENEKANKAN KEPADA PENONTON DAN BERBICARA DENGAN SEDIKIT BERBISIK.

Tapi anda harus ingat, ketika anda meminta bantuan dari saya. Anda harus tutup mulut dan cukup saya yang menyelesaikannya. Anda harus bisa berkerja sama dan menjaga rahasia. Supaya kita sama-sama aman. Sama-sama nyaman.

(Bercerita) Pernah suatu hari, seorang klien datang kepada saya membawa sebuah masalah, masalahnya sih tidak terlalu besar namun rumit. Dan masalah itu hampir memecahkah kepala saya, ingat baru hampir belum pecah. Saya kalang kabut mencari jalan keluar, sudah saya putar otak saya tujuh keliling saya berpikir, siang malam terus saya berpikir namun jalan keluarnya tidak dapat. Bagaimana mau dapat. kalau saya ambil jalan kiri saya yang mati, saya ambil jalan kanan klien saya kena hukuan, kalau jalan pintas wah bisa-bisa reputasi saya jadi rusak.

Aneh padahal selama ini masalah sebesar apapun dapa saya pecahkan, tapi tidak dengan ini. Beberapa hari kemudina klien itu menelpon saya dan tetap memaksa saya untuk membantunya, padahal sudah saya katakan cari advokat yang lain saja. Saya tak sanggup. Namun dia tetap bersikeras. Ibaratkan sidang kali itu mnemui deadlock atau jalan buntu.

Saya tak bisa berpikir lagi, saya menyerah dan akhirnya orang itu pun menyerah. Namun ditengah keputus asaan itu. Saya, saya merasa sangat takut begitu takut, saya sangat takut kepada penyakit yang selama ini sudah menjadi wabah dimasyarakat kita yaitu demam KORUPSI. saya takut dibilang menjadi nyamuk koruptor. Nanti salah-salah saya terseret kepada kasus yang diselidiki oleh KPK. Saya takut.
Saya berpikir sendiri, lebih keras lagi dan lebih dalam lagi, rasanya KPK tidak begitu menyeramkan. Saya kembali teringat kepda kasus-kasus yang dialamai oleh kawan-kawan saya dan para mantan klien saya. Yang sampai diseret dan disorot kemedia masa dan didemo oleh masyarakat mahasiswa dan siapa saja.

Waduh bisa gawat ini, aduhhh tolong saya. Bagaimnana ini. Saya takut kepada KPK tapi saya lebih takut kepada yang namanya mahasiswa. Sebab mereka itu adalah musuh yang tak diperhitungkan sama sekali. Musuh yang kecil, supel dan sangat tidak tau aturan. Tak terlihat, Tapi saya akui mereka itu hebat dan luar biasa. Tolong saya. Tolong.

Ampuni saya, jangan saya diturunkan, tolong…(terdengar suara gemuruh demo dan mahasiswa) nah suara apakah itu.
Ahhhh itukah suara mahasiswa itu.  Aku takut lebih baik aku menyelamatkan diri dan keluar segera dari tempat ini. Ya labih baik aku keluar saja. Nah saudara-saudara sebelum saya terlambat saya hanya berpesan jaga diri kalian baik-baik. Saya tidak akan terlibat dan saya akan pergi. Tapi nanti bila saatnya tiba saya akan kembali lagi. Selamat Tinggal saya tidak akan terlibat . Tidak akan.

TUUH KELUAR DARI PANGGUNG, TIHANG BENDERA ITU TERJATUH DAN LAGU SUMPAH MASISWA MEMBAHANA.

Pade Out.
Lampu padam

(Ditulis untuk mengenang gerakan kalian, dalam diriku, terus bergerak dan kuatkan barisan kalian).

Martapura-Tanjung 15 Oktober 2012

NASKAH PERGELARAN SASTRA "DI Sebuah Makam" Karya HIJAZ YAMANI



DI SEBUAH MAKAM
Karya : Hijaz Yamani
Di Skenariokan Oleh : Hadani Had

Dramatik Personal
1.      Tokoh Ibu
2.      Tokoh Anak
3.      Tokoh Ayah
4.      Narator
5.      Naratis
6.      Orang-Orang
7.      Pejuang-Pejuang

SETTING BEBAS [DISESUAIKAN DENGAN SELERA DAN KEBUTUHAN GARAPAN].
INTRODUKSI/PEMBUKAAN
PADE IN
LAMPU MERAH MENYALA MENYINARI CENTRAL. DIIRINGI ALUNAN MUSIK KEPEDIHAN DAN LAGU GUGUR BUNGA.
TOKOH-TOKOH MASUK KE PANGGUNG DENGAN MENGGOTONG MAYAT (PROSESI PEMAKAMAN MAYAT) TAHLIL MENGIRINGI, SUARA TANGIS, LAGU GUGUR BUNGA. SUASA DI BENTUK SAKRAL. LALU LAMPU BERANGSUR-ANGSUR NETRAL, NAMUN REDUP.

Narator 1         : (Keluar dari kerumunan)
Seorang perempuan dan bocah lima tahun
menunduk di sebuah maqam
ditimur lembah

IBU DAN ANAK ITU MENANGIS, PARA PELAYAT MENTAKZIAHI MEREKA DAN INGIN MENABUR BUNGA

Naratis 1         : (Keluar dari kerumunan)
Bunga-bunga belum ditaburkan, sebab masih
tergenggam ditangannya, gemetar

PROSESI PEMAKAMAN PUN DILANGSUNGKAN, SAMPAI DO’A PUN DIBACAKAN

Orang 1           : Bibir pun belum mengucapkan do’a

Orang 2           : Di balik hatinya yang gemetar
 ia tanyakan jantung hatinya jauh di sana
ORANG-ORANG MENYABARI IBU.

Tokoh Ibu       : “kaukah ini yang baru di tunjukkan orang?”

PROSESI PEMAKAMAN PUN BERAKHIR, TOKOH-TOKOH DAN ORANG-ORANG MENINGGALKAN PEMAKAMAN, LALU KEMUDIAN SI BOCAH INGIN LARI MEMELUK MAKAM SANG AYAH, NAMUN CEPAT IBU MENYAMBAR ANAK

Narator 3         : Si bocah mata beningnya menatap

Narator 4         : tangan ibunya yang gemetar

Narator 1         : dan hatinya putih memantulakan
                          kelembapan wajah itu.

KEMUDIAN MASA BERBALIK KE LIMA TAHU SEBELUM ANAK LAHIR, BOCAH DI GULUNG DENGAN TISSU. MENANDAKAN SEOLAH-OLAH DI DALAM LAHIR, KEMUDIAN LAHIRAN PUN DILAKSANAKAN.

Koor                : Lima tahun yang lalu

Orang 1           : Ketika Bumi belum di jamahnya

Orang 1           : Sebab si mini dalam sangkar dunia miniatur
                          dalam manusia

DI SPACE LAIN, PARA PAHLAWAN SEDANG BERPERANG DAN DENGAN KE SEMERAUTAN PERANG, KEMUDIAN LELAKI DI PANGGIL UNTUK DATANG KE PANGKUAN ISTRINYA YANG TENGAH MELAHIRKAN

Narator            : Sedang diluar, bumi bergetar
                          dan revolusi yang membunuh dan di bunuh

PEJUANG ITU DI CULIK DARI ISTRINYA, INGIN DI BUNUH, LELAKI ITU MELAWAN, KEMUDIAN DISERET

Naratis             : memisahkan pula lelaki
                          dengan perempuan kesayangannya

ORANG-ORANG MENARI SEOLAH HUJAN TURUN, KESEDIHAN MENYELIMUTI PADA MALAM HARI.

Koor                : (sambil gerak ritmis)
                           Dan malam itu bulan sepotong
                           dan salau, gerimis pun turun
                           memapak tagis pendatang yang pertama

LELAKI ITU PUN AKHIRNYA DI BUNUH DAN MATI ENGELEPAR, MERAYAP MENDATANGI ISTRINYA YANG TERKULAI LEMAH

Narator, Naratis : Di Timur Sana

Koor                   : Letusan menyusur lembah
                             seorang lelaki rebah

Pade Out
LELAKI ITU MATI, LAMPU MERAH MENYALA. MENYOROT.
KEMUDIAN PROSESI PEMAKAMAN DI LAKUKAN LAGI, MENGUBURKAN LELAKI ITU DI TABURI BUNGA.

LAMPU PADAM
--------------- Selesai ----------------

Tanjung, 08 November 2012.


ADIBINTANG

SYAIR : HIDUP NYAMAN BARARAKATAN

SYAIR : HIDUP NYAMAN BARARAKATAN Hadani Had Biar haja kita ngini babida-bida Suku, agama wan bahasa babida Tagal kita harus rukun nang ada K...

POPULER